Menkominfo Lindungi 4 Sektor Strategis dari Serangan Ransomware Petya

Kementerian Komunikasi dan Informatika sejauh ini belum menerima laporan adanya korban serangan ransomware Petya di Indonesia. Walau demikian, sejumlah langkah antisipasi telah dilakukan regulator telekomunikasi dan keamanan informasi tersebut untuk meredam jumlah korban Petya. Perlindungan ekstra juga diberikan Kemkominfo kepada empat sektor strategis di Indonesia dari serangan Petya. Keempat sektor itu meliputi telekomunikasi, keuangan dan perbankan, sektor transportasi dan daya dukung transportasi, serta sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM). Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, berkata dirinya telah berkomunikasi langsung dengan para pemimpin usaha di empat sektor tersebut, terkait langkah pencegahan infeksi ransomware Petya pada sistem jaringan komputer organisasi. "Saya sudah komunikasikan dengan Direktur Utama Garuda dan PT Angkasa Pura saya kirim (pesan) langsung, sosialisasi. Itu untuk sektor perhubungan, apalagi lagi mudik kan sekarang. Lalu di sektor keuangan dan perbankan, saya hubungi Otoritas Jasa Keuangan dan Direktur Utama Bank Mandiri. Lalu Energi, pada Selasa malam kita komunikasikan ke Pertamina," kata Rudiantara dalam jumpa pers langkah pencegahan ransomware Petya di Jakarta, Jumat (30/6).
Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII), selaku lembaga di bawah Kemkominfo yang bertugas mengawasi dan mengatasi masalah keamanan pada infrastruktur Internet Indonesia, juga telah mengirim peringatan kepada pihak-pihak yang bekerja dengan Kemkominfo, termasuk penyelenggara jasa Internet, Penyelenggara NAP (Network Access Point), sampai perusahaan telekomunikasi. Saat menerima peringatan tersebut, kata Rudiantara, beberapa pihak kementerian merespons dengan melalukan pencadangan data penting organisasi sebagaimana yang diimbau Kemkominfo sebelumnya. "Keuangan, perbankan, transportasi udara, energi, listrik dan sebagainya, Kemkominfo punya data tentang itu. Akan kita kembangan nanti pada sektor lainnya, namun notifikasi utama diberikan pada keempat sektor itu, di antaranya yaitu sektor ICT seluler, semua operator internet, NAP, Navindo, dan lainnya," jelas Rudiantara.

Modus kejahatan Petya sama seperti ransomware pada umumnya, yaitu mengunci dokumen pada komputer dan meminta bayaran kepada korban. Biaya tebusan itu sebesar 300 dolar AS yang harus ditransfer dalam bentuk Bitcoin. Kemudian, korban juga diminta mengirim email ke wowsmith123456@posteo.net untuk mengkonfirmasi pembayaran uang tebusan. Peretas juga berjanji akan memberikan kode unik untuk mengembalikan dokumen tersebut ke korban--yang nyatanya tidak akan dikembalikan. Dalam jumpa pers ini, Kemkominfo juga memberi arahan kepada pegawai perusahaan swasta dan lembaga pemerintah, agar waspada ketika menyalakan komputer kantor di hari Senin depan, 3 Juli 2017. Secara umum, Rudiantara mengarahkan agar warga dan para pegawai disiplin dengan empat hal ini di komputer mereka, yaitu (1) rajin mem-backup data di komputer, (2) rajin memperbarui anti-virus, (3) gunakan sistem operasi dan peranti lunak orisinal dan terus diperbarui, dan (4) secara teratur memperbarui password atas akun-akun penting. Khusus untuk mencegah Petya bagi warga dan pegawai kantoran, Kemkominfo telah memberi panduan teknis yang disajikan dalam bentuk gambar.



Jangan Bayar Tebusan Wakil Ketua ID-SIRTII Bidang Data Center, Bisyron Wahyudi, mengimbau warga atau korban Petya agar tidak membayar uang tebusan karena kode unik untuk membuka kembali dokumen yang terkunci oleh Petya, adalah bohong belaka dan cuma akal-akalan untuk memeras korban. "Jangan panik dan jangan bayar (tebusan). Jangan tertipu. Setelah ini ada email palsu juga yang seolah membantu ketika sudah dibayar, tapi itu semua tidak bisa dilakukan," kata Bisyron. Serangan masif Petya diketahui terjadi pada Selasa, 27 Juni 2017, dan dengan cepat menyebar ke berbagai belahan dunia. Lima negara yang kena dampak terbesar Petya adalah Ukraina, Amerika Serikat, Rusia, Prancis, dan Inggris.
Petya sendiri punya nama lain NotPetya dan GoldenEye. Ia telah ditemukan sejak 2016 lalu. Namun, Petya yang kali ini adalah program jahat yang telah ditulis ulang oleh si peretas sehingga ia masuk kategori program wiper, yang punya tujuan merusak, atau bahkan menghancurkan data yang ada di media penyimpanan komputer. Si penjahat atau peretas kemudian mengemas Petya seolah-olah adalah ransomware atau virus penyandera data. Petya menjanjikan akan memberikan kode unik untuk membuka kunci dokumen yang terenkripsi. Tetapi menurut analisis yang dilakukan oleh Kaspersky, sekalipun Petya memberikan kode unik itu, maka sejatinya itu hanyalah kode acak biasa. Data Kaspersky jadi berita buruk untuk korban, karena walaupun mereka telah membayar uang tebusan, si penjahat tidak akan mengembalikan datanya. Analisis ini turut memperkuat anggapan bahwa penjahat Petya bukan hanya termotivasi oleh keuntungan finansial, tetapi juga ingin merusak sistem komputer korban.
