Meta Gandeng Midjourney Bikin Model Gambar dan Video AI
·waktu baca 2 menit

Meta resmi menggandeng Midjourney dalam kesepakatan lisensi teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk gambar dan video generatif. Pengumuman ini disampaikan Chief AI Officer Meta, Alexandr Wang.
Dalam kolaborasi ini, tim riset Meta akan bekerja sama dengan Midjourney untuk mengintegrasikan teknologi startup tersebut ke dalam model dan produk AI masa depan.
"Untuk memastikan Meta mampu menghadirkan produk terbaik bagi masyarakat, dibutukan pendekatan yang menyeluruh," ujar Wang dalam postingannya di akun Threads. "Ini berarti talenta kelas dunia, peta jalan komputasi yang ambisius, dan kerja sama dengan para pemain terbaik di industri ini."
Kemitraan ini dipandang strategis bagi Meta untuk bersaing dengan model AI gambar dan video terdepan, seperti Sora dari OpenAI, Flux dari Black Forest Lab, dan Veo dari Google. Meta sendiri sudah meluncurkan Imagine, alat generasi gambar AI yang diintegrasikan ke Facebook, Instagram, dan Messenger, serta Movie Gen, generator video berbasis teks, pada tahun lalu.
Langkah menggandeng Midjourney menambah deretan strategi agresif Meta dalam perebutan dominasi AI. Tahun ini saja, CEO Meta Mark Zuckerberg sudah menggelontorkan investasi besar, mulai dari akuisisi startup suara Play AI, investasi 14 miliar dolar AS di Scale AI, hingga perekrutan peneliti dengan paket kompensasi hingga 100 juta dolar AS.
Meski detail nilai kerja sama dengan Midjourney tidak diungkapkan, CEO Midjourney David Holz menegaskan perusahaannya tetap independen tanpa investor eksternal.
Midjourney resmi berdiri pada 2022 lalu, dan kini menjadi salah satu pengembang model AI terkemuka dengan pendapatan diperkirakan mencapai 200 juta dolar AS pada 2023, menurut laporan Tech Crunch. Startup ini menawarkan layanan berlangganan mulai dari 10 hingga 120 dolar AS per bulan, serta merilis model video pertamanya, V1, pada Juni lalu.
Namun, kolaborasi ini muncul di tengah gugatan hukum. Disney dan Universal menuduh Midjourney melatih model AI menggunakan karya berhak cipta tanpa izin pada Juni 2025. Meski demikian, sejumlah kasus hukum terbaru menunjukkan kecenderungan pengadilan berpihak pada perusahaan teknologi.
