Kumparan Logo

NASA Punya Teknologi Pendeteksi Korban Gempa yang Terjebak Reruntuhan

kumparanTECHverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Alat pendeteksi korban bencana yang terjebak reruntuhan, dibuat oleh NASA (Foto: NASA)
zoom-in-whitePerbesar
Alat pendeteksi korban bencana yang terjebak reruntuhan, dibuat oleh NASA (Foto: NASA)

NASA, Badan Antariksa Amerika Serikat, memiliki alat yang bisa digunakan untuk menemukan korban bencana alam, termasuk gempa, yang tertimbun reruntuhan bangunan. Namun, alat ini hanya bisa dipakai untuk menemukan korban yang masih hidup.

Alat buatan NASA itu bernama Finder yang merupakan singkatan dari "Finding Individuals for Disaster and Emergency Response". Finder adalah alat sejenis radar berukuran koper yang mampu mendeteksi detak jantung manusia di bawah reruntuhan bangunan.

Teknologi ini dikembangkan oleh Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, Pasadena, California, serta Direktorat Sains dan Teknologi Departemen Keamanan Dalam Negeri di Washington.

Task Manager untuk proyek Finder di JPL, James Lux menjelaskan alat Finder dilengkapi dengan kamera dan perangkat pendeteksi suara. Perangkat Finder memiliki bobot kurang dari 9 kilogram, sehingga dapat dengan mudah dibawa dengan mobil atau pesawat.

"Finder adalah alat yang dilengkapi metode pencarian lainnya, seperti perangkat pendengaran dan kamera, yang digunakan oleh responden pertama," ujar Lux, dalam situs resmi NASA.

Alat pendeteksi korban bencana yang terjebak reruntuhan, dibuat oleh NASA (Foto: NASA)
zoom-in-whitePerbesar
Alat pendeteksi korban bencana yang terjebak reruntuhan, dibuat oleh NASA (Foto: NASA)

Finder akan mengirimkan sinyal refleksi bertenaga rendah ke dalam puing reruntuhan, kemudian sinyal tersebut akan mendeteksi gerakan kecil seperti napas dan detak jatung. Dalam pengujian, Finder telah mendeteksi detak jantung hingga ke dalam 6 meter hingga 9 meter menembus beton padat.

Seorang operator Finder akan menggunakan laptop yang menjalankan perangkat Finder, untuk menentukan kisaran minimum dan maksimum untuk mendeteksi detak jantung di sekitarnya. Perangkat lunak Finder dapat membedakan antara detak jantung manusia dengan hewan atau perangkat mekanis.

Alat pendeteksi korban bencana yang terjebak reruntuhan, dibuat oleh NASA (Foto: NASA)
zoom-in-whitePerbesar
Alat pendeteksi korban bencana yang terjebak reruntuhan, dibuat oleh NASA (Foto: NASA)

Sejak 2015, NASA telah memberikan lisensi ke banyak perusahaan swasta yang ingin menggunakan alat ini untuk membawanya ke zona bencana. Alat Finder telah digunakan untuk membantu korban di daerah bencana seperti gempa Nepal, badai Maria di Puerto Rico, hingga gempa di Meksiko tahun 2017 lalu.

Dalam situasi bencana alam seperti gempa bumi, tsunami dan longsor, waktu adalah segalanya. Korban yang lebih cepat dapat ditemukan, dapat dibawa ke tempat yang aman untuk mendapatkan perawatan medis.

Alat pendeteksi korban bencana yang terjebak reruntuhan, dibuat oleh NASA (Foto: NASA)
zoom-in-whitePerbesar
Alat pendeteksi korban bencana yang terjebak reruntuhan, dibuat oleh NASA (Foto: NASA)

Indonesia baru saja dilanda bencana besar di Sulawesi Tengah. Gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang kawasan Donggala, Palu, dan sekitarnya pada Jumat (28/9). Akibat bencana itu, infrastruktur luluh lantak dan gelombang tsunami menyapu kawasan bibir pantai kota Palu dan Mamuju.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data jumlah korban bencana tersebut telah mencapai 1.234 jiwa yang meninggal dunia. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah, seiring pencarian yang dilakukan oleh tim gabungan.

Diperkirakan banyak korban yang terjebak reruntuhan bangunan yang ambruk akibat gempa dan juga terbawa arus tsunami. Mungkin dengan alat buatan NASA ini bisa membantu evakuasi korban bencana alam di Donggala dan Palu.