Kumparan Logo

NVIDIA Kembali Boleh Jualan Chip AI di China, Dapat Restu Donald Trump

kumparanTECHverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jensen Huang, CEO Nvidia. Foto: Rick Wilking/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Jensen Huang, CEO Nvidia. Foto: Rick Wilking/Reuters

CEO NVIDIA, Jensen Huang, mengumumkan bahwa pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump telah memberikan izin kepada perusahaan untuk menjual lagi prosesor kecerdasan buatan (AI) ke China. Cip komputer yang dimaksud adalah H20, yang dirancang untuk pengembangan AI.

Pengumuman ini disampaikan melalui blog resmi NVIDIA pada Senin (14/7) malam waktu setempat, diikuti oleh pernyataan Huang dalam wawancara dengan media pemerintah China, CGTN.

Huang mengatakan pemerintah AS telah memberikan jaminan bahwa lisensi ekspor akan dikeluarkan. Perusahaan berharap dapat segera mulai pengiriman.

Hari ini, saya mengumumkan bahwa pemerintah AS telah menyetujui pengajuan lisensi bagi kami untuk mulai mengekspor H20 (ke China).

- Jensen Huang, CEO NVIDIA -

"Di China, hal ini sangat inovatif dan dinamis sehingga sangat penting bagi perusahaan Amerika untuk dapat bersaing dan melayani pasar di sini," kata Huang, sembari menambahkan setengah dari ilmuwan AI dunia ada di China, mengutip Associated Press, Rabu (16/7).

Kantor perusahaan Nvidiadi Taiwan. Foto: AlmondYue/Shutterstock

Huang saat ini berada di Beijing, China, untuk menghadiri China International Supply Chain Expo, di mana NVIDIA menjadi salah satu peserta pameran. Ia juga tampak bertemu dengan pejabat tinggi China Ren Hongbin dari Dewan Promosi Perdagangan Internasional China.

H20 sendiri merupakan GPU (graphic processing unit), chip AI yang digunakan untuk membangun sistem kecerdasan buatan. Meski bukan cip tercanggih NVIDIA, H20 tetap penting dalam memenuhi kebutuhan pasar AI China yang terus berkembang.

Sebelumnya, pemerintah AS mengumumkan pembatasan penjualan chip H20 NVIDIA ke China, termasuk chip MI308 milik AMD, pada April 2025 lalu karena alasan keamanan nasional. Pembatasan ini diperkirakan akan merugikan NVIDIA hingga 5,5 miliar dolar AS.