Kumparan Logo

OJK: Kerugian Akibat Scam Capai Rp 7,1 T, Memberantasnya Perlu Kolaborasi dan AI

kumparanTECHverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Satgas PASTI OJK Hudiyanto menjadi pemateri panel pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Satgas PASTI OJK Hudiyanto menjadi pemateri panel pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

OJK mencatat laporan kerugian akibat scam atau penipuan digital mencapai nilai fantastis. Kerugian akibat penipuan scam dan fraud mencapai Rp 7,1 triliun per hari ini, Kamis (23/10). Padahal, pada pekan lalu mencapai Rp 6,1 triliun.

OJK telah memblokir 94 ribu rekening yang terlibat dalam scam atau penipuan digital. Hudiyanto, Ketua Sekretariat Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI), OJK tak menampik kejahatan ini begitu terorganisir dan bergerak profesional.

"Dari Rp 7 triliun yang dilaporkan, kita sudah blokir Rp 376 miliar dari situ,” tutur Hudi dalam gelaran kumparan AI for Indonesia 2025, Kamis (23/10).

“Kita sedang melawan penjahat profesional. Kita pasti kalah jika tak berkolaborasi dan bersinergi,” tambahnya.

Hudiyanto mengatakan Satgas PASTI bekerja sama dengan sejumlah instansi mulai dari Bank Indonesia (BI), BSSN, perbankan hingga penegak hukum dalam memburu para pelaku scam dan fraud digital.

Namun, kerja sama dengan instansi dan lembaga itu saja tidaklah cukup. Perlu ada kolaborasi lebih luas dengan pihak swasta dalam menyediakan proteksi membendung scam.

“Bantu kami, memanfaatkan AI untuk kebaikan. Kita lawan AI (jahat) dengan AI (baik),” kata Hudiyanto.

Founder & Group CEO VIDA Niki Luhur memberikan pemaparan saat sesi The Plaiground pada acara kumparan AI for Indonesia 2025 di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Di sisi platform penyedia sistem keamanan identitas digital, VIDA turut menyoroti maraknya aktivitas penipuan digital. Para penjahat ini mengincar celah lemahnya proteksi identitas digital seseorang.

Ditambah belum lagi saat ini banyak tools AI yang mampu membuat video dengan objek menyerupai manusia, dibuat untuk menipu sampai menguras uang di rekening seseorang.

“Kita ingin meningkatkan awareness bahwa ini masalah yang kita harus menghadapi bersama-sama. Tidak mungkin satu perusahaan bahkan satu kementerian (saja bisa) mengatasi masalah ini sendirian,” kata Niki Luhur, Founder & Group CEO, VIDA.

“Harus ada kolaborasi yang sangat kuat. Mudah-mudahan dengan kolaborasi sosial dengan kelompok media juga kita bisa meningkatkan awareness dan kita bisa menjegah masalah-masalah scam seperti ini (terjadi di masa) depan.”