Kumparan Logo

OpenAI Luncurkan Astra, Model AI Terkuat yang Menuai Kontroversi

kumparanTECHverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
OpenAI memperkenalkan model AI terbaru, Astra yang diklaim paling kuat sejauh ini. Foto: OpenAI
zoom-in-whitePerbesar
OpenAI memperkenalkan model AI terbaru, Astra yang diklaim paling kuat sejauh ini. Foto: OpenAI

OpenAI resmi meluncurkan Astra, model kecerdasan buatan terbaru yang diklaim sebagai teknologi paling kuat dan mumpuni yang pernah dikembangkan perusahaan tersebut. Model ini dirancang untuk mengubah cara manusia berinteraksi dengan komputer dan web, dengan peningkatan kemampuan dalam kecepatan, akurasi, serta keamanan.

Namun, di balik peningkatan kemampuan tersebut, kehadiran Astra langsung memicu perdebatan di kalangan peneliti dan pengamat industri. Salah satu sumber kontroversinya adalah metode penalaran baru yang digunakan model tersebut, yang dinilai dapat menyulitkan proses pengawasan dan audit terhadap cara AI mengambil keputusan.

Fokus pada Keamanan Siber dan Pemrograman

OpenAI untuk pertama kalinya menyediakan Astra bagi pelanggan yang menggunakan layanan keamanan siber Daybreak. Akses tersebut kemudian akan diperluas kepada pelanggan berbayar, termasuk pengguna paket Pro dan Plus, serta pelanggan Enterprise dan Business. OpenAI juga berencana menyediakan model tersebut melalui antarmuka pemrograman aplikasi.

Kemampuan Astra di bidang keamanan siber menjadi salah satu fokus utama pengembangannya. OpenAI mengklaim telah menguji model tersebut menggunakan berbagai tolok ukur keamanan untuk mengukur kemampuannya dalam menemukan dan menganalisis kerentanan sistem.

Salah satu kemampuan yang menjadi perhatian adalah potensi model untuk mengidentifikasi maupun mengembangkan eksploitasi terhadap celah keamanan yang belum diketahui atau zero-day. Teknologi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan praktisi keamanan untuk menemukan kelemahan sistem lebih awal sehingga dapat diperbaiki sebelum dieksploitasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Selain keamanan siber, kemampuan pemrograman juga menjadi salah satu keunggulan utama Astra. OpenAI menyebut model tersebut sebagai sistem terbaik yang mereka miliki untuk pekerjaan rekayasa perangkat lunak.

Dalam pengujian internal, Astra diklaim mampu mengungguli sejumlah model sebelumnya, termasuk Sol dari OpenAI dan Fable dari Anthropic. Pengujian tersebut mencakup kemampuan mendeteksi bug, menjalankan perintah melalui terminal, serta menjawab pertanyaan teknis yang berkaitan dengan basis kode.

Presiden OpenAI, Greg Brockman, mengatakan Astra merupakan hasil dari riset yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun. Menurutnya, peningkatan kemampuan model AI membuat semakin banyak pekerjaan kompleks yang sebelumnya membutuhkan intervensi manusia dapat didelegasikan kepada sistem kecerdasan buatan.

Brockman juga menggambarkan Astra sebagai model OpenAI yang paling cerdas sekaligus paling selaras dengan kebutuhan dan keinginan pengguna hingga saat ini.

Metode Penalaran Opaque Recurrence Picu Kekhawatiran

Di balik peningkatan kemampuannya, Astra juga memunculkan kekhawatiran terkait metode penalaran yang disebut opaque recurrence. Teknik tersebut dinilai dapat membuat proses penalaran internal model menjadi lebih sulit dipantau.

Persoalan ini berkaitan dengan konsep chain of thought atau alur berpikir. Bagi peneliti, kemampuan memantau proses penalaran AI penting untuk memahami bagaimana model menghasilkan suatu keputusan, sekaligus mengidentifikasi potensi kesalahan maupun perilaku yang tidak diinginkan.

OpenAI untuk pertama kalinya menyediakan Astra bagi pelanggan yang menggunakan layanan keamanan siber Daybreak. Foto: OpenAI

OpenAI berupaya meredam kekhawatiran tersebut. Kepala Ilmuwan OpenAI, Jakub Pachocki, mengakui bahwa peningkatan kemampuan model justru membuat proses pengawasan menjadi semakin kompleks.

Menurut Pachocki, semakin canggih sebuah model, semakin sulit pula bagi manusia untuk memantau seluruh proses yang berlangsung di balik sebuah keluaran. Model dengan kemampuan lebih tinggi dapat menyelesaikan tugas-tugas kompleks menggunakan lebih sedikit token bahasa, bahkan dalam beberapa kasus tanpa menghasilkan rangkaian token bahasa yang panjang untuk menunjukkan proses penalarannya.

Kondisi tersebut pada akhirnya membuat peneliti eksternal memiliki lebih sedikit informasi untuk mengaudit proses internal model secara langsung. Di sinilah muncul kekhawatiran mengenai keseimbangan antara kemampuan AI yang semakin tinggi dan transparansi yang dibutuhkan untuk memastikan teknologi tersebut tetap aman.

Pachocki menyatakan bahwa tantangan pemantauan merupakan konsekuensi dari perkembangan kemampuan model yang semakin pesat. Menurutnya, pengawasan tetap menjadi aspek penting, tetapi pendekatan yang digunakan untuk mengawasi model juga harus berkembang seiring dengan meningkatnya kemampuan AI.

Apakah Astra Menandai Era AGI?

Kemampuan Astra yang disebut jauh melampaui model AI sebelumnya juga kembali memunculkan pertanyaan mengenai Artificial General Intelligence (AGI).

Secara umum, AGI merujuk pada konsep AI yang memiliki kemampuan intelektual sangat luas dan mampu menjalankan beragam tugas pada tingkat yang sebanding atau melampaui manusia, bukan sekadar unggul pada satu bidang tertentu.

Greg Brockman tidak secara resmi menyatakan bahwa Astra merupakan AGI. Namun, ia memberikan pandangan yang cukup terbuka mengenai seberapa dekat perkembangan teknologi saat ini dengan konsep tersebut.

Brockman mengatakan bahwa makna AGI telah mengalami perubahan, dari konsep yang sebelumnya berkaitan erat dengan kewajiban kontraktual OpenAI menjadi sesuatu yang lebih luas dalam konteks misi perusahaan.

Pernyataan tersebut berkaitan dengan perubahan dalam hubungan OpenAI dan Microsoft. Sebelumnya, kesepakatan kedua perusahaan memuat ketentuan yang mengaitkan pencapaian AGI dengan struktur kerja sama mereka. Setelah ketentuan tersebut berubah, perdebatan mengenai definisi dan indikator AGI pun menjadi semakin terbuka.

Brockman sendiri tidak memberikan label formal terhadap Astra. Namun, ia menyatakan secara pribadi bahwa perkembangan teknologi saat ini telah membawa industri ke titik yang menurutnya dapat dianggap sebagai pencapaian AGI.

“Bagi saya pribadi, saya rasa kita sudah sampai di sana,” ujar Brockman.