Oppo Buka Suara Soal Kalah dari Vivo Kuasai Pasar HP Indonesia
ยทwaktu baca 3 menit

Brand smartphone, Oppo harus mengakui kekalahan dari Vivo yang duduk manis merajai pasar ponsel di Indonesia menurut laporan Canalys pada kuartal III 2021. Meski begitu, Oppo anggap santai laporan tersebut dan tidak menjadikan beban untuk menggeser Vivo.
PR Manager Oppo Indonesia, Aryo Meidianto, menjelaskan data yang digunakan lembaga riset Canalys tidak cocok dengan data yang menjadi acuan perusahaan soal market share di Indonesia. Oleh karenanya, Oppo tidak ambil pusing dengan data yang dikeluarkan Canalys.
"Laporan itu memakai data sell out atau penjualan. Lembaga riset itu sudah berbicara dengan saya dan datanya itu memang tidak akan pas. Karena data kita adalah data terjual, sementara data mereka data impor," kata Aryo dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (18/11).
Sebagai informasi, Canalys menganalisa peta persaingan brand smartphone di Indonesia dengan menggunakan data sell in shipment, maksudnya unit smartphone yang sudah dikapalkan atau dijual ke pihak distributor dan retail atau toko. Data ini bisa 'dimainkan' dengan memasukkan data unit impor yang dilakukan brand ponsel untuk meningkatkan market share.
Sementara, ada metode analisa lainnya yang disebut sell out shipment. Data ini menghitung jumlah unit ponsel yang dijual ke end user atau pengguna yang membeli produk tersebut. Data ini yang menjadi pegangan Oppo untuk strategi penguasaan pasar di Indonesia.
Kalo kita menyalip mereka (Vivo) berarti kita harus impor lebih banyak. Buat apa karena kita memiliki pabrik yang cukup besar di Indonesia. Jadi tidak ada strategi untuk membesar-besarkan data impor.
- Aryo Meidianto, PR Manager Oppo Indonesia
Laporan Canalys pada kuartal III di Indonesia, Vivo mencatat market share 23 persen dari total 9.3 juta unit unit ponsel yang dikapalkan. Vivo mampu mengalahkan raja sebelumnya, Xiaomi.
Selanjutnya di posisi kedua masih diduduki Oppo dengan penguasaan pasar 22 persen atau meningkat 2 persen dari periode sebelumnya. Di peringkat ketiga, ada Samsung yang menguasai pasar 18 persen dan menjadi satu-satunya vendor yang tercatat tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (annual growth) positif sebesar 7 persen.
Xiaomi harus terima kenyataan terlempar jauh ke posisi empat dengan market share 16 persen. Bernasib sama, Realme berada di posisi lima dengan penguasaan pasar 12 persen.
Penjualan Oppo di tahun 2021 catatkan angka positif
Aryo menjelaskan penjualan secara keseluruhan Oppo di tahun 2021 mencatatkan angka positif. Menurutnya dibanding tahun 2020 lalu, ada kenaikan 5 sampai 8 persen.
"Awal pandemi dengan hanya tersedia HP flagship Oppo Find X2 Pro sangat tidak menguntungkan, tapi lambat laun naik dengan hadirnya perangkat lain yang segmennya lebih luas, yaitu A53. Itu yang menolong kita," tuturnya.
Sementara sepanjang tahun 2021, penjualan Oppo jauh lebih baik. Adanya PPKM dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) membantu penjualan unit HP Oppo. Sementara, produk yang menyumbang pemasukan Oppo paling besar, di antaranya Oppo Reno 6 4G, Oppo A16, dan Oppo 53.
"Kita tidak bisa tutup mata di range harga Rp 2 juta hingga Rp 3 juta paling besar di Oppo. Di pandemi itu HP layar besar dan baterai besar banyak dicari," pungkas Aryo.
