Pemerintah AS Bela OpenAI dalam Sengketa Hak Cipta Pelatihan AI

Pemerintah Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump ikut campur dalam sengketa hak cipta antara The New York Times dan OpenAI. Departemen Kehakiman AS (DOJ) mengajukan brief setebal 20 halaman yang mendukung posisi OpenAI bahwa penggunaan materi berhak cipta untuk melatih Large Language Model (LLM) dapat dilindungi doktrin fair use.
Dalam dokumen tersebut, pemerintah AS menilai penggunaan materi berhak cipta untuk melatih AI merupakan persoalan penting bagi perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, keamanan nasional, dan daya saing ekonomi Amerika Serikat.
Pemerintah AS juga memperingatkan bahwa interpretasi hak cipta yang terlalu ketat dapat menghambat pengembangan AI di AS dan memberikan keuntungan kepada perusahaan teknologi besar yang memiliki kemampuan finansial untuk membayar lisensi konten dalam jumlah besar.
Intervensi pemerintah AS ini tidak menentukan hasil gugatan. Namun, langkah tersebut menjadi perkembangan penting dalam perdebatan mengenai batas penggunaan karya berhak cipta sebagai data pelatihan AI.
Pemerintah AS Anggap Pelatihan AI sebagai Fair Use
Dalam brief-nya, pemerintah AS menyatakan memiliki kepentingan besar untuk mempertahankan industri AI yang kompetitif dan kepemimpinan Amerika Serikat dalam teknologi tersebut.
Pemerintah merujuk pada perintah eksekutif yang ditandatangani Trump pada tahun sebelumnya dan menekankan pentingnya mempertahankan posisi AS sebagai pemimpin global di bidang AI.
Menurut pemerintah, pembatasan terhadap pengembangan LLM berdasarkan interpretasi fair use yang terlalu sempit dapat menghambat kemajuan kreatif dan ilmiah serta mengurangi daya saing ekonomi AS.
Posisi tersebut secara langsung mendukung argumen utama OpenAI dalam menghadapi gugatan The New York Times. OpenAI berpendapat bahwa proses pelatihan AI menggunakan karya yang tersedia secara publik merupakan penggunaan yang bersifat transformatif.
Artinya, model tidak sekadar membuat salinan dari materi sumber, tetapi memproses informasi tersebut untuk mempelajari pola bahasa dan menghasilkan respons baru. Namun, apakah penggunaan tersebut benar-benar memenuhi unsur fair use tetap menjadi persoalan yang harus diputuskan pengadilan.
Gugatan The New York Times terhadap OpenAI
The New York Times menggugat OpenAI dan Microsoft pada Desember 2023. Media tersebut menuduh perusahaan AI menggunakan jutaan artikel milik The Times tanpa izin untuk mengembangkan teknologi AI, termasuk ChatGPT.
The Times juga menilai keluaran chatbot dapat menghasilkan kembali bagian-bagian dari artikel mereka dan berpotensi bersaing dengan produk jurnalistik asli.
Perselisihan tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu perkara hak cipta paling penting di industri AI. Putusannya berpotensi memengaruhi hubungan antara perusahaan AI dengan penerbit, penulis, dan pemegang hak cipta lainnya.
The New York Times menolak posisi pemerintah AS. Media tersebut menilai pemerintah terlalu berpihak kepada perusahaan teknologi dan mengabaikan kepentingan kreator serta penerbit yang karya-karyanya digunakan dalam pengembangan AI.
Fair Use Jadi Pusat Perdebatan
Persoalan utama dalam perkara ini adalah penerapan doktrin fair use dalam hukum hak cipta AS.
Doktrin tersebut memungkinkan penggunaan karya berhak cipta tanpa izin dalam kondisi tertentu. Dalam menentukan apakah sebuah penggunaan termasuk fair use, pengadilan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk tujuan penggunaan, sifat karya, jumlah bagian yang digunakan, serta dampaknya terhadap pasar karya asli.
Perusahaan AI berargumen bahwa pelatihan model merupakan proses yang berbeda dari sekadar menyalin dan mendistribusikan kembali karya. Model menggunakan data dalam jumlah besar untuk mempelajari bahasa, pola, dan informasi sebelum menghasilkan keluaran baru.
Sebaliknya, penerbit dan kreator berpendapat bahwa mengambil karya mereka untuk membangun produk komersial tanpa lisensi tetap merupakan bentuk penggunaan yang merugikan pemegang hak cipta, terutama jika produk AI kemudian bersaing dengan konten asli.
Kasus Anthropic Beri Preseden Penting
Salah satu perkara yang menjadi perhatian dalam perdebatan ini adalah kasus yang melibatkan Anthropic, perusahaan pembuat chatbot Claude.
Pada 2025, Hakim William Alsup dari Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara California memutuskan bahwa penggunaan buku berhak cipta yang diperoleh secara legal untuk melatih model AI Anthropic termasuk fair use. Hakim menilai proses tersebut bersifat transformatif karena buku digunakan untuk melatih model menghasilkan sesuatu yang berbeda.
Namun, keputusan tersebut tidak berarti seluruh praktik Anthropic dinyatakan legal.
Masalah muncul karena perusahaan juga memperoleh jutaan buku dari sumber bajakan atau yang disebut shadow libraries. Hakim menilai persoalan memperoleh dan menyimpan salinan buku bajakan merupakan penggunaan yang berbeda dari proses pelatihan AI dan dapat menimbulkan tanggung jawab hukum.
Perselisihan tersebut kemudian diselesaikan melalui kesepakatan senilai sedikitnya US$1,5 miliar dengan para penulis. Anthropic juga menyetujui penghapusan salinan buku bajakan yang masih tersimpan.
Kasus Anthropic dengan demikian memberikan gambaran bahwa status hukum pelatihan AI tidak sesederhana apakah materi berhak cipta digunakan atau tidak. Cara perusahaan memperoleh materi tersebut juga dapat menjadi faktor penting.
