Kumparan Logo

Pendiri Instagram: IG Makin Komersial, Orang Pamer Harta & Berusaha Sempurna

kumparanTECHverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kevin Systrom, salah satu pendiri dan mantan CEO Instagram. Foto: @kevin/Instagram
zoom-in-whitePerbesar
Kevin Systrom, salah satu pendiri dan mantan CEO Instagram. Foto: @kevin/Instagram

Instagram yang sekarang tidak disukai oleh salah satu pendirinya, Kevin Systrom. Instagram disebutnya sudah kehilangan jati diri.

Systrom menilai Instagram telah berubah menjadi pasar bagi para influencer dan brand. Bukan lagi media sosial untuk berbagi secuil kehidupan sehari-hari penggunanya.

Pria berusia 39 tahun itu menyatakan keprihatinannya soal arah yang diambil Instagram selama beberapa tahun terakhir ini, dalam sebuah wawacara podcast dengan jurnalis teknologi, Kara Swisher.

Saya pikir kita telah kehilangan jati diri dari apa yang membuat Instagram menjadi Instagram.

- Kevin Systrom, Co-Founder Instagram -

"Penyesalan terbesar saya, menurut saya, di Instagram adalah betapa komersialnya aplikasi ini," katanya.

CEO Instagram Kevin Systrom berbicara di kantor pusat perusahaan Facebook selama acara media di Menlo Park, California pada 20 Juni 2013. Foto: Josh Edelson/AFP

Dulu, dia biasa melihat postingan keseharian teman dan keluarganya ketika membuka Instagram. Sekarang, media sosial yang kini dimiliki Meta itu menjadi ladang bisnis untuk jualan produk dan layanan yang menghasilkan uang.

Masalah model bisnis Instagram, kata Systrom, terletak pada fokusnya dalam menargetkan iklan. Meski menguntungkan Meta, strategi tersebut membuat pengguna biasa semakin tersisih karena ruangnya diarahkan untuk kreator konten dan brand.

Fokus monetisasi dan komersialisasi ini menimbulkan konsekuensi sosial yang tidak diinginkan. Influencer di platform menjalani hidup mewah, mempromosikan gaya hidup yang dicita-citakan banyak orang tapi tidak dapat dicapai.

Ini memfokuskan energi pada orang-orang yang tampaknya hidup luar biasa tanpa batas, melakukan hal-hal paling mewah, berpenampilan terbaik, mengenakan pakaian paling mewah.

- Kevin Systrom, Co-Founder Instagram -

Ilustrasi media sosial Instagram. Foto: MichaelJayBerlin/shutterstock

Ini membuat orang percaya bahwa apa yang mereka lihat adalah kenyataan. Pada akhirnya orang-orang berlomba-lomba di Instagram untuk pamer harta, menjadi yang paling mewah dan sempurna.

Hidup ini sangat sulit, dan apa pun yang di-posting orang di Instagram adalah puncak gunung es. Ini perlombaan ke bawah siapa yang bisa menjadi yang paling sempurna."

"Bagi saya, itu bukan Instagram yang kami mulai."

Systrom sempat mengapresiasi BeReal, media sosial asal Prancis. Menurutnya, platform tersebut bisa menjadi aplikasi alternatif bagi pengguna yang ingin menjadi diri mereka sendiri.

Systrom mendirikan Instagram pada 2010 lalu, bersama dengan Mike Krieger. Aplikasinya kemudian dibeli Facebook pada 2012 seharga 1 miliar dolar AS.

Keduanya tetap memimpin Instagram, hingga memutuskan mengundurkan diri per 2018. Systrom dan Krieger mundur karena perbedaan pendapat dengan CEO Facebook Mark Zuckerberg.