Pengadilan AS Cabut Cap Xiaomi Sebagai Perusahaan Militer Komunis China
·waktu baca 2 menit

Xiaomi membuat pengumuman baru terkait status dirinya yang dinyatakan bebas dalam daftar hitam perusahaan China yang dilarang berbisnis dengan Amerika Serikat. Keputusan tersebut diberikan oleh Pengadilan Distrik AS wilayah Columbia.
Pengadilan memutuskan, Xiaomi tidak terkait dengan militer China. Alhasil label yang diberikan Xiaomi sebagai perusahaan militer Komunis China (Communist Chinese Military Company/CCMC) tidak terbukti.
"Pengadilan Distrik AS wilayah Columbia mengeluarkan perintah akhir yang mengosongkan penunjukan Departemen Pertahanan AS atas perusahaan itu sebagai CCMC," tulis CEO Xiaomi, Lei Jun, dalam keterbukaan informasi di bursa saham Hong Kong.
Lei Jun juga menegaskan kembali Xiaomi adalah perusahaan yang terbuka, transparan, diperdagangkan secara publik, dioperasikan dan dikelola secara independen.
Setelah insiden ini, Lei Jun mengatakan Xiaomi akan melanjutkan memberikan pelayanan dan produk elektronik yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dengan harga yang sebenarnya, sehingga semua orang dapat merasakan inovasi teknologi.
Alasan Xiaomi disebut perusahaan militer Komunis China
Menilik ke belakang, pada awal tahun 2021, secara mengejutkan Xiaomi masuk dalam daftar hitam perusahaan China yang dilarang berbisnis dengan Amerika Serikat. Setelah lebih dari dua bulan, alasan pelarangan Xiaomi tersebut akhirnya terungkap.
Departemen Pertahanan AS pada bulan Januari lalu, mengumumkan delapan perusahaan China yang masuk dalam daftar hitam perdagangan, salah satunya adalah Xiaomi, vendor HP terbesar ketiga di dunia. Departemen melabeli mereka sebagai “perusahaan militer Komunis China,” karena diduga memiliki hubungan dengan militer Negeri Tirai Bambu tersebut.
Investor asal AS sampai sekarang masih dilarang berinvestasi di Xiaomi dalam bentuk apa pun. Sedangkan, bagi mereka yang sudah memiliki investasi di Xiaomi harus melepaskan diri dari kepemilikan tersebut selambat-lambatnya pada tanggal 11 November 2021 mendatang.
Laporan The Wall Street Journal, mengungkap dalam pengajuan hukum yang dibuat oleh Departemen Pertahanan AS, ada alasan sebenarnya mengapa Xiaomi masuk dalam daftar hitam sehingga dilarang melakukan bisnis dengan perusahaan AS. Laporan itu, menyebutkan penghargaan yang diterima pendiri dan CEO Xiaomi, Lei Jun menjadi penyebabnya.
Lei Jun menjadi salah satu dari 100 eksekutif di China yang menerima penghargaan pada tahun 2019 atas jasanya kepada negara China. Penghargaan yang diterima Lei Jun adalah sebagai "Outstanding Builder of Socialism with Chinese Characteristics" oleh MIIT China, lembaga pemerintah yang mengawasi kebijakan negara terkait teknologi dan kebijakan industri.
Xiaomi pun mempromosikan penghargaan yang diterima Lei Jun tersebut di halaman biografi eksekutif di situs web perusahaan dan laporan tahunannya. Departemen Pertahanan AS menanggapi laporan tentang penghargaan yang diberikan kepada Lei Jun.
Departemen Pertahanan AS mengatakan, MIIT China ini mengelola hubungan antara sipil-militer China. Di bawah program ini, China bekerja dengan bisnis swasta untuk menciptakan teknologi bagi militer. Akibatnya Xiaomi dicap “perusahaan militer Komunis China”.
