Ponsel Selfie V7+ Datang, Vivo Siap Tingkatkan Kapasitas Produksi

Kehadiran ponsel selfie Vivo V7+ di Indonesia ditandai dengan acara peluncuran yang megah dan tentu saja memakan dana besar. Vivo punya target setelah acara peluncuran, tumbuh kesadaran yang besar terhadap produk Vivo yang kemudian meningkatkan penjualan mereka.
Langkah antisipasi telah diambil Vivo jikalau permintaan atas produk-produknya meningkat. Product Manager Vivo Indonesia, Irfan Alvianto, berkata pasti ada peningkatan produksi dari V7+ dan juga produk lain, karena kesadaran konsumen turut meningkat dari upaya pemasaran yang agresif selama ini.
Untuk saat ini, Vivo mampu memproduksi ratusan ribu ponsel setiap hari, tetapi Irfan tidak menjelaskan detail angkanya.
"Masalah produksi kita akan tergantung demand. Apabilan demand tinggi, pasti kita tingkatkan dan kita optimis kalau demand masyarakat sangat tinggi.
Vivo sejak Maret 2016 mengoperasikan pabrik perakitan ponsel di Cikupa, Tangerang, yang telah memproduksi jutaan ponsel. Setahun kemudian, perusahaan melakukan perluasan pabrik lebih dari dua kali lipat karena harus melakukan peningkatan kapasitas produksi di tengah pertumbuhan pesat.
Membangun pabrik di Cikupa merupakan komitmen Vivo memenuhi regulasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) ponsel 4G, yang mewajibkan seluruh vendor ponsel untuk memakai komponen lokal sebesar 30 persen untuk setiap ponsel berbasis 4G. Jika tak bisa memenuhi aturan ini, maka vendor tak boleh jualan di Indonesia.
Aspek-aspek yang bisa dipilih untuk memenuhi aturan tersebut adalah lewat jalur manufaktur, pengembangan, aspek aplikasi, dan aspek investasi. Hal ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 65 Tahun 2016 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet.
Vivo V7+
Vivo V7+ itu sendiri merupakan ponsel kelas menengah yang disematkan teknologi serta fitur premium. Ponsel ini membawa perubahan radikal dengan aspek rasio layar 18:9 dan didukung teknologi layar yang mereka disebut Full View, untuk memberi pengalaman menikmati konten hiburan yang maksimal. Layar panel IPS berukuran 5,99 inci yang dipakai V7+ punya resolusi sebesar 720 x 1440 pixel.
Beralih ke sektor kamera, V7+ tampil menonjol dengan menyematkan sensor kamera depan terbesar yakni 24 MP. Ia adalah ponsel pintar perdana dengan kamera depan resolusi sebesar itu. Kemampuan kamera tersebut didukung lensa diafragma f/2.0 dan fitur Face Beauty serta Portrait Mode. Fitur tersebut dapat memberikan efek bokeh pada foto selfie yang diambil pengguna.

Kamera depan bukan satu-satunya senjata utama V7+. Ia juga didukung dengan kamera belakang 16 megapixel yang punya kemampuan mode Ultra HD. Kamera ini bisa menangkap empat foto sekaligus dan menggabungkannya menjadi sebuah foto beresolusi 64 MP.
Satu lagi fitur canggih dari V7+ adalah 'Face Access' untuk menjamin keamanan perangkat dari tangan-tangan jahil. Face Access memungkinkan pemilik melakukan pemindaian wajah untuk membuka kunci layar sampai dengan melakukan otentifikasi data. Ia dengan cerdas bisa mendeteksi wajah dengan makeup atau tanpa makeup, memakai hijab atau tanpa hijab, serta bisa digunakan pula pada kondisi cahaya gelap.
Untuk urusan dapur pacu, Vivo membenamkan teknologi Qualcomm dengan prosesor Snapdragon 450 octa-core berkecepatan 1,8 GHz. Tenaga ini diperkuat dengan kehadiran cip grafis Adreno 506, RAM 4 GB, media penyimpanan internal 64 GB, dan baterai 3.225 mAh. Di Indonesia, ia dihargai Rp 4,7 juta dan mulai tersedia per 28 September dalam dua pilihan warna, yaitu hitam serta emas.
