Qlue: Kualitas Penindakan Masalah Kota Turun Sejak Ahok Cuti

Aplikasi Qlue mendapat dukungan dari Pemprov DKI Jakarta sebagai alat melaporkan masalah perkotaan, terutama di masa kepemimpinan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Sejak Ahok cuti, pengelola Qlue mengatakan kualitas penindakan laporan menunjukkan penurunan.
CEO Qlue, Rama Raditya, berkata sejauh ini jumlah laporan ke layanannya masih terus meningkat. Penurunan terjadi pada kualitas tindak lanjut dalam menyelesaikan masalah yang dilaporkan warga.
"Laporan yang masuk meningkat, tapi tindak lanjutnya, kualitas penindakannya menurun. Itu berdasarkan data, setelah Ahok cuti, kualitasnya menjadi menurun. Saya tidak tahu apakah bulan depan akan turun lagi, dan juga bulan-bulan berikutnya," jelas Rama kepada kumparan.
Total laporan masalah kota yang masuk seharinya melalui aplikasi Qlue saat ini bisa mencapai 2000-2500 laporan. Dari jumlah itu, sebanyak 80 persen berasal dari wilayah Jakarta.
Setelah ada laporan masalah kota dari warga, biasanya masalah itu bisa diselesaikan dalam waktu dua pekan. Ia menyayangkan sekarang ini tindak lanjut yang diberikan terkadang tidak maksimal.
"Padahal warga bisa melihat hasil tindak lanjutnya melalui aplikasi Qlue, karena ada fotonya, tapi terkadang tindak lanjut itu dilakukan secara asal," keluhnya.
Qlue sebelumnya juga dimanfaatkan para ketua RT dan RW untuk melaporkan isu lingkungannya, sebanyak tiga kali dalam sehari. Pemprov DKI akan memberikan pendapatan Rp 10.000 per laporan kepada RT atau RW yang melapor via Qlue tentang masalah sekitarnya.
Tetapi belakangan, kewajiban itu ditiadakan lantaran ada protes dari RT dan RW dan sejumlah pihak lain. Hal ini membuat Keputusan Gubernur Nomor 903 Tahun 2016 tentang Pemberian Uang Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi Rukun Tetangga dan Rukun Warga, akhirnya dihentikan.
Sejak keputusan gubernur itu dihentikan, Rama mengaku kini jumlah laporan dari para ketua RT dan RW tersebut berkurang drastis.
Plt Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono, mengatakan pemberhentian aturan ini adalah untuk menghormati pekerjaan para RT dan RW sebagai pengabdi di lingkungan masyarakat tanpa iming-iming pendapatan.
"Mereka mengabdi kepada masyarakat dan enggak perlu digaji insentif berupa uang Rp 10.000 itu. Sehingga perlakuan itu dianggap menyinggung mereka," ucap Sumarsono.
Aplikasi Qlue sendiri saat ini masih aktif digunakan oleh masyarakat untuk melaporkan berbagai masalah perkotaan. Qlue juga memungkinkan pengguna untuk menanyakan sebuah informasi atau meminta pertolongan dari tetangga, melakukan jual-beli atau peminjaman barang, sampai dengan mengulas sebuah tempat.
