Review Samsung Galaxy A53 5G: Lebih dari Cukup

28 April 2022 10:08 WIB
·
waktu baca 8 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Samsung Galaxy A53. Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Samsung Galaxy A53. Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan
Galaxy A Series merupakan smartphone terlaris Samsung di kelas menengah, dengan seri Galaxy A50-an, yang termasuk paling laris. Di tahun ini, Samsung mempertaruhkan Galaxy A53 untuk bersaing di segmen menengah.
Galaxy A53 5G dilepas ke pasar dengan bekal System on a Chio (SoC) Exynos 1280 buatan Samsung, quad kamera dengan kamera utama 64MP OIS (Optical Image Stabilization), dan kamera ultra-wide 12MP EIS (Electronic Image Stabilization). Layarnya Super AMOLED dengan refresh rate 120Hz.
Saya akan mengulas semua aspek dari perangkat ini setelah satu bulan pemakaian. Sebelumnya, mari kita lihat dulu spesifikasi lengkapnya pada tabel di bawah ini:

Spesifikasi Samsung Galaxy A53 5G

Bodi

Samsung Galaxy A53 5G memiliki dimensi keseluruhan 159.6 x 74.8 x 8.1 mm. Tampak depan ada kamera selfie yang tertanam sebagai punch hole. Bezelnya pun cukup tipis.
Galaxy A53 5G memiliki bingkai datar ketimbang kurva. Itu memberi kesan elegannya tersendiri. Rasanya cepat atau lambat akan semakin banyak brand yang menggunakan desain frame bodi seperti ini.
Saya baru pertama kali menggunakan HP yang menggunakan bingkai datar, dan jujur-jujur saja, rasanya cukup nyaman. Ditambah, bingkai ini dipasang tidak seperti tersambung dengan layar atau bodi belakang, tapi punya struktur sendiri. Bagi saya ini menambah kesan HP mahal.
Dari di sisi belakang, empat unit kamera dan satu LED flash tertanam di “rumah”, khas dari seri A. Tekstur bodi belakangnya mulus tapi tidak terlalu mengkilap.
Ilustrasi Samsung Galaxy A53. Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan
Bagian belakang Samsung Galaxy A53. Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan
Unit kamera Samsung Galaxy A53. Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan
Ilustrasi Samsung Galaxy A53. Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan

Layar

Samsung Galaxy A53 5G dibekali layar 6,5 inci, dengan resolusi 1080 x 2400 pixel. Layar ini sudah diproteksi dengan Corning Gorilla Glass 5. Sudah kewajiban rasanya perangkat di harga Rp 5 sampai 6 jutaan memiliki Super AMOLED dan refresh rate 120Hz, termasuk Galaxy A53 5G.
Bercerita soal pengalaman, layar perpaduan Super AMOLED dan 405 ppi density-nya terasa tajam dan kontras maksimal. Mulai dari scroll media sosial sampai main game terasa enak dan smooth. Konten di layar masih terlihat jelas meski layar dimiringkan.
Kalau menggunakan perangkat di bawah sinar matahari, kecerahannya bisa dimaksimalkan sampai 800 nits (HBM). Kontras yang dibawa oleh layar Super AMOLED membuat layarnya dapat terlihat meski di bawah sinar matahari.
Saya mencoba menggunakannya untuk membaca dari aplikasi e-book (Kindle). Ketajaman dan kontrasnya enak, walau digunakan untuk membaca dalam satu jam.
Kalau merasa kecerahan minimumnya masih terlalu terang–misal membaca di ruang gelap–masih ada fitur ekstra redup. Kalau masih kurang, agar mencegah mata cepat letih, ada Eye Shield Comfort yang mengurangi cahaya biru. Eye Shiled Comfort pun dapat diatur adaptif, menyesuaikan intensitas pengurangan blue light sesuai jam secara otomatis.
Sayangnya, Galaxy A53 5G belum dilengkapi refresh rate yang adaptive. Refresh rate berada di kisaran 100-120Hz, dan 50-60Hz jika mode hemat daya.
Ilustrasi Samsung Galaxy A53. Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan

Kamera

Saya harus akui bahwa kamera Galaxy A53 5G cukup superior. Kamera utamanya 64MP dilengkapi OIS yang dapat menangkap gambar dengan stabil.
Dynamic range yang dihasilkan kamera utama terasa sangat luas, bahkan untuk foto di malam hari. Scene Optimizer-nya memperkuat warna dengan akurat. Gambar yang dihasilkan tajam, jelas, dan menangkap banyak detail. Untuk zoom 2x, gambar masih jelas dan tajam.
Ilustrasi Samsung Galaxy A53. Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan
Ketika mengambil gambar di kondisi low light, kamera utama Samsung Galaxy A53 5G masih dapat menghasilkan foto yang optimal. Detailnya cukup, dynamic range-nya pun bagus.
Untuk video, OIS (Optical Image Stabilization) bekerja dengan baik. Menggerakkan kamera dengan tangan ke berbagai arah, OIS dapat mengikutinya dengan smooth. Hanya saja ketika melangkah akan memberikan sedikit getaran ke kamera. Overall, fitur OIS di kamera ini bekerja dengan bagus.
Kamera ultra-wide menurut saya cukup bagus. Resolusi 13MP-nya tidak mengecewakan baik untuk menangkap foto maupun video. Tak hanya itu, kamera ultra-wide nya juga dapat merekam video sangat stabil.
Ilustrasi Samsung Galaxy A53. Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan
Saya pun mencoba fitur-fitur kameranya yang lain.
Mulai dari fitur Night Mode. Night Mode akan mengumpulkan beberapa gambar sekaligus, kemudian AI akan mendeteksi bagian gambar yang butuh cahaya. Night Mode ini sangat dapat diandalkan untuk kondisi minim cahaya.
Kemudian ada Pro dan Video Pro, Makanan, Panorama, Makro, Slow Motion, Hyperlapse, Potret dan Fun Mode. Selain itu, ada Zona AR. Menggunakan fitur ini, pengguna dapat berkreasi membuat profil stiker kustom 3D yang interaktif.
Fun Mode adalah fitur di mana pengguna dapat menggunakan filter-filter Snap Chat di aplikasi bawaan, tanpa harus menginstal aplikasi lain.
Video Pro dapat merekam video dengan shutter speed dan ISO yang ditentukan, bahkan dapat di-setting di tengah-tengah perekaman. Mode Makanan hanya menambah blur di bagian luar makanan yang difoto. Slow Motion, Potrait, dan Hyperlapse bekerja dengan baik. Kemudian ada Hyperlapse yang rasanya cukup penting bagi pengguna yang sering ngonten di TikTok.
Selain fitur yang terpasang di kamera, ada Object Eraser dan Image Enchancer sebagai fitur edit gambar. Object Eraser bekerja dengan sangat memuaskan. Mulai dari objek kontras, objek yang kecil yang warnanya sedikit nge-blend dengan backgroud, dapat dihapus dengan Object Eraser.
Mari lanjut ke kamera selfie. Kamera ini bekerja dengan sangat baik. Resolusinya 32MP, tidak main-main. Kualitas gambar jepretannya bagus, detail jelas, dan dynamic range-nya lumayan luas. Untuk selfie malam/low light masih bisa diandalkan. Bahkan fitur Night Mode masih bisa digunakan di kamera selfie.
Untuk video terbilang sangat stabil. Dan, jangan ditanya kualitas video zoom, jelas lebih dari cukup.
Satu menurut saya yang agak nanggung. Mode Pro foto Galaxy A53 5G, shutter speed-nya maksimal mentok di 10 detik, dan ISO-nya mentok di 3200. Alangkah kompletnya jika Samsung bisa mendorong batasnya sampai shutter speed 15 detik dan ISO 6400.
Memang tidak semua orang butuh membuka kameranya lama-lama. Namun, beberapa kondisi seperti memotret bintang membutuhkan ISO dan shutter speed gede.
Foto kamera utama Galaxy A53 5G. Foto: Rian Ramadhan/kumparan
Foto kamera utama Galaxy A53 5G. Foto: Rian Ramadhan/kumparan
Foto zoom 2x kamera utama Galaxy A53 5G. Foto: Rian Ramadhan/kumparan
Foto ultrawide Galaxy A53 5G. Foto: Rian Ramadhan/kumparan
Foto ultrawide Galaxy A53 5G. Foto: Rian Ramadhan/kumparan
Foto Night Mode Galaxy A53 5G. Foto: Rian Ramadhan/kumparan
Foto selfie Galaxy A53 5G. Foto: Rian Ramadhan/kumparan
Foto selfie lowlight Galaxy A53 5G. Foto: Rian Ramadhan/kumparan

Performa

Saya mencoba bermain Apex Mobile untuk mencoba performanya. Grafiknya bisa sampai high.
Dari segi performa saya cukup puas dengan performanya. Tidak ada lag yang mengganggu, bahkan animasi yang berat dapat dijalankan dengan lancar.
Selama satu jam bermain, baterainya tersedot 9 persen. Pun dari temperatur, ketika saya menggunakan setting tertinggi dan berjam-jam bermain tidak ada kenaikan suhu yang sigfinikan. Samsung A53 5G terbilang bagus untuk manajemen temperaturnya.
Masalah utamanya adalah refresh rate yang stuck di 60 fps. Saya sudah mencoba bermain di game lain namun hasilnya tetap sama. Kemungkinkan isunya terletak di bug software/OS.

Baterai

Tidak salah Samsung mengeklaim baterai 5000 mAh Galaxy A53 5G bertahan dua hari. Jam 8 pagi full 100 persen, dengan penggunaan normal, jam 8 malamnya masih tersisa 50 persen. Digunakan sampai besoknya, baru menyentuh 5 persen di jam 2 siang. Ini tanpa mengaktifkan mode hemat daya.
Menggunakan aplikasi screen time, tercatat saya menggunakan HP dengan total 8 setengah jam screen time, termasuk 1 jam bermain game.
Jika diaktifkan mode hemat daya, dan penggunaan ringan seperti kamera dan scroll sosial media, saya butuh mengisi daya dua hari kemudian.
Untuk pengecasan sendiri, Galaxy A53 5G mendukung fast charge 25W. Butuh waktu 1 setengah jam lebih untuk mengisi dari 2 persen menuju 100 persen.

Audio

Bagusnya, Galaxy A53 5G dibekali speaker stereo + Dolby Atmos. Minusnya, tidak ada jack audio 3.5 mm. Mari bahas satu-satu.
Dolby Atmos bisa digunakan dengan speakernya. Perpaduan dua speaker (earpiece sebagai speaker kedua) dan Dolby Atmos memberi kualitas audio yang mengagumkan. HP serasa jadi speaker portable yang suaranya joss. Suara serasa keluar dari seluruh bodi.
Dolby Atmos memperkaya audio yang keluar. Mulai dari frekuensi tinggi sampai frekuensi rendah. Namun, jika volumenya dimainkan sampai maksimal, suaranya agak cempreng dan tidak seimbang lagi. Dan juga, jangan harap ada getaran bass jika memutar lagu rock dari perangkat HP ini.
Ilustrasi Samsung Galaxy A53. Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan
Soal ketiadaan earphone jack, bisa menggunakan TWS, atau earphone kabel + konverter. Saya mencoba menggunakan earphone KZ dan konverter type C – jack audio merek Baseus. Entah memang tidak kompatibel, ada noise eksternal yang menyisip jika menggunakan earphone. Noise tipis yang tidak terdengar jika bermain game atau mendengar musik berisik, tapi ketara jika kita melakukan panggilan telepon atau mendengar podcast.
Sementara untuk TWS tidak ada masalah. Dapat terhubung dengan cepat. Lancar jaya.

Biometrik

Sensor fingerprint yang terpasang di bawah layar bekerja dengan baik. Tidak masalah jika tangan berkeringat. Sensor ini bahkan merespon di bawah satu detik.
Sementara untuk pengenalan wajah, cukup baik bahkan di kondisi cahaya minim, namun tidak bisa mendeteksi wajah jika sedang menggunakan masker.

Fitur lain

Fitur yang cukup terkenal dan sudah ada di Galaxy A53 antara lain Bixby dan Samsung Knox. Bixby adalah software asisten pribadi buatan Samsung, sementara Samsung Knox adalah software andalah Samsung untuk manajemen privasi.
Fitur NFC juga sangat membantu para pengguna transportasi publik dan jalan tol yang ingin mengisi saldo BCA Flazz secara nirkabel dari aplikasi m-BCA.

Takeaway

Perangkat ini punya banyak keunggulan. Desainnya keren dan elegan. Perlu dipertimbangkan pula soal komitmen Samsung memberikan upgrade OS Android sampai 4 generasi, dan update security patch sampai 5 tahun. Perangkat ini jelas akan relevan sampai sekian tahun ke depan. Apalagi, ia juga telah mendukung jaringan 5G di Indonesia.
Kamera Galaxy A53 5G punya kualitas yang baik untuk urusan foto dan video. Bisa diandalkan. OIS juga bekerja dengan baik untuk meredam guncangan.
Kinerjanya juga memuaskan untuk kebutuhan main game, bahkan game kelas berat. Baterai tidak terkuras terlalu banyak. Suhu hangat juga masih dalam batas normal. Hardware dan software dari Galaxy A53 dapat bekerja secara harmonis, dan itu berdampak pada daya tahan baterai yang panjang.
Kekurangannya, mungkin dirasakan sejumlah orang yang keberatan dengan ketiadaaan kepala charger dan hilangnya jack audio. Buat kalian yang ingin meminang Galaxy A53, ada baiknya berinvestasi di kepala charger yang berkualitas, serta TWS.
Kalau kamu siap berkompromi dengan itu, dan butuh smartphone dengan spesifikasi dan fitur seperti di atas, maka Galaxy A53 5G adalah pilihan yang tepat. Samsung Galaxy A53 dijual dalam 2 varian di Indonesia, yakni 8 GB + 128 GB mulai Rp 5.999.000 dan 8 GB + 256 GB mulai Rp 6.499.000.