Riset Lenovo 2025: Investasi AI Perusahaan Terhambat ROI yang Tidak Pasti

27 Februari 2025 19:35 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Logo Lenovo. Foto: Bianda Ludwianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Logo Lenovo. Foto: Bianda Ludwianto/kumparan
ADVERTISEMENT
Sebuah studi terbaru mencatat bahwa perusahaan skala sedang dan besar di dunia secara signifikan telah meningkatkan investasinya untuk mengadopsi AI, tetapi kekhawatiran atas return of investment (ROI) menjadi hambatan utama untuk adopsi AI yang lebih luas dalam organisasi.
ADVERTISEMENT
Dalam studi bertajuk CIO Playbook 2025: It's Time for AI-nomics, yang dilakukan oleh Lenovo dan dijalankan oleh lembaga riset IDC, dilaporkan bahwa investasi untuk AI diperkirakan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2024, tetapi para pemimpin bisnis tetap berbeda pendapat tentang nilai jangka panjangnya.
Organisasi di Asia Pasifik meningkatkan investasi AI sebesar 3,3 kali lipat, sementara di Asia Tenggara peningkatannya lebih kecil, yakni 2,7 kali lipat.
Meskipun adopsi AI semakin cepat, risiko finansial dan ROI yang tidak pasti tetap menjadi kendala paling sering disebutkan. Studi tersebut menemukan bahwa 37% manajemen tetap skeptis atau memiliki keraguan tentang dampak profitabilitas AI pada perusahaan, meskipun 90% profesional TI menyatakan bahwa AI telah memenuhi harapan mereka.
ADVERTISEMENT
Penerapan AI Generatif (Gen AI) diproyeksikan akan meluas, tumbuh dari 11% menjadi 42% pada 2025, dengan tingkat penerapan tertinggi diharapkan terjadi pada operasional TI, pengembangan perangkat lunak, dan pemasaran. Lenovo dan IDC meyakini, pemanfaatan Gen AI berpotensi besar mengubah alur kerja.
Selain ketidakpastian finansial, organisasi juga menghadapi tantangan kesiapan dalam implementasi AI. Lebih dari separuh bisnis tidak memiliki kebijakan Tata Kelola, Risiko, dan Kepatuhan AI (Governance, Risk, and Compliance/GRC), di tengah semakin banyaknya ditemukan masalah etika seputar AI.
Untuk memanfaatkan AI sepenuhnya, organisasi harus meningkatkan skill karyawan, memodernisasi sistem TI, dan membangun kerangka kerja etika untuk mengarahkan penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Kiri ke kanan: Vlad Rozanovich, Senior VP Infrastructure Solutions Group Lenovo Worldwide, Sumir Bhatia, President Infrastructure Solutions Group Lenovo Asia Pacific, Fan Ho, ED & GM Solutions & Services Group Lenovo Asia Pacific, dan President Director Lenovo Indonesia, Budi Janto. Foto: Dok. Lenovo Indonesia
Fan Ho, Executive Director dan GM Solutions and Services Group, Lenovo Asia Pacific, menyarankan agar organisasi berinvestasi dalam desain yang efisien menurut versi mereka yang terukur. Penerapan yang tepat, serta integrasi solusi AI dalam operasional bisnis, juga perlu diukur secara matang.
ADVERTISEMENT
"Layanan AI profesional memainkan peran penting dalam membantu organisasi mengadopsi AI dengan sukses melalui pendekatan berbasis hasil," kata Fan Ho, dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (27/2).
Studi ini turut menyoroti kualitas data sebagai faktor keberhasilan penting untuk implementasi AI. Kedaulatan data, kepatuhan, dan aksesibilitas diidentifikasi sebagai komponen penting, sementara kualitas data yang buruk, biaya TI yang tinggi, dan tantangan integrasi merupakan penyebab utama kegagalan AI. Untuk mengurangi masalah ini, 33% organisasi berencana untuk mengembangkan kemampuan manajemen data.
Laporan tersebut menemukan bahwa kurangnya keahlian yang terampil adalah alasan utama organisasi ragu untuk berinvestasi dalam AI, yang menekankan perlunya kemitraan strategis. Bisnis menyadari bahwa bekerja dengan mitra yang mampu menggunakan AI adalah kunci keberhasilan penerapan AI.
ADVERTISEMENT
Meskipun ada rencana investasi AI yang agresif, studi Lenovo menunjukkan bahwa bisnis tetap berhati-hati tentang keuntungan finansial jangka panjang dari artificial intelligence.
Studi ini melibatkan lebih dari 2.900 responden, termasuk lebih dari 900 orang yang punya peran mengambil keputusan bisnis dan teknologi di 12 pasar Asia Pasifik.