Satelit Made In Mahasiswa Indonesia Resmi Meluncur dengan Roket SpaceX
ยทwaktu baca 3 menit

Satelit nano buatan mahasiswa Indonesia bernama Surya Satellite-1 (SS-1) berhasil meluncur ke luar angkasa dengan menumpangi roket SpaceX Falcon 9 pada Sabtu (26/11) waktu setempat. Satelit telekomunikasi ini telah sampai di Stasiun Luar Angkasa (ISS), dan baru akan mengangkasa pada 2023 nanti.
Satelit SS-1 adalah satelit buatan dalam negeri yang dikembangkan oleh mahasiswa Universitas Surya, bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA), atau dulu kita mengenalnya dengan nama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
Proyek ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI), PT Pudak Scientific, PT Pasifik Satelit Nusantara, dan pemangku kepentingan lainnya.
Satelit Surya Satellite-1 telah selesai proses pembuatannya, termasuk tahap assembly, integration, dan test, pada Juni 2022 lalu. SS-1 dikirim ke Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) di Tsukuba, Jepang, untuk dimasukkan ke dalam modul Kibo, dan kemudian dikirim ke SpaceX di AS untuk diluncurkan dengan roket Falcon 9.
Roket Falcon 9 milik SpaceX dengan nomor misi kargo CSR-26 meluncur dari Kennedy Space Center, Florida, AS, pada Sabtu (26/11) waktu setempat. Satelit Surya Satellite-1, bersama dengan 2,6 ton muatan lain, dibawa oleh roket dengan nomor seri misi CSR-26 ini.
Muatan tersebut termasuk juga di antaranya perlengkapan untuk astronaut hidup di ISS, beberapa instrumen sains baru, dan juga satelit mini lain. Muatan dibawa dengan kapsul Dragon buatan SpaceX.
Pada Minggu (27/11), kapsul Dragon berhasil menempel (docking) dengan ISS. Satelit SS-1 kemudian akan mengangkasa pada pertengahan Januari 2023 nanti.
Milestone penting selanjutnya adalah deployment satelit SS-1 dari modul Kibo milik Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dari ISS oleh astronaut yang direncanakan pada pertengahan bulan Januari 2023.
- ORPA, BRIN -
Surya Satellite-1 masuk kategori satelit nano atau cubesat. Satelit ini punya dimensi yang kecil dan berat tak sampai 10 kilogram.
Bedanya dengan teleskop lain yang langsung mengorbit selepas dari roket, cubesat biasanya dibawa dengan misi kargo ke ISS, dan kemudian dilepas oleh astronaut melalui modul ISS. Dengan metode ini, satelit tidak membutuhkan pendorong tambahan sehingga irit tempat.
SS-1 akan mengudara di orbit rendah Bumi (low Earth orbit/LEO), di ketinggian 400 hingga 420 kilometer dengan inklinasi 51,7 derajat. Surya Satellite-1 akan mengitari Indonesia sebanyak empat hingga lima kali sehari.
Surya Satellite-1 punya misi sebagai Automatic Packet Reporting System, yang berfungsi sebagai media komunikasi via satelit dalam bentuk teks singkat. Teknologi ini dapat dikembangkan untuk mitigasi bencana, pemantauan jarak jauh, dan komunikasi darurat.
