Satelit N5 Milik Indonesia Meluncur ke Angkasa, Dibawa Roket Elon Musk
·waktu baca 2 menit

Satelit Nusantara Lima (N5) resmi meluncur pada Rabu (10/9) pukul 08.56 WIB. Satelit komunikasi milik Indonesia itu terbang dari Cape Canaveral, Amerika Serikat, menggunakan roket Falcon 9 garapan SpaceX, perusahaan milik Elon Musk.
Dengan kapasitas 160 Gbps, N5 menjadi satelit komunikasi terbesar di Asia Tenggara. Satelit akan mengorbit di slot 113° Bujur Timur, atau golden spot, memungkinkan jangkauan internet ke seluruh wilayah Indonesia, sekaligus memperkuat konektivitas di kawasan timur yang selama ini menantang dari sisi infrastruktur.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan satelit ini dirancang untuk kepentingan rakyat.
Satelit Nusantara Lima adalah jembatan yang menghubungkan Indonesia tanpa batas.
- Meutya Hafid, Menkomdigi -
"Internet cepat bukan hanya soal teknologi, tapi soal kesempatan yang sama," kata Meutya dalam keterangan resmi yang dikutip kumparan, Jumat (12/9). "Anak-anak di Maluku dan Papua akan punya akses belajar yang sama dengan anak-anak di Jakarta, pasien di pulau kecil bisa konsultasi dengan dokter terbaik, dan UMKM kita bisa bersaing di dunia digital. Inilah makna pemerataan digital yang sesungguhnya."
Kehadiran N5 membuka peluang lebih luas bagi pendidikan jarak jauh, layanan kesehatan digital, UMKM berbasis daring, hingga akses informasi dan hiburan bagi masyarakat di pelosok.
Komdigi pun memastikan registrasi orbit hingga pengelolaannya berada di bawah kendali pemerintah meski peluncurannya dibawa oleh roket milik Elon Musk.
Satelit N5 dimiliki PT Satelit Nusantara Lima (SNL), anak usaha PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), melalui kemitraan global dengan Boeing Satellite Systems, Hughes Network Systems, dan SpaceX.
Peluncuran ini menjadi tonggak sejarah baru setelah Palapa A1 (1976), Nusantara Satu (2019), dan SATRIA-1 (2023).
Dengan N5, Indonesia menegaskan dirinya bukan hanya konsumen, tetapi juga pengelola teknologi satelit yang menghadirkan manfaat langsung bagi rakyat, sekaligus memperkokoh posisi bangsa sebagai pusat konektivitas digital di Asia Pasifik.
