Tekno & Sains
·
15 Agustus 2021 9:30
·
waktu baca 4 menit

Sejarah Error 404 Not Found, Pesan Singkat untuk Link yang 'Busuk'

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Sejarah Error 404 Not Found, Pesan Singkat untuk Link yang 'Busuk' (252061)
searchPerbesar
Mural Jokowi Not Found di Tangerang. Foto: Polres Tangerang
Kode error 404 not found tengah jadi perbincangan warganet usai sebuah mural di Tangerang dihapus oleh kepolisian. Mural tersebut menampilkan wajah mirip Presiden Jokowi dengan tulisan 404: Not found, yang tampaknya ditujukan sebagai kritik.
ADVERTISEMENT
Namun, sebenarnya apa sih kode error 404 not found itu? Dari mana sejarah kode ini berasal?
Kode error 404 not found umumnya kita temukan saat halaman web yang kita cari tidak dapat ditemukan oleh server. Tidak ditemukannya link oleh server terjadi ketika link atau tautan yang kita minta ternyata sudah rusak atau “membusuk” (biasa dikenal sebagai link rot).
404 not found boleh dibilang merupakan kode error paling dikenal di dunia. Saking terkenalnya, kode ini telah menjadi meme, gambar di t-shirt, hingga muncul di berbagai komik.
Kode 404 not found memiliki daya tariknya tersendiri untuk jadi meme di internet. Ini adalah bahasa yang dimaknai merepresentasikan kekecewaan murni dan pengumuman masalah yang tidak terduga. Ia menjadi pengingat bahwa teknologi internet dibuat oleh manusia, dan oleh karena itu dapat salah.
Sejarah Error 404 Not Found, Pesan Singkat untuk Link yang 'Busuk' (252062)
searchPerbesar
Tanda protes selama protes 15 Oktober 2011 di Madrid, Spanyol. Kode 404 juga berkembang menjadi pesan parodi politik. Foto: Carlos Delgado via Wikimedia Commons (CC BY SA 3.0)
Popularitas kode error 404 not found tak mengherankan jika kita menelisik berapa banyak link yang terhubung ke halaman yang sudah mati. “Tiga puluh persen dari semua tautan di web dialihkan ke halaman 404 mati atau informasi kedaluwarsa,” kata Shirley Chen, founder sekaligus CEO perusahaan interet Narrativ, dalam tulisannya di situs World Economic Forum pada 2018 lalu.
ADVERTISEMENT
“Masalahnya berkembang biak karena lebih banyak situs web membuat halaman sementara dengan waktu paruh kadang-kadang serendah 72 jam,” ujar Chen.

Sejarah kode error 404 not found

Lantas, dari mana asal-usul kode error 404 not found ini?
Pada awal 2000-an, banyak orang yang percaya bahwa kode error 404 not found berasal dari ruang 404. Ini disebut sebagai ruangan server web pertama di CERN (Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir di Swiss), bahwa penemu World Wide Web Tim Berners-Lee memiliki kantor di sana, dan bahwa para peneliti yang merespons permintaan web mengirim kode 404 not found jika mereka tak menemukan halaman yang ingin diakses pengguna.
Namun, teori tersebut hanyalah “dongeng” semata, menurut Robert Cailliau, seorang perintis World Wide Web yang menjadi rekan Berners-Lee.
ADVERTISEMENT
“404 tidak pernah dihubungkan dengan ruangan atau tempat fisik mana pun di CERN,” kata Cailliau kepada Wired. “Itu benar-benar mitos.”
Sejarah Error 404 Not Found, Pesan Singkat untuk Link yang 'Busuk' (252063)
searchPerbesar
Robert Cailliau. Foto: Robert Cailliau via Wikimedia Commons (CC BY SA 4.0)
Cailliau menjelaskan, kode 404 not found sebenarnya hanya pesan singkat yang dibuat programmer web kala itu untuk menyampaikan pesan secara ringkas. Penggunaan kode diperlukan karena memori komputer saat itu masih kecil, hanya sekitar 64 MB, berbeda dengan komputer masa kini yang bisa mencapai gigabyte.
Jadi, sebenarnya enggak ada cerita spesial soal bagaimana kode error 404 not found muncul. Kode ini dipilih secara arbitrer oleh programmer dan tujuannya hanya untuk menjelaskan jenis error yang terjadi.
“Saat kamu menulis kode untuk sistem baru, kamu tidak membuang waktu terlalu banyak untuk menulis pesan panjang untuk situasi di mana kamu mendeteksi kesalahan,” kata Cailliau dalam sebuah email kepada Wired pada 2017 lalu.
ADVERTISEMENT
“Geek modern tidak lagi tahu bagaimana rasanya memprogram dengan memori 64k.”
Nah, karena memori komputer saat itu masih kecil, dan pengiriman pesan error sebenarnya enggak penting-penting amat, programmer web awal menentukan rentang numerik untuk kategori kesalahan. Ini dilakukan, menurut Cailliau, "sesuai dengan keinginan programmer."
Kode error yang dikirim server berada dalam kisaran numerik 400. Kode "404", misalnya, dipakai untuk pesan bahwa link yang dicari "tidak ditemukan."
Selain 404, sebenarnya ada beragam kode error di situs web dengan awalan numerik 400, termasuk:
  1. Kode 400 yang berarti “Bad Request”. Kode ini menunjukkan bahwa server tidak dapat memproses permintaan karena kesalahan klien seperti salah mencantumkan link yang dicari.
  2. 401 untuk “Unauthorized” yang berarti pengguna enggak punya wewenang untuk buka link tersebut.
  3. 402 sebagai pesan “Payment Required”. Kode ini dicadangkan untuk penggunaan di masa mendatang. Kode ini awalnya ditujukan sebagai kode bahwa pengguna enggak bisa akses konten sebelum membayar. Namun, penggunaannya masih minim.
  4. 403 untuk pesan “Forbidden”. Fungsi kode ini mirip seperti 401. Bedanya, kode ini muncul ketika klien telah mengisi data yang valid dan dipahami oleh server, tetapi server menolak memproses permintaan klien.
  5. 405 “Method Not Allowed”. Pesan ini berarti metode permintaan klien tidak didukung untuk sumber daya yang diminta.
ADVERTISEMENT
Ada puluhan kode error dengan numerik 400-an yang dipakai di situs web untuk memberikan pesan kepada pengguna. Karena keterbatasan tempat, kami hanya mencantumkan 5 di antaranya. (Bagaimanapun, kamu bisa mempelajarinya lebih banyak di Wikipedia.)
Kembali kepada Cailliau, dia berpikir bahwa sebenarnya tidak ada yang spesial dengan kode error 404. Menurutnya, teori asal-usul 404 dari ruang 404 membuktikan irasionalitas manusia terhadap fakta yang ada (bahwa kemunculan kode error 404 sebenarnya dibuat secara arbitrer oleh programmer).
“Saya bahkan tidak punya firasat tentang daya tarik 404. Dan terus terang saya tidak ambil pusing. Jenis kreativitas yang masuk ke 404 halaman respons cukup tidak berguna. Mitologi mungkin karena irasionalitas, penolakan bukti, dan preferensi untuk dongeng atas kenyataan yang cukup umum pada spesies manusia,” kata dia.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, Cailliau menekankan bahwa hoaks semacam itu bisa berbahaya jika menyangkut hajat hidup orang banyak.
“Sifat-sifat manusia ini relatif tidak bersalah di masa lalu, ketika pengaruh individu kecil dan informasi menyebar perlahan. Hari ini, dan tidak sedikit karena keberadaan web, sifat-sifat ini telah memperoleh kekuatan yang berbahaya.”
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020