Kumparan Logo

Semangat Nodeflux Membangun Ekosistem AI di Indonesia

kumparanTECHverified-green

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Faris Rahman (kiri), dan Meidy Fitranto (kanan). Foto: Dok. Nodeflux.
zoom-in-whitePerbesar
com-Faris Rahman (kiri), dan Meidy Fitranto (kanan). Foto: Dok. Nodeflux.

Nodeflux merupakan startup berbasis AI pertama dan terbesar di Indonesia. Sejak didirikan pada 2016, dalam waktu singkat Nodeflux sudah menorehkan berbagai prestasi bahkan hingga ke tingkat internasional.

Pada 2018, Nodeflux menjadi satu-satunya perusahaan Vision AI pertama di Indonesia sebagai anggota yang terdaftar dalam NVIDIA-MSPP (Metropolis Software Partner Program), yang bertujuan mengimplementasikan teknologi AI guna membantu menyelesaikan permasalahan kota secara menyeluruh. Nodeflux bersanding di antara 24 perusahaan AI top dunia di NVIDIA-MSPP saat itu.

Selain itu, baru-baru ini Nodeflux juga berhasil meraih peringkat ke-25 dunia di antara 90 perusahaan AI terkemuka di dunia untuk penilaian algoritma pemrograman Face Recognition Vendor Test (FRVT) dari National Institute of Standards and Technology (NIST) pada September 2019.

Sebagai pelopor teknologi kecerdasan buatan di Indonesia, Nodeflux memiliki cita-cita untuk membantu mengembangkan perkembangan teknologi AI lokal sehingga Indonesia menjadi negara maju.

kumparan berkesempatan untuk mewawancarai Meidy Fitranto (Co-Founder & CEO Nodeflux) dan Faris Rahman (Co-Founder & CTO Nodeflux) seputar Nodeflux dan perkembangan teknologi AI di negeri ini.

Mereka berdua berpendapat bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk maju, termasuk di bidang teknologi.

“Kita harus percaya bahwa Indonesia adalah negara besar dan masing-masing dari kita seharusnya turut bertanggung jawab untuk membuktikannya,” tutur Meidy.

Meidy juga menyebutkan bahwa Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Buktinya, Indonesia bisa membangun MRT sendiri bahkan memiliki startup-startup unicorn besar.

Opportunity pengembangan teknologi di Indonesia sekarang lumayan terlihat, dengan banyaknya produk-produk digital dalam negeri,” tambah Faris.

Oleh karena itu, Nodeflux tengah melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Berikut beberapa di antaranya.

Bangun Platform untuk Dukung Perkembangan AI Lokal

com-Meidy Fitranto. Foto: Dok. Nodeflux.

Membangun produk AI memiliki tantangan tersendiri. Namun, bukan berarti hal tersebut tidak bisa dilakukan anak bangsa. Meidy mengungkapkan bahwa banyak talenta Indonesia seperti mahasiswa atau peneliti yang bisa menciptakan algoritma dan model AI yang bagus.

Sayangnya, hal tersebut tidak cukup. Dibutuhkan proses deployment yang merupakan salah satu bagian paling menantang dalam implementasi AI. Menurut Meidy, kerumitan proses ini yang membuat pemain AI di Indonesia tidak banyak.

Oleh karena itu, Nodeflux ingin memberikan solusi dengan membangun platform universal yang bisa digunakan pegiat AI lokal terutama memudahkan mereka dalam proses deployment tersebut.

“Ke depannya kita ingin mahasiswa atau peneliti bisa cukup fokus di area machine learning-nya. Mereka bisa menjalankan algoritme dan modelnya dengan engine dari kita,” ujar Meidy.

Buat Konten Edukatif dan Menarik

Nodeflux juga berupaya agar pengetahuan dan minat seputar kecerdasan buatan di Indonesia meningkat. Hal itu dilakukan dengan membuat konten-konten digital dengan ilustrasi menarik sekaligus mudah dipahami.

Contohnya saja kiriman-kiriman di Instagram Nodeflux di mana terdapat komik yang menjelaskan konsep rumit AI dengan menyenangkan.

instagram embed

Nodeflux juga berupaya untuk meluruskan perspektif negatif masyarakat tentang AI. Masih ada sebagian orang yang hanya mengasosiasikan AI dengan robot-robot jahat yang akan menggantikan pekerjaan manusia. Padahal, AI justru membantu memudahkan manusia bahkan membuat manusia menjadi lebih produktif lagi.

Terbuka untuk Kolaborasi dengan Pemerintah

com-Diskusi di kantor Nodeflux. Foto: Dok. Nodeflux.

Pemerintah turut memiliki peran yang krusial dalam perkembangan teknologi nasional termasuk AI. Peran tersebut bisa diimplementasikan melalui program atau kebijakan yang berdampak positif pada pegiat AI lokal.

Nodeflux terbuka untuk berkolaborasi dengan pemerintah. Sebelumnya, teknologi facial recognition Nodeflux dipakai saat Asian Games 2018. Startup tersebut juga menjadi mitra dengan Pemprov DKI Jakarta melalui program-program Jakarta Smart City.

Nodeflux berharap bahwa pemerintah dapat terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk melakukan riset, pengembangan, dan sustainability program.

“Ekspektasinya sebenarnya research & development itu memang harus dilakukan badan penelitian pemerintah, universitas, dan industri. Ini harus kejadian. Gak akan mungkin negara ini bisa maju kalau kolaborasi itu nggak dilakuin," tutur Meidy. “Kalau berjalan sendiri-sendiri itu kita nggak akan kuat. Walaupun sekarang Nodeflux mencoba riset dan sebagainya, tapi tidak dengan sustainability-nya.”

Tingkatkan Riset dan Kerja Sama dengan Universitas

Nodeflux berkolaborasi dengan universitas dan peneliti untuk melakukan riset yang mendukung perkembangan AI di Indonesia. Output dari riset tersebut adalah jurnal akademis.

"Kita ingin melakukan sinergi supaya akselerasi kemajuan teknologi Indonesia bisa lebih cepat lagi," ungkap Faris.

Faris juga mengungkapkan, Nodeflux telah menghasilkan setidaknya delapan riset dengan berbagai topik seputar teknologi AI. Anda bisa membaca beberapa di antaranya dalam tautan-tautan berikut ini.

  • An Improved Version of Texture-based Foreground Segmentation: Block-based Adaptive Segmenter oleh Kahlil Muchtar, Faris Rahman, Tjeng Wawan Cenggoro, Arif Budiarto, & Bens Pardamean (2018). Anda bisa membacanya di sini.

  • An efficient event detection through background subtraction and deep convolutional nets oleh Kahlil Muchtar, Faris Rahman, Muhammad Rizky Munggaran, Alvin Prayuda Juniarta Dwiyantoro, Richard Dharmadi, Indra Nugraha, & Chuan-Yu Chang (2018). Jurnal bisa dibaca di sini.

  • A unified smart surveillance system incorporating adaptive foreground extraction and deep learning-based classification oleh Kahlil Muchtar, Faris Rahman, Muhammad Rizky Munggaran, Alvin Prayuda Juniarta Dwiyantoro, Richard Dharmadi, & Indra Nugraha (2019). Silakan baca di sini.

  • Moving Object Detection through Image Bit-Planes Representation without Thresholding oleh Chih-Yang Lin, Kahlil Muchtar, Wei-Yang Lin, & Zhi-Yao Jian (2019). Untuk jurnal tersebut bisa dibaca di sini.

  • Attention-based Approach for Efficient Moving Vehicle Classification oleh Kahlil Muchtar, Nasaruddin, Afdhal, Indra Nugraha (2019). Anda bisa membacanya di sini.

  • A Lightweight Moving Vehicle Classification System through Attention-based method and Deep Learning. Jurnal bisa dibaca di sini.

Total ada delapan jurnal yang berhasil ditulis oleh perwakilan Nodeflux dan kolaborator. Dua di antaranya masih dalam tahap peninjauan naskah akhir dan pemberitahuan penerimaan publikasi, sementara enam jurnal sudah dipublikasikan dalam tautan-tautan di atas. Riset-riset tersebut tentunya akan bermanfaat baik untuk referensi akademik maupun pengembangan pengetahuan AI di Indonesia.

com-Suasana di kantor Nodeflux. Foto: Dok. Nodeflux.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, Nodeflux berharap agar Indonesia bisa lebih percaya diri lagi, bahwa sebenarnya negara ini mampu untuk jadi maju dalam bidang teknologi.

“Harapannya ada mindset bahwa kita berhak untuk bisa maju. Kalau kita berpikir bahwa kita berhak, pasti sebisa mungkin akan kita dapatkan,” tutup Faris.

Story ini merupakan bentuk kerja sama dengan Nodeflux