Semegah Biznet Technovillage, Data Center Andalan Para FSI Indonesia

16 September 2021 15:35 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Biznet Technovillage. Foto: Aulia Rahman Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Biznet Technovillage. Foto: Aulia Rahman Nugraha/kumparan
Waktu satu detik sangat berharga bagi penyedia layanan digital, apalagi bagi perusahaan fintech atau bank. Jika server mereka mati, walau cuma sedetik, maka situs web atau aplikasinya akan gangguan. Ini akan menimbulkan komplain dan berujung pada kerugian bagi perusahaan.
Dengan berbagai pertimbangan, perusahaan besar umumnya akan menyimpan server mereka di colocation data center. Colocation data center merupakan pusat data yang digunakan oleh berbagai institusi, mulai dari perusahaan hingga pemerintah, secara bersamaan. Adapun data center itu sendiri adalah bangunan fisik yang menyimpan infrastruktur layanan digital, mulai dari server, hingga perangkat telekomunikasi.
Sejumlah perusahaan FSI di Indonesia, mempercayakan penyelenggaraan teknologi mereka pada Biznet Data Center untuk colocation data center. Biznet Data Center memiliki sejumlah lokasi fasilitas data center di Indonesia, yang salah satunya disebut Biznet Technovillage di Bogor, Jawa Barat.
Biznet Technovillage berdiri di lahan sebesar 20 ribu km persegi. Di sana terdiri dari empat bangunan —dua di antaranya merupakan bangunan data center dan sisanya adalah kantor. Sebagian ruangan dari bangunan kantor tersebut memiliki co-working space yang disewakan oleh Biznet Technovillage untuk perusahaan pelanggan data center mereka. Ada pula ruangan khusus yang bisa disewa perusahaan agar tim IT mereka bisa bekerja lebih dekat dengan lokasi server.
Meski bisa didatangi oleh pengunjung luar, Biznet Technovillage punya protokol keamanan yang ketat dan berlapis dari pintu masuk sampai lobi. Supervisor Facility Engineering Biznet Data Center Technovillage, Puger Prabowo Kusumo Aji, menjelaskan bahwa pintu utama bangunan data center dilengkapi dengan PIN khusus yang hanya dimiliki oleh staf agar tidak sembarangan orang bisa masuk ke fasilitas data center yang menyimpan server penting pelanggan.
Di lantai pertama bangunan data center, terdapat ruangan building management systems (BMS) tempat para staf memantau kondisi data center, mulai dari CCTV 24 jam, smoke detector, dan lain-lain.
Supervisor Facility Engineering Biznet Data Center, Puger Prabowo Kusumo Aji. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Puger menyebut Biznet Technovillage secara umum juga aman dari berbagai potensi ancaman bencana alam. Lokasi data center ini, contohnya, berada di ketinggian 99 meter di atas permukaan laut, sehingga jauh dari dampak banjir.
Bangunan ini juga terletak di wilayah private sekitar 35 km dari Jakarta, membuatnya jauh dari ancaman pabrik kimia hingga huru-hara.

Biznet Technovillage, data center minim downtime

Bicara soal keandalan sumber daya listrik, Biznet Technovillage telah mendapat sertifikat Tier 3 by Facility and Design dari Uptime Institute, organisasi yang menjadi standar bagi data center di seluruh dunia.
Untuk mendapat sertifikat tersebut, Biznet Technovillage mesti memastikan bahwa sumber daya listrik punya cadangan berlapis, supaya meminimalkan downtime.
“Kalau di Tier 3 ini, yang dijual keandalan dari sistem power. Jadi, power ini harus dapat dari dua sumber PLN. Kita dapat dari PLN Bogor dan Jakarta. Kalau salah satunya blackout, ada cadangannya. Redundant. Begitu juga dengan equipment-nya, UPS (uninterruptible power supply), maupun genset, terus AC untuk pendingin, itu ada backup satu unitnya. Jadi, konfigurasinya ini N+1,” ucap Puger.
“Tier 3 hanya boleh mati 1,6 jam dalam satu tahun. Jadi, SLA (service level agreement) yang kami jual ke customer itu 99,982 persen.”
Teknisi Biznet Technovillage sedang melakukan maintenance. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Selain dua sumber PLN, Biznet Technovillage juga dilengkapi dengan UPS dan genset. Keduanya diperlukan supaya server perusahaan yang disimpan di sana enggak down saat terjadi pemadaman listrik.
UPS, misalnya, merupakan sejenis baterai cadangan yang berfungsi sebagai sumber daya sementara yang otomatis menyala saat listrik padam. Keberadaan UPS penting karena generator memerlukan waktu beberapa menit sebelum menyala. Dengan UPS, listrik di data center enggak bakal mati sedetikpun ketika sumber listrik utama padam.
“Waktu satu detik itu sangat berharga untuk si server. Kalau satu detik mati, akan berdampak luas,” tegas Puger.
Puger mengatakan bahwa UPS di Biznet Technovillage minimal dapat menjaga sumber daya listrik data center tetap aman selama 5 menit. Durasi ini cukup untuk menjaga listrik tetap mengalir sembari menunggu genset siap.
Ruangan building management systems (BMS) tempat staf Biznet memantau kondisi data center, mulai dari CCTV 24 jam, smoke detector, hingga status sumber daya listrik. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Puger menjelaskan bahwa perpaduan UPS dan genset bisa mengaliri listrik di Biznet Technovillage — yang normalnya mencapai 6 mega Watt (MW) — selama 3 hari meski tak ada pasokan listrik dari PLN.
Ketahanan sumber daya listrik di Biznet Technovillage telah terbukti pada 4 Agustus 2019 lalu, yang dikenal sebagai “Java blackout”. Kala itu, hampir seluruh wilayah Jawa mengalami padam listrik karena gangguan pada sisi transmisi PLN di Ungaran dan Pemalang.
“Waktu itu kondisinya, di sini ter-impact sembilan jam,” kata Project Sales Manager Biznet Data Center Raymond Engelbert Angdrianto. “Tapi, tidak terdampak sama sekali kepada customer Biznet Data Center.”
Project Sales Manager Biznet Data Center, Raymond Engelbert Angdrianto. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Tier 3 hanyalah salah satu dari sekian sertifikat penting yang dimiliki oleh Biznet Technovillage. Data center ini memiliki segambreng sertifikat lain, mulai dari ISO 27001 untuk keamanan data (audit setahun sekali oleh eksternal), sertifikat TVRA (Threat, Vulnerability, and Risk Assessment), OHSAS SAE 14001 untuk manajemen lingkungan, ISO 9001 untuk mutu manajemen, dan PCI DSS (sertifikat keamanan penyimpanan data).

Jadi andalan fintech dan bank

Dengan keandalan uptime dan sertifikat tersebut, Biznet dipercaya oleh banyak perusahaan terutama fintech dan bank sebagai penyedia layanan data center yang aman dan minim risiko. Menurut Raymond, sebanyak 32 persen pelanggan Biznet Technovillage berasal dari perusahaan finansial.
Selain perusahaan keuangan macam FSI, Biznet Technovillage juga menjadi tempat penyimpanan server bagi e-commerce, perusahaan pertambangan, hingga pemerintah. Perusahaan rintisan alias startup juga disebutnya mulai berlangganan data center Biznet, namun skalanya masih kecil dibanding korporasi besar.
“Kalau kita lihat customer saat ini, yang paling banyak memang financial institution. Karena financial ini sudah mulai berkembang. Bank pun sekarang mengarah ke digital banking. Terus juga e-commerce ramai-ramai ke arah sana, payment, dan lain-lain,” kata dia.
Rack containment Biznet Technovillage. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Biznet Technovillage punya enam data center hall. Luasnya mencapai 1.000 meter persegi per hall, dengan kapasitas bervariasi, mulai dari 256 rak server hingga 360 rak. Di setiap rak itu, Biznet mampu menyediakan power 2.200 Watt hingga 6.600 Watt.
Tiap-tiap data center hall ditunjang dengan AC untuk menjaga suhu rak server supaya enggak overheat. Berbeda dari AC rumahan pada umumnya, AC di ruangan data center mengaliri udara dingin melalui lantai di bawah rak. Aliran udara tersebut ditujukan untuk menjaga suhu rak server berada di rentang 21-25 derajat Celsius dengan kelembaban 40-60 persen.
Data center hall juga dilengkapi dengan smoke detector dan gas proteksi Novec 1230. Novec 1230 adalah gas khusus pemadam api dengan metode menyerap oksigen. Metode ini penting karena semprotan pemadam api biasa bakal meninggalkan sisa serbuk dan bisa bikin server jadi rusak.
Novec 1230 di Biznet Technovillage. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Data center hall di Biznet Technovillage memiliki Meet-Me Room (MMR). MMR ini berupa ruang khusus yang berisi instrumen telekomunikasi dan fiber optic dari operator, sehingga server di dalam ruangan data center memiliki akses internet secara langsung.
Layanan koneksi MMR di Biznet Technovillage telah mengadopsi carrier neutral, sehingga perusahaan pelanggan bisa sesuka hati memilih operator telekomunikasi yang mau mereka pakai untuk server mereka.
Selain menyediakan data center hall yang menyimpan server dari berbagai perusahaan, Biznet Technovillage juga menyediakan ruangan khusus bagi pelanggan yang mau berlangganan ruangan data center secara privat. Ruangan tersebut disebut secured room. Di sana, server pelanggan tidak tercampur dengan server milik pelanggan lain.
Dari enam hall yang ada di Biznet Technovillage, dua di antaranya merupakan secured room, dan sisanya shared room. Setidaknya, dua dari empat shared room itu dibangun baru-baru ini oleh Biznet Data Center karena okupansi data center sebelumnya telah mencapai 85 persen.
Pasar data center di Indonesia sendiri bernilai 1,53 miliar dolar AS pada 2020, menurut laporan firma riset pasar Mordor Intelligence. Pada 2026, nilainya diperkirakan mencapai nilai 3,07 miliar dolar AS.