Sempat Tolak Tawaran Rp 24 T Mark Zuckerberg, Jenius AI Akhirnya Gabung Meta
·waktu baca 2 menit

Meta memperkuat divisi kecerdasan buatan (AI) dengan merekrut salah satu pendiri Thinking Machines Lab, perusahaan rintisan (startup) di bidang AI, yaitu Andrew Tulloch. Sebelumnya, peneliti jenius AI itu pernah menolak penawaran fantastis dari Meta.
Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ), Tulloch telah mengumumkan kepergiannya kepada para karyawan. Perusahaan yang dipimpin oleh mantan CTO OpenAI, Mira Murati, itu mengonfirmasi hal ini.
"Ia memutuskan untuk menempuh jalan yang berbeda karena alasan pribadi," kata juru bicara Thinking Machines Lab soal kepindahan Tulloch, mengutip TechCrunch.
Kabar ini datang tak lama setelah rumor bahwa Mark Zuckerberg sebelumnya berusaha keras mengakuisisi Thinking Machines Lab. Ketika tawaran itu gagal, Meta disebut mencoba 'membajak' Tulloch dengan paket kompensasi bernilai hingga 1,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 24 triliun) selama enam tahun.
Meta sempat membantah laporan tersebut, menyebutnya “tidak akurat dan berlebihan.”
Tulloch sendiri bukan sosok asing di dunia kecerdasan buatan. Sebelum mendirikan Thinking Machines Lab, ia sempat bekerja di OpenAI dan AI Research Group di Facebook.
Thinking Machines Lab dikenal sebagai startup yang fokus membangun sistem AI umum, etis, dan mudah diakses. Perusahaan ini juga menarik banyak talenta dari OpenAI, Meta, dan Mistral untuk mengembangkan platform AI kolaboratif generasi berikutnya.
Pada Juli lalu, Thinking Machines Lab mengantongi pendanaan 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 33 triliun) dari Andreessen Horowitz, dengan partisipasi investor besar seperti Nvidia, Accel, ServiceNow, Cisco, AMD, dan Jane Street, menempatkan valuasi perusahaan di kisaran 12 miliar dolar AS (sekitar Rp 199 triliun).
Reporter: Muhamad Ardiyansyah
