Kumparan Logo

Sidang Elon Musk vs OpenAI: Tuntutan Rp 2.300 T hingga Bukti Chat Zuckerberg

kumparanTECHverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengusaha Elon Musk berbincang dengan Donald Trump saat pemberian plakat kunci gedung putih di Ruang Oval Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (30/5/2025). Foto: Nathan Howard/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Pengusaha Elon Musk berbincang dengan Donald Trump saat pemberian plakat kunci gedung putih di Ruang Oval Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (30/5/2025). Foto: Nathan Howard/Reuters

Drama perseteruan antara orang terkaya di dunia, Elon Musk, dan perusahaan di balik ChatGPT, OpenAI, kini makin memanas. Sidang gugatan yang digelar di pengadilan federal Oakland, California, Amerika Serikat ini telah memasuki pekan kedua pada Senin, (4/5).

Bukan sekadar sidang biasa, nasib masa depan AI global hingga rencana penawaran saham perdana (IPO) OpenAI yang bernilai USD 850 miliar (sekitar Rp 13.000 triliun) kini dipertaruhkan.

Musk menggugat OpenAI, CEO Sam Altman, dan Presiden Greg Brockman dengan tuntutan ganti rugi super jumbo senilai USD 150 miliar (sekitar Rp 2.300 triliun). Musk menuduh mereka telah mengkhianati misi awal perusahaan, dari organisasi nirlaba yang memprioritaskan keamanan umat manusia, berubah menjadi mesin pencetak uang.

Selain itu, Musk juga menuntut agar Altman dan Brockman dicopot dari jabatan mereka, serta meminta OpenAI dikembalikan ke status nirlaba.

Dalam pemeriksaan silang yang tegang pekan lalu, pengacara OpenAI William Savitt mencecar Musk soal dokumen term sheet tanggal 31 Agustus 2018, dokumen resmi yang membahas transisi OpenAI menjadi perusahaan for-profit (berorientasi laba) yang diawasi oleh induk nirlaba. Jawaban Musk cukup mengejutkan.

"Kesaksian saya adalah saya tidak membaca cetakan kecilnya (aturan rincinya), hanya judul utamanya saja," ujar Musk di hadapan pengadilan, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Musk bersikeras Sam Altman terus meyakinkannya bahwa OpenAI akan tetap menjadi organisasi nirlaba.

"Saya diyakinkan oleh Sam Altman dan yang lainnya bahwa OpenAI akan tetap menjadi non-profit," katanya dalam kesaksian di pengadilan.

CEO OpenAI, Sam Altman. Foto: John Macdougall/AFP

Dalam persidangan, pihak Musk sempat mencoba memasukkan kesaksian ahli yang menyebut AI memiliki risiko kepunahan bagi umat manusia. "Kita semua bisa mati," ujar pengacara Musk Steven Molo di hadapan majelis hakim, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Namun, Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers menolak kesaksian itu dan memberikan sindiran menohok.

"Saya pikir ini ironis bahwa klien Anda, terlepas dari risiko-risiko ini, justru mendirikan perusahaan di bidang yang sama persis," kata Hakim kepada pengacara Musk, merujuk pada startup AI milik Musk, xAI.

OpenAI menuding balik bahwa gugatan ini sebenarnya didasari oleh rasa iri Musk. Mereka mengklaim Musk dulu gagal mengambil alih kendali penuh atas OpenAI dan kini menggunakan pengadilan untuk menguntungkan xAI miliknya yang kalah pamor.

Salah satu momen paling mengejutkan di persidangan adalah saat Musk mengaku di bawah sumpah bahwa xAI, perusahaan AI miliknya dan pembuat chatbot Grok, menggunakan model OpenAI untuk melatih modelnya sendiri. Pengakuan ini memicu reaksi di ruang sidang.

"Ini adalah praktik standar untuk menggunakan AI lain guna memvalidasi AI milikmu," ujar Musk berdalih dalam kesaksiannya, mengutip Reuters.

Ilustrasi OpenAI. Foto: Shutterstock

Selain itu, dalam persidangan ini ratusan dokumen internal dibuka. Dari sana terbongkar keretakan hubungan para pendiri di masa lalu.

Terungkap bahwa pada akhir 2017 hingga 2018, Musk sangat khawatir melihat dominasi Google DeepMind. Berdasarkan laporan The Verge, dalam sebuah email internal Desember 2018 yang dijadikan bukti persidangan, Exhibit No. 853, Musk menilai OpenAI punya "probabilitas 0%" untuk melawan Google tanpa dana miliaran dolar.

Musk bahkan pernah mendesak agar OpenAI digabungkan dengan Tesla agar bisa mendapat aliran dana segar dan bersaing dengan Google. Namun rencana ini kandas setelah co-founder Brockman dan Sutskever menolak keras, karena mereka khawatir Musk akan memegang kendali mutlak.

Dalam sebuah email September 2017 yang kini menjadi bukti persidangan, Exhibit No. 158, keduanya secara terang-terangan menulis kepada Musk: "Tujuan OpenAI adalah menjadikan masa depan baik dan menghindari kediktatoran AGI. Kamu khawatir Demis (CEO Google DeepMind) bisa menciptakan kediktatoran AGI. Kami pun begitu. Maka akan jadi ide buruk jika kita menciptakan struktur di mana kamu bisa menjadi diktator."

Akhirnya, Musk memilih hengkang dari dewan direksi pada Februari 2018.

Salah satu bukti persidangan paling mengejutkan adalah komunikasi antara Elon Musk dan CEO Meta, Mark Zuckerberg. Pada Desember 2024, Zuckerberg mengirim iMessage ke Musk bahwa Meta telah mengirim surat kepada Jaksa Agung California yang mendukung gugatannya terhadap OpenAI. Percakapan ini kini menjadi bukti resmi di persidangan, Exhibit No. 1083.

Puncaknya, pada Februari 2025, Musk mengirim iMessage ke Zuckerberg dengan ajakan yang tak terduga: "Apakah Anda terbuka dengan ide untuk menawar (membeli) kekayaan intelektual OpenAI bersama saya dan beberapa orang lainnya?"

Zuckerberg pun merespons untuk membahasnya via telepon. Dua rival terbesar di industri AI diam-diam berencana membagi aset OpenAI di antara mereka.

Apa selanjutnya?

Sidang ini masih akan berlangsung alot. Hari ini, Senin (4/5), giliran Presiden OpenAI Greg Brockman yang akan bersaksi di hadapan pengacara Musk, sebagaimana dilaporkan AFP. Sementara sang CEO, Sam Altman, yang dalam 10 tahun telah berubah dari protege Musk menjadi rival pahitnya, dijadwalkan baru akan duduk di kursi saksi pada pekan depan (11 Mei), dikutip AFP. CEO Microsoft Satya Nadella, yang perusahaannya turut digugat atas dugaan membantu transformasi komersial OpenAI, juga dikabarkan akan ikut bersaksi.

Jika Hakim memenangkan Musk, OpenAI bisa dipaksa kembali menjadi yayasan nirlaba, Altman dan Brockman dicopot dari jabatan mereka, dan ambisi OpenAI untuk merajai pasar komersial AI, termasuk rencana IPO senilai USD 850 miliar, bisa hancur berantakan.