Kumparan Logo

Teknologi Ini Dapat Deteksi Kebohongan Lewat Mata

kumparanTECHverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Teknologi EyeDetech. (Foto: Converus)
zoom-in-whitePerbesar
Teknologi EyeDetech. (Foto: Converus)

Mereka bilang "mata adalah jendela hati". Para ilmuwan kini akan membuktikan hal tersebut dengan membuat pendeteksi kebohongan lewat pupil mata. Wah, canggih ya, bagaimana caranya?

Kini, sebuah perusahaan yang berbasis di Utah, Amerika Serikat, bernama Converus, sedang melakukan sebuah uji coba menggunakan kamera untuk melacak pupil mata dan mendeteksi kebohongan.

Fungsi pupil ternyata tidak hanya sebagai pengatur cahaya yang masuk ke dalam mata, tapi juga sebagai pendeteksi kebohongan yang akan melebar sedikit saat seseorang berbohong.

Perubahan pada pupil itu sangat kecil, hanya satu sepersekian milimeter, dan rata-rata orang tidak akan menyadarinya. Oleh karena itu, Converus mengembangkan sebuah teknologi yang bisa mendeteksi kebohongan melalui perubahan pupil mata.

Teknologi ini bernama EyeDetect, sejenis poligraf atau alat untuk mendeteksi kebohongan, yang kini sedang populer karena harganya yang terjangkau, dengan mesin seharga 4 ribu dolar AS (setara Rp 54,2 juta), ditambah lagi 50 dolar AS (setara Rp 678 ribu)) hingga 150 dolar AS (setara Rp 2 juta) setiap kali melakukan penilaian kebohongan.

X post embed

Para ilmuwan telah mengujicoba dan melihat bahwa EyeDetect ini memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi, yaitu sebesar 90 persen.

"Ini adalah sesuatu yang revolusioner yang akan mengubah seluruh bidang yang mendeteksi kebohongan," kata Juan Becerra, seorang penyelidik di Keamanan dan Investigasi Panther, kepada CNN.

Mendeteksi kebohongan pakai EyeDetect

EyeDetect, yang diluncurkan pada tahun 2014 ini, telah digunakan di 34 negara sebagai alat untuk melakukan interview pekerjaan dan investigasi korporat. Seperti contohnya, bank-bank di Amerika Latin, menggunakan teknologi untuk menentukan apakah teller di bank tersebut dapat dipercaya atau tidak.

Seseorang yang diuji menggunakan EyeDetect duduk dan diberikan pertanyaan benar atau salah melalui tablet. Lalu, pada kamera dipasang sensor inframerah untuk melacak gerakan mata, yang berkedip atau pupil mata yang melebar.

Setelah menyelesaikan ujian selama 30 menit, algoritma alat ini akan memberikan penilaian tingkat kejujuran mereka dari skala nol hingga 100.

video youtube embed

Dilansir CNN, beberapa badan penegakan hukum Amerika Serikat telah menggunakan EyeDetect untuk keperluan penyelidikan.

Padahal, perusahaan Converus awalnya hanya berfokus untuk mengembangkan EyeDetect di luar Amerika karena ada undang-undang yang membatasi sektor swasta untuk melakukan uji deteksi kebohongan, kecuali untuk kepentingan negara.

Oleh karena itu, sekarang Converus telah memperluas penggunaan EyeDetect di Amerika untuk kepentingan perekrutan kerja sektor pemerintahan.

Ilustrasi mata. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mata. (Foto: Pixabay)

Pusat Penilaian Kredibilitas Nasional (National Center for Credibility Assessmen), badan federal yang mengawasi pengujian poligraf pada badan-badan federal lain, belum memberikan dukungan terhadap penggunaan EyeDetect untuk digunakan di sektor pemerintahan.

Kepada CNN Tech, juru bicara lembaga tersebut mengatakan bahwa mereka akan melakukan riset dan evaluasi terlebih dahulu pada EyeDetect pada tahun depan.

Keuntungan EyeDetect bagi perusahaan

CEO Converus, Todd Mickelsen, mengatakan bahwa 80 persen keuntungan yang mereka dapatkan datang dari bank dan bisnis-bisnis yang belum pernah menggunakan poligraf sebelumnya.

Perusahaan-perusahaan tersebut ingin memastikan bahwa pegawai mereka dapat mencegah terjadinya korupsi. Menggunakan EyeDetect, mereka menanyakan apakah mereka pernah melakukan suatu hal yang membuat mereka dikeluarkan dari pekerjaan mereka sebelumnya.

Menurut David Raskin, profesor University of Utah yang kini telah pensiun dan menjadi anggota tim EyeDetect, mengatakan pupil mata kita melebar ketika berbohong karena berbohong membutuhkan energi mental yang lebih besar.

Teknologi EyeDetech. (Foto: Converus)
zoom-in-whitePerbesar
Teknologi EyeDetech. (Foto: Converus)

Raskin dan sekelompok peneliti poligraf terkemuka tertarik untuk melakukan untuk melakukan tes optik pendeteksi kebohongan melalui mata. Hasil uji poligraf mungkin saja bias karena manusia sendiri yang menciptakan dan mengelolanya. Tapi, EyeDetect sepenuhnya menggunakan unsur teknologi tanpa ada unsur manusia.

EyeDetect kini sedang dikembangkan untuk tes lisan, sehingga tidak hanya pertanyaan benar atau salah saja yang bisa diajukan, tapi juga jawaban uraian.

"Banyak industri poligraf yang merasa terancam dan sangat melindungi (industri mereka). Mereka merasa EyeDetect akan menggantikan mereka. Siapa yang tahu, mungkin iya, di masa depan. Tapi untuk sekarang, EyeDetect tidak semengancam itu," papar Raskin.