Telkom Mainkan Peran Penting Ekosistem Internet of Things di Indonesia
·waktu baca 4 menit

Operator telekomunikasi seperti Telkom memainkan peran penting dalam mengembangkan ekosistem Internet of Things di Indonesia, menurut analis.
Internet of Things – atau yang biasa disebut sebagai IoT – merujuk kepada jaringan perangkat fisik yang dilengkapi sensor dan terhubung satu sama lain di dalam internet. Sistem ini diprediksi dapat merevolusi cara hidup dan mode produksi masyarakat dalam waktu dekat.
Aplikasi dan gadget memang menjadi bagian penting dari Internet of Things. Namun, mereka bukanlah pendorong kemunculan ekosistem IoT, menurut--partner Bain & Company--Kiran Karunakaran.
Menurutnya, justru operator telekomunikasilah yang memainkan peran tersebut.
“Bisakah operator telekomunikasi secara umum memainkan peran sebagai provider platform IoT? Jawaban saya, ya. Itu adalah kesempatannya,” kata Kiran dalam talkshow bertajuk 'Building Actionable Roadmap for IoT Digital Ecosystem' yang diselenggarakan di Paviliun Indonesia di kawasan Expo 2020 Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (5/1).
Kiran menjelaskan, gadget memang merupakan bagian Internet of Things yang paling mudah dikenali masyarakat. Aplikasi yang terpasang dalam gadget, di sisi lain, memainkan peran penting dalam memproses data yang diambil sebuah perangkat.
Namun kata Kiran, manufaktur perangkat dan pengembang aplikasi semata tak bisa menjawab tantangan bagaimana mengintegrasikan gadget dan software yang terfragmentasi dan beragam.
“Jika Anda melihat telco secara historis, kami selalu jadi platform bisnis. Kami tidak pernah jadi pembuat perangkat, kami tidak pernah mengontrol distribusi secara penuh,” kata Kiran.
Nilai yang selalu telco berikan adalah integrasi. Saya selalu yakin bahwa masalahnya akan selesai ketika telco di dalamnya mengambil tanggung jawab untuk mendirikan platform tersebut.
- Kiran Karunakaran, partner Bain & Company -
Telkom saat ini memang tengah berambisi untuk masuk ke dalam bisnis Internet of Things. Pada 2016 lalu, perusahaan tersebut telah mendirikan platform Internet of Things bernama Antares.
Menurut EVP Digital Business & Technology Telkom, Saiful Hidayat, solusi berbasis Internet of Things dari Antares telah terimplementasi dalam berbagai industri di Indonesia. Use case Internet of Things dari Antares ini misalnya otomatisasi peternakan ayam milik PT Sreeya Sewu Indonesia, Tbk. dan digitalisasi untuk pabrik Kimia Farma untuk efisiensi biaya produksi.
Solusi berbasis Internet of Things dari Antares juga digunakan untuk monitoring kualitas air hingga distribusi vaksin COVID-19 di pelosok Tanah Air.
“Ada banyak peluang di Indonesia karena pasarnya sangat besar. Kami tidak bisa melakukannya sendiri meskipun kami operator petahana di Indonesia. Kami mengundang (berbagai pihak) untuk bekerja bersama kami,” ungkap Saiful pada kesempatan yang sama.
Masih perlu ada kolaborasi untuk bagaimana kami memiliki perangkat yang terjangkau dan dapat diandalkan – karena tetap saja kunci dan use cost di IoT adalah tentang perangkat itu sendiri. Kami juga terbuka untuk bekerja sama dalam hal konsultasi business process karena kami tahu solusi IoT sangat unik untuk case-nya sendiri.
- Saiful Hidayat, EVP Digital Business & Technology Telkom -
Pasar Internet of Things di Indonesia sendiri diperkirakan bakal menghasilkan pendapatan hingga Rp 144 triliun pada 2024 mendatang, menurut laporan firma riset IDC. Industri manufaktur diprediksi menjadi sektor yang mendorong integrasi Internet of Things, dengan proyeksi lebih dari 15 ribu use case pada 2024 mendatang.
Kendati punya potensi pasar yang besar dan sejumlah bukti implementasi yang sukses, ekosistem Internet of Things memiliki sejumlah tantangan. Menurut pemaparan Kiran, beberapa tantangan tersebut termasuk kekhawatiran pada aspek keamanan dan return of investment yang belum jelas, serta belum adanya standarisasi perangkat Internet of Things.
Tantangan ekosistem Internet of Things juga menyangkut lambatnya regulasi yang mengatur implementasi IoT hingga berdampak pada berkurangnya adopsi dalam dua tahun ke depan, menurut Kiran.
“Ekspektasi adopsi (IoT) telah berkurang. Kami melakukan laporan tahunan yang berfokus pada perangkat IoT. Dalam laporan tahunan kami tahun sebelumnya, kami memperkirakan setidaknya ada 102 miliar perangkat – namun sekarang kami cuma memperkirakan 79 miliar perangkat saja,” jelas Kiran.
“Penurunan ini terjadi karena lambatnya implementasi dan POC (proof of concept). Dan, lambatnya implementasi dan POC di seluruh dunia terjadi karena regulasi belum mengikuti perkembangan teknologi untuk mengaktifkannya,” paparnya.
