Zalora Dilaporkan Mau Angkat Kaki dari Indonesia

Setelah meninggalkan pasar Vietnam dan Thailand pada tahun lalu, situs e-commerce fesyen Zalora dilaporkan akan kembali meninggalkan dua pasar Asia Tenggara, yakni Filipina dan Indonesia, menurut laporan Tech Crunch. Zalora di Filipina telah sepakat untuk menjual 49 persen sahamnya kepada perusahaan real estate Ayala Group, seperti dilaporkan oleh blog teknologi E27 asal Singapura. Hal yang sama diprediksi juga terjadi di Indonesia karena saat ini Zalora dilaporkan tengah melakukan negosiasi dengan perusahaan ritel gaya hidup PT Mitra Adiperkasa (MAP) terkait investasi atau bahkan akuisisi, kata seorang sumber kepada blog teknologi Tech Crunch. Update (Senin, 27 Februari 2017): CEO Zalora Group Parker Gundersen, membantah laporan ini dengan mengatakan bahwa itu "tidak akurat" sekaligus menegaskan bahwa pasar Indonesia adalah peluang besar bagi bagi kawasan Asia Tenggara untuk beberapa tahun ke depan. "Jadi beberapa laporan yang mengatakan Zalora tinggalkan pasar Filipina dan Indonesia, itu tidak terjadi. Indonesia merupakan salah satu peluang terbesar untuk e-commerce di Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan..." katanya seperti dikutip dari e27. Dia menjelaskan kerja sama Zalora dengan MAP hari ini terjalin sebagai pemasok dan kedua pihak melakukan diskusi untuk menambah pasokan dari merek-merek tertentu di Indonesa. Dia pun menggarisbawahi tidak ada diskusi khusus terkait investasi langsung MAP ke Zalora. MAP, yang saat ini mengoperasikan hampir 2.000 outlet ritel di Indonesia., juga memiliki toko online MAPEmall.com yang menjual berbagai merek. Namun, situs ini terbilang baru dan masih terus berjuang keras untuk mendapat perhatian masyarakat. Zalora, yang didirikan pada 2012, sekarang beroperasi di bawah manajemen Global Fashion Group (GFG). Ini adalah perusahaan holding yang dibangun Rocket Internet di tahun 2014 untuk mengendalikan bisnis e-commerce fesyen jaringan Rocket Internet di seluruh dunia. Ketidakharmonisan Zalora dengan manajemen GFG bisa menjadi penyebab e-commerce ini membuka negosiasi dengan MAP. Beberapa tahun terakhir, Zalora dan GFG sering berbeda pendapat terkait target bisnis yang dijalankan. Tech Crunch melaporkan perselisihan antara dua manajemen itu terjadi karena Zalora percaya bisnis mereka ini lebih cocok dan menguntungkan di Asia, sedangkan manajemen GFG mengklaim regional Timur Tengah merupakan pasar yang potensial bagi Zalora untuk melanjutkan bisnisnya. Perselisihan ini membuat sejumlah eksekutif Zalora angkat kaki dari perusahaan.

Di Indonesia, 2016 merupakan tahun yang sangat menantang bagi e-commerce lokal yang bergerak di bidang fesyen. Perusahaan seperti Berrybenka dan SaleStock yang punya nama besar, disebut-sebut harus memangkas karyawannya demi efisiensi di berbagai sisi. Beberapa pemain kecil seperti Lolalola terpaksa harus menutup bisnisnya di tahun 2016, ada pula yang melakukan merger seperti dilakukan Moxy dengan Bilna yang kini jadi Orami. Pendekatan O2O (Online to Offline) diyakini menjadi formula yang tepat bagi beberapa platform e-commerce lokal.
