Aplikasi Darurat Ukraina dan Rusia Diretas, Kirim Peringatan Nuklir Palsu

kumparanTEKNOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Ukraina berlindung di dalam stasiun kereta bawah tanah selama serangan rudal Rusia menghujani Kiev, Ukraina pada Selasa (11/10/2022). Foto: Viacheslav Ratynskyi/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Warga Ukraina berlindung di dalam stasiun kereta bawah tanah selama serangan rudal Rusia menghujani Kiev, Ukraina pada Selasa (11/10/2022). Foto: Viacheslav Ratynskyi/Reuters

Peretas membobol aplikasi peringatan darurat resmi milik pemerintah Ukraina dan Rusia secara hampir bersamaan pada Minggu (1/11/2026) malam. Serangan siber terkoordinasi ini memicu kepanikan singkat setelah sistem menyebarkan pesan peringatan palsu mengenai serangan rudal nuklir, radiasi kimia, hingga pertempuran jalanan kepada warga di kedua negara.

Di Kyiv, aplikasi peringatan serangan udara nasional menyiarkan notifikasi bahaya level merah sesaat sebelum pukul 23.00 waktu setempat. Pesan hoaks tersebut mengeklaim militer Rusia telah meluncurkan rudal hipersonik Oreshnik berhulu ledak nuklir ke wilayah Ukraina.

Selang beberapa jam kemudian, peretas menargetkan aplikasi milik Kementerian Situasi Darurat Rusia di Moskow.

Peretas menyusupkan instruksi palsu yang memerintahkan warga Rusia segera menimbun pasokan makanan untuk tiga pekan dan berlindung di ruang bawah tanah akibat ancaman serangan drone nuklir Ukraina.

Insiden peretasan ganda ini menargetkan infrastruktur peringatan publik vital di tengah eskalasi konflik kedua negara.

Ilustrasi hacker. Foto: DC Studio/Shutterstock

Respons otoritas dan fakta di balik pesan palsu

Otoritas Ukraina segera bergerak cepat meredam kepanikan masyarakat. Angkatan Udara Ukraina mengonfirmasi peretasan tersebut dan meminta warga beralih memantau saluran komunikasi alternatif.

"Aplikasi peringatan udara tampaknya telah dipengaruhi oleh musuh. Tidak ada ancaman radiasi! Tetap tenang dan ikuti pembaruan di saluran kami," tulis Angkatan Udara Ukraina melalui pernyataan resmi di Telegram, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Warga Kyiv dengan cepat menyadari kejanggalan sistem tersebut karena pesan ancaman disiarkan menggunakan bahasa Rusia. Berdasarkan regulasi resmi Ukraina, seluruh saluran komunikasi pemerintah wajib menggunakan bahasa Ukraina.

Kementerian Transformasi Digital Ukraina langsung menonaktifkan sementara operasional aplikasi guna melakukan investigasi forensik dan pemeliharaan sistem keamanan.

Di sisi lain, kelompok peretas pro-Ukraina bernama Atesh mengunggah tangkapan layar antarmuka aplikasi Rusia yang berhasil ditembus ke saluran Telegram mereka. Notifikasi palsu di Rusia tersebut memuat kata-kata kasar dan ejekan nonresmi. Kendati demikian, belum diketahui siapa dalang dari aksi peretasan ini.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan seluruh infrastruktur internet pemerintah Rusia memang menghadapi serangan siber tanpa henti sepanjang waktu, sembari menyebut perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut mendorong intensitas ancaman digital tersebut.

Pakar keamanan siber melihat peristiwa ini sebagai babak baru taktik perang informasi antara kedua negara yang bertikai. Peneliti senior kebijakan siber dari Stanford University, Herbert Lin, menilai insiden pembajakan aplikasi sipil ini menjadi preseden berbahaya bagi keamanan data publik.

"Saya rasa ini pertama kalinya peretasan semacam ini menimpa aplikasi informasi resmi Ukraina, tetapi saya menduga ini bukan yang terakhir," ujar Herbert Lin kepada program Newsday BBC World Service.