AS Sebut CEO Nvidia Jadi Target Mata-mata China Lewat Agen di Singapura

kumparanTEKNOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden, dan CEO Nvidia, Jensen Huang, meninggalkan lokasi setelah menghadiri upacara penyambutan Presiden AS Donald Trump oleh Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing, China (14/5/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden, dan CEO Nvidia, Jensen Huang, meninggalkan lokasi setelah menghadiri upacara penyambutan Presiden AS Donald Trump oleh Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing, China (14/5/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERS

Lembaga intelijen Amerika Serikat menduga Chief Executive Officer (CEO) Nvidia, Jensen Huang, menjadi target dari operasi intelijen yang melibatkan seorang eksekutif asal China. Informasi ini terkuak berdasarkan laporan The New York Times.

Sosok yang berada di pusat tuduhan tersebut adalah Alice Huang (perempuan yang dikenal juga sebagai Huang Le). Meski memiliki nama belakang yang sama, Alice dipastikan tidak memiliki hubungan keluarga dengan pimpinan Nvidia tersebut.

Alice merupakan eksekutif di Megaspeed, perusahaan penyedia layanan pusat data (data center) yang berpusat di Singapura.

Dicurigai Selundupkan Chip ke China

Otoritas Amerika Serikat sebenarnya telah lama memantau pergerakan Alice Huang. Awalnya, ia dicurigai memfasilitasi penyelundupan chip canggih Nvidia ke China untuk menyiasati pembatasan ekspor yang diterapkan pemerintah AS demi alasan keamanan nasional.

Namun, dari hasil pengawasan ketat, pejabat intelijen AS berkesimpulan bahwa peran Alice melampaui urusan bisnis semata. Ia dinilai bertindak sebagai aset intelijen pemerintah Beijing yang bertugas mengumpulkan dan meneruskan informasi komersial strategis langsung ke China.

CEO Nvidia Jensen Huang berbicara dalam pertemuan internal perusahaan di lahan kavling T17 dan T18 mereka di Shilin-Beitou Technology Park di Taipei, Taiwan, Rabu (27/5/2026). Foto: I-HWA CHENG/AFP

Selama pemantauan berjalan, para pejabat AS menemukan Alice Huang berhasil membangun hubungan profesional yang dekat dengan Jensen Huang.

Fakta ini memicu kewaspadaan di lingkungan Gedung Putih. Nvidia saat ini merupakan tulang punggung dalam perlombaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan Jensen Huang sendiri memegang posisi sangat berpengaruh serta menjalin kemitraan erat dengan Presiden AS Donald Trump.

Akses Alice ke lingkaran utama industri AI AS ini dinilai berpotensi mengancam posisi dominan Amerika dalam persaingan teknologi global.

New York Times melaporkan sekitar setahun ke belakang Presiden AS Donald Trump diberi laporan mengenai temuan intelijen tersebut, namun tak ada tindak lanjut soal laporan tersebut. Gedung Putih disebut menolak berkomentar terhadap kabar ini.

Menanggapi kabar ini, Kedubes China di Washington menyebut AS tengah melancarkan kampanye fitnah dan tuduhan tak berdasar terhadap China.

Kantor perusahaan Nvidia di Taiwan. Foto: AlmondYue/Shutterstock

Nvidia Membantah

Menanggapi kabar tersebut, pihak Nvidia menegaskan tidak ada hal abnormal dalam interaksi yang terjadi antara CEO mereka dan Alice Huang.

Juru bicara Nvidia menyatakan bahwa interaksi dengan para pemimpin perusahaan mitra merupakan hal biasa dalam operasional harian seorang CEO.

"Pertemuan dengan pelanggan adalah bagian dari tugas seorang CEO; Jensen berkomunikasi dengan ribuan eksekutif pelanggan setiap tahunnya," terang perwakilan Nvidia.

Nvidia juga memastikan bahwa Megaspeed hanya menerima informasi bisnis umum. Pihak perusahaan menegaskan tidak ada rahasia dagang sensitif maupun informasi yang berkaitan dengan keamanan nasional yang dibagikan dalam pertemuan tersebut.