CEO Nvidia Jensen Huang Tolak Regulasi AI, Manusia Masih Bisa Kontrol AI

kumparanTEKNOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden, dan CEO Nvidia, Jensen Huang, meninggalkan lokasi setelah menghadiri upacara penyambutan Presiden AS Donald Trump oleh Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing, China (14/5/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Presiden, dan CEO Nvidia, Jensen Huang, meninggalkan lokasi setelah menghadiri upacara penyambutan Presiden AS Donald Trump oleh Presiden China Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing, China (14/5/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERS

Pendiri dan CEO Nvidia, Jensen Huang, menolak gagasan pembentukan regulasi baru untuk mengendalikan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Ia menilai manusia tetap dapat mengontrol teknologi tersebut melalui rekayasa teknis dan hukum yang sudah berlaku.

Jensen Huang menyampaikan pandangannya saat berbicara dalam konferensi Dreamforce 2026 yang digelar Salesforce di San Francisco, Amerika Serikat, Selasa (15/9). Ia tidak sepakat dengan anggapan bahwa AI merupakan bentuk pikiran asing yang sulit dipahami manusia.

"Keselamatan adalah masalah rekayasa, bukan masalah hukum," kata Huang, sebagaimana dilaporkan TechCrunch.

Menurut Huang, kecerdasan buatan tetap merupakan peranti lunak yang berjalan di atas sistem komputasi buatan manusia. Sistem tersebut memang kompleks, tetapi pengembang masih bisa merancang, menguji, dan mengendalikannya.

Atas dasar itu, Huang menganggap pemerintah tidak perlu membuat undang-undang atau regulasi baru khusus untuk AI. Ia percaya mekanisme pasar akan mendorong perusahaan mengutamakan keamanan sebelum meluncurkan produk.

Jika perusahaan belum yakin terhadap fungsi, kemampuan, atau keamanan sebuah produk, menurut Huang, perusahaan tersebut seharusnya menunda peluncuran. Pengembang dapat melanjutkan inovasi setelah memastikan produknya bekerja sesuai tujuan dan dapat diterima pasar.

"Kekuatan pasar sudah ada. Kita tidak memerlukan undang-undang atau regulasi baru," ujarnya.

CEO Nvidia Jensen Huang berbicara dalam pertemuan internal perusahaan di lahan kavling T17 dan T18 mereka di Shilin-Beitou Technology Park di Taipei, Taiwan, Rabu (27/5/2026). Foto: I-HWA CHENG/AFP

Huang juga menolak anggapan bahwa perusahaan harus memilih antara bergerak cepat dan menghasilkan produk yang aman. Ia menilai inovasi dan keamanan dapat berjalan bersamaan.

Perusahaan, kata Huang, bisa mengembangkan AI secepat mungkin. Namun, mereka harus berhenti sementara ketika sistem mulai tidak terkendali atau menunjukkan risiko keselamatan.

Beda Posisi Nvidia dengan Perusahaan AI Lain

Sikap Huang muncul saat para pemimpin industri teknologi berbeda pandangan mengenai cara mengendalikan AI yang semakin canggih.

CEO Anthropic, Dario Amodei, mendorong peningkatan praktik keselamatan internal, pembentukan standar industri, dan koordinasi internasional. Huang mengambil posisi berbeda dengan menyerahkan keputusan keamanan kepada masing-masing perusahaan dan mekanisme pasar. Perbedaan pandangan tersebut terlihat dalam rangkaian diskusi Dreamforce 2026, menurut laporan Seoul Economic Daily.

Microsoft CEO, Satya Nadella, juga menilai pembahasan keselamatan AI perlu melibatkan negara lain, termasuk China. Risiko seperti peretasan dan penyalahgunaan AI, menurutnya, tidak hanya akan berdampak kepada Amerika Serikat.

Huang selama ini mendukung penggunaan model AI berbobot terbuka atau open-weight. Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan mengembangkan dan menyesuaikan model sendiri sebagai alternatif dari sistem tertutup milik laboratorium AI besar.

Namun, penolakan Huang terhadap regulasi baru juga memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan industri mengawasi dirinya sendiri. Nvidia memperoleh pertumbuhan besar dari lonjakan permintaan chip, sistem komputasi, peranti lunak, dan infrastruktur AI. Aturan yang lebih ketat berpotensi memperlambat pembangunan data center dan penjualan perangkat AI.

Ilustrasi Nvidia. Foto: PhotoGranary02/Shutterstock

Keamanan Teknis Belum Menghapus Risiko

Kepercayaan terhadap pengujian perusahaan tidak selalu cukup untuk mencegah kegagalan produk. Gangguan perangkat lunak CrowdStrike pada 2024, misalnya, membuat jutaan komputer Windows bermasalah dan mengganggu ribuan penerbangan.

Industri AI juga telah menghadapi insiden keamanan. Dalam evaluasi keamanan siber pada Juli 2026, model OpenAI berhasil melewati sistem isolasi dan mengakses sebagian infrastruktur internal perusahaan serta sistem Hugging Face. OpenAI menyatakan insiden tersebut tidak memengaruhi data pelanggan, fungsi produk, maupun ketersediaan layanan. Perusahaan kemudian memperkuat sistem pemantauan dan pengamanan model, sebagaimana dijelaskan dalam laporan resmi OpenAI.

Insiden tersebut menunjukkan bahwa sistem AI dapat menghasilkan tindakan yang tidak direncanakan meski berjalan dalam lingkungan pengujian. Pengawasan internal, tekanan pasar, hukum pertanggungjawaban produk, dan regulasi pemerintah pun kembali menjadi bahan perdebatan.