CEO SoftBank Masayoshi Son Mulai Khawatir AI Bisa Sangat Berbahaya

kumparanTEKNOverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Masayoshi Son, CEO SoftBank. Foto: Sam Yeh/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Masayoshi Son, CEO SoftBank. Foto: Sam Yeh/AFP

Masayoshi Son, CEO SoftBank Group, mengaku khawatir terhadap risiko keamanan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang saat ini berkembang pesat. Kekhawatiran Son muncul ketika kemampuan AI mulai tak terkendali, dan bahkan mulai mampu melakukan lebih banyak hal. Padahal, Son sebelumnya dikenal sebagai salah satu orang yang paling mendukung perkembangan teknologi tersebut.

Son mengatakan meningkatnya kemampuan AI secara eksponensial membuat negara-negara perlu membangun kepercayaan agar dapat memanfaatkan teknologi tersebut secara bersama-sama. Ia menyampaikan hal itu dalam sebuah diskusi bersama Michael Kratsios, penasihat kebijakan sains dan teknologi Gedung Putih, di sela forum Science and Technology in Society di Kyoto, Jepang, Minggu (5/10).

Menurutnya, negara-negara perlu bekerja sama untuk mengendalikan ancaman jauh lebih besar yang muncul dari model AI berkemampuan tinggi. Ia memperingatkan bahwa super intelligence atau kecerdasan super di tangan yang salah bisa menjadi sangat berbahaya.

Pernyataan Son terbilang tak biasa mengingat selama bertahun-tahun ia menjadi salah satu pendukung pengembangan AI. Kekhawatirannya muncul di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap keamanan AI yang dalam beberapa bulan terakhir model AI dilaporkan melakukan peretasan secara mandiri.

Son yang merupakan miliarder Jepang berusia 69 tahun diketahui telah mengarahkan dana SoftBank senilai hampir 65 miliar dolar AS ke OpenAI. Selama bertahun-tahun, Son juga berbicara ihwal kemampuan AI dalam membantu bisnisnya, sekaligus membantu manusia.

Ilustrasi artificial intelligence. Foto: Shutterstock

Son mengatakan kemampuan layanan AI akan terus berkembang secara eksponensial. Teknologi yang saat ini digunakan untuk menjalankan chatbot sudah mulai membantu layanan AI menjelajahi situs web dan menulis kode dengan memanfaatkan semakin banyak chip serbaguna.

Menurut Son, program-program tersebut kemudian akan memasuki tahap ketiga. Mulai tahun depan, AI diperkirakan siap membantu robot dan mesin lainnya untuk berinteraksi dengan dunia fisik.

Son juga kembali menyampaikan prediksi jangka panjangnya bahwa AI dan mesin yang memiliki kemampuan belajar akan menyumbang setidaknya 20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) global pada 2040.

Nilai tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 46 triliun dolar AS.

“Ini baru permulaan,” kata Son.

Di sisi lain, Kratsios berpendapat bahwa AI dapat mengubah cara penelitian ilmiah dilakukan. Dalam laboratorium cloud otomatis yang beroperasi dalam skala industri, sistem robotik dapat menjalankan ratusan eksperimen secara paralel.

Data dari eksperimen tersebut kemudian dapat digunakan untuk analisis secara real-time dan menyempurnakan hipotesis penelitian. Artinya, AI masih berperan besar terutama dalam mendukung operasional dan riset.

“Dalam laboratorium cloud otomatis yang beroperasi pada skala industri, sistem robotik akan melakukan ratusan eksperimen secara paralel, menghasilkan data yang kemudian digunakan untuk analisis real-time dan penyempurnaan hipotesis,” ujar Kratsios.

Ia menambahkan, mesin juga mampu mensintesis ribuan makalah penelitian dan memadatkan penelitian yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun menjadi puluhan jam kerja oleh pasukan agen digital yang membantu para peneliti manusia.