Elon Musk Direkrut Pentagon buat Riset Masa Depan Perang di Bumi hingga Bulan

Elon Musk kembali mengambil peran di pemerintahan Amerika Serikat setelah sekitar setahun mundur dari jabatan sebelumnya. Kali ini, Musk ditunjuk untuk memimpin sebuah inisiatif Pentagon yang disebut Project Meridian, yang berfokus pada riset masa depan peperangan.
Penunjukan ini diumumkan oleh Menteri Pertahanan (Departemen Perang) AS, Pete Hegseth, dalam pidatonya di pangkalan militer Quantico, Rabu (1/10/2026) waktu setempat. Musk akan memimpin proyek ini bersama dua tokoh lain, yaitu pendiri perusahaan pertahanan Anduril Industries, Palmer Luckey, dan mantan Ketua DPR AS dari Partai Republik, Newt Gingrich.
Hegseth menyebut Project Meridian sebagai upaya mengerahkan talenta-talenta terbaik Amerika untuk mengkaji masa depan peperangan.
Menurut laporan Departemen Perang AS, proyek ini akan meneliti berbagai kemungkinan medan tempur di masa depan, mulai dari bawah tanah, hingga wilayah antara Bumi dan Bulan, guna mengidentifikasi kemampuan teknologi yang dibutuhkan agar AS tetap unggul.
Kelompok tersebut akan “mempelajari medan perang masa depan” dan “mengidentifikasi senjata dan teknologi apa yang dibutuhkan para prajurit untuk mendominasi di lingkungan tersebut,” kata Hegseth dalam memo Pentagon. Kelompok tersebut diharapkan akan menyampaikan laporan berisi rekomendasi kepadanya pada akhir Januari.
Proyek ini dijadwalkan berjalan selama 120 hari. Hasil akhirnya akan dirilis dalam bentuk laporan tidak rahasia untuk publik, dengan lampiran tambahan berklasifikasi rahasia yang memuat temuan dan rekomendasi lebih rinci.
Musk sejak lama menyatakan keyakinannya bahwa perang pada akhirnya akan dilakukan dengan menggunakan drone otonom.
“Perang di masa depan semuanya tentang drone & rudal hipersonik,” kata Musk pada tahun 2024, salah satu dari banyak pernyataan serupa dalam beberapa tahun terakhir.
Penunjukan ini menandai kembalinya Musk ke peran resmi di pemerintahan setelah ia mundur dari jabatan Kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (Department of Government Efficiency/DOGE) pada Mei 2025, yang saat itu diwarnai perpecahan hubungannya dengan Presiden Donald Trump. Semasa memimpin DOGE, Musk dikenal mendorong pemangkasan besar-besaran jumlah pegawai di berbagai lembaga pemerintah federal AS.
Langkah ini turut menuai sorotan dari sejumlah kalangan. Sejumlah media AS, termasuk The Washington Post dan HuffPost, menyoroti potensi benturan kepentingan, mengingat perusahaan-perusahaan milik Musk, seperti SpaceX dan xAI, sudah menjadi mitra kontraktor besar Pentagon. SpaceX diketahui tengah membangun jaringan satelit untuk proyek perisai pertahanan rudal "Golden Dome" milik Trump, sementara perusahaan AI milik Musk, xAI, tahun ini juga meneken kerja sama yang mengizinkan militer AS menggunakan chatbot Grok pada sistem militer berklasifikasi rahasia.
Keterlibatan Musk dalam urusan pertahanan sebelumnya juga pernah memicu kontroversi. Pada awal 2025, Trump dan Hegseth sempat membantah laporan yang menyebut Musk akan menerima pengarahan rencana perang AS dengan China saat berkunjung ke Pentagon, dengan menyebut laporan tersebut tidak benar.
