Komdigi Siap Gelar Bali Tech Week 2026: Target Perkuat Investasi Teknologi

kumparanTEKNOverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menkomdigi Meutya Hafid (kiri) didampingi Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi Fifi Aleyda Yahya (kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat media gathering di Jakarta, Senin (3/8/2026).  Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menkomdigi Meutya Hafid (kiri) didampingi Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi Fifi Aleyda Yahya (kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat media gathering di Jakarta, Senin (3/8/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) siap menggelar Bali Tech Week 2026 sebagai ajang teknologi yang mempertemukan investor, pelaku industri, inovator, dan komunitas digital dari dalam maupun luar negeri.

Acara ini akan berlangsung pada 19–23 Oktober 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali, dan diharapkan bisa memperkuat investasi teknologi, mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

“Pada prinsipnya, kita tahu bahwa sekarang pertumbuhan ekonomi dunia amat sangat bergantung kepada digitalisasi. Kepada bagaimana sebuah negara pertumbuhan infrastrukturnya dan juga menyiapkan teknologi digitalnya,” ujar Menkomdigi Meutya Hafid dalam konferensi pers di Komdigi, Selasa (13/10).

Menurut Meutya, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi digital. Nilai gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai 99 miliar dolar AS pada 2025, dengan pertumbuhan sekitar 14 persen.

Meski demikian, potensi pasar yang besar perlu diimbangi dengan investasi teknologi, penguatan inovasi, serta peningkatan kapabilitas digital. Upaya tersebut dinilai penting agar pertumbuhan ekonomi digital dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar di dalam negeri.

Ilustrasi belajar AI. Foto: Summit Art Creations/Shutterstock

Oleh karena itu, pemerintah tidak bisa membangun kepercayaan investor hanya dengan mengandalkan upaya sendiri. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), perusahaan swasta, investor, inovator, komunitas, akademisi, dan pakar, baik dari Indonesia maupun luar negeri.

“Kita enggak bisa membangun kepercayaan dari investor itu sendirian. Ini adalah kerja-kerja kolaboratif yang memerlukan banyak pihak,” katanya.

Bali Tech Week 2026 Hadirkan 13 Agenda Teknologi

Bali Tech Week 2026 mengusung tema Archipelago Ascending — Advance Together, Innovate Further. Acara ini dirancang sebagai platform teknologi terpadu yang menggabungkan berbagai sektor dalam satu rangkaian kegiatan.

Acara ini akan dihadiri oleh ribuan peserta, termasuk delegasi internasional dari 31 negara. Dalam pemaparan awal, jumlah peserta yang ditargetkan disebut mencapai sekitar 4.000 orang, termasuk 1.000 delegasi internasional. Sementara itu, target keseluruhan peserta berada di kisaran 5.000 orang.

BTW 2026 akan menghadirkan 13 agenda utama, yakni:

  1. BTW Con

  2. Telkom Sovereign Tech Summit

  3. HUB.ID Summit

  4. IGDX 2026

  5. KORIKA AIIS 2026

  6. ITSEC AICX 2026

  7. Tokocrypto Digital Summit

  8. Digital Economy Policy Forum

  9. Endeavor Global Forum

  10. Bali Capital Circle

  11. Foundry Collective Incubator Launch

  12. Sira Village Excursion Trip

  13. UDImpact

Rangkaian tersebut mencakup beragam sektor, mulai dari startup, industri gim, kecerdasan artifisial (AI), keamanan siber, aset digital, dan infrastruktur teknologi hingga kebijakan digital serta investasi. Penyatuan berbagai agenda itu dinilai dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan peluang investasi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam perkembangan teknologi global.

Ilustrasi belajar AI. Foto: Digineer Station/Shutterstock

Meutya menilai Bali Tech Week 2026 digelar pada momentum yang tepat, mengingat dunia sedang menghadapi dua perubahan besar, yakni disrupsi teknologi yang berlangsung cepat dan dinamika geopolitik global.

Menurutnya kedua perubahan tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam persaingan ekonomi digital dunia. Perubahan lanskap geopolitik membuat sejumlah negara mencari alternatif lokasi investasi. Kondisi ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi teknologi dan memperkuat ekosistem digital nasional.

Di sisi lain, disrupsi teknologi memberikan kesempatan bagi negara yang selama ini belum menjadi pemain utama dalam industri digital global untuk mempercepat perkembangannya.

Meutya mencontohkan dominasi Amerika Serikat dan China dalam lanskap digital global. Perubahan teknologi ini memungkinkan Indonesia mempercepat langkah untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan daya saing.

“Disrupsi ini membuat kita justru bisa memotong jalur, ibaratnya lewat jalur cepat, dan kita bisa maju ke depan,” ujar Meutya.

Melalui Bali Tech Week 2026, pemerintah berharap kolaborasi antara investor, inovator, pelaku industri, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan dapat memperkuat ekosistem teknologi Indonesia. Upaya tersebut diharapkan mendorong investasi, memperluas manfaat digitalisasi, serta meningkatkan posisi Indonesia dalam transformasi digital global.