Mark Zuckerberg, Elon Musk, Jensen Huang Lobi Trump Blokir Regulator AI di AS

kumparanTEKNOverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi belajar AI. Foto: Summit Art Creations/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi belajar AI. Foto: Summit Art Creations/Shutterstock

CEO Meta Mark Zuckerberg, CEO SpaceXAI Elon Musk, dan CEO Nvidia Jensen Huang menolak usulan pembentukan badan pengawas serta penetapan standar industri kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat. Mereka berhasil meyakinkan presiden AS, Donald Trump, untuk memblokir regulator AI.

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), ketiganya menentang pembentukan lembaga pengawas AI. Lembaga tersebut dirancang menyerupai Financial Industry Regulatory Authority (FINRA), organisasi yang mengawasi perusahaan dan pelaku industri keuangan di AS.

Usulan pembentukan badan pengawas AI dengan model FINRA itu berasal dari Demis Hassabis, Chief Scientist Google sekaligus Chairman unit AI Google DeepMind. Namun, Zuckerberg, Musk, dan Huang khawatir lembaga ini justru akan memperkuat posisi tiga laboratorium AI besar di AS, yakni OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind.

Ketiganya menyampaikan kekhawatiran itu kepada Presiden AS Donald Trump dalam percakapan terpisah. Setelah itu, Trump tidak melanjutkan proposal pembentukan badan pengawas tersebut.

CEO AI Disebut Langsung Menghubungi Trump

Dilaporkan WSJ, sejumlah pejabat pemerintahan Trump mengatakan kepada para petinggi perusahaan AI bahwa upaya menyusun kerangka regulasi AI di Gedung Putih menjadi sulit karena para CEO yang menentang gagasan tersebut langsung menghubungi Trump.

Situasi ini terjadi ketika pemerintahan Trump tengah menghadapi perdebatan mengenai bagaimana AS harus mengatur perkembangan AI. Di satu sisi, sejumlah pihak mendorong pengawasan untuk mengurangi risiko keamanan AI. Di sisi lain, ada perusahaan teknologi yang menilai regulasi tambahan dapat memperlambat pengembangan teknologi AI.

Pendiri sekaligus CEO Meta Mark Zuckerberg berbicara dalam acara Meta Connect di kantor pusat Meta di Menlo Park, California, Amerika Serikat, Rabu (27/9/2023). Foto: Josh Edelson/AFP

Zuckerberg dan Huang sama-sama menepis kekhawatiran mengenai risiko keamanan AI. Mereka berpendapat perusahaan dapat mengatur laju pengembangan teknologinya sendiri tanpa membutuhkan regulasi eksternal. Zuckerberg menyampaikan pandangannya melalui unggahan panjang di X. Ia mengatakan perusahaan AI memiliki pertahanan yang kuat untuk memastikan teknologi mereka tetap aman dan selaras dengan kepentingan manusia.

Zuckerberg juga menolak anggapan bahwa perusahaan AI perlu berkoordinasi satu sama lain untuk memastikan keamanan teknologi. Ia menyebut setiap laboratorium AI memiliki tanggung jawab dan insentif untuk menyesuaikan kecepatan pengembangan model dengan kemampuan mereka dalam melatih model secara aman. Setiap perusahaan juga disebut memiliki kemampuan untuk mengambil langkah sendiri guna memastikan keamanan tersebut.

Kendati demikian, Meta terbuka untuk bekerja sama dengan evaluator dan penasihat independen dalam bidang AI. Sikap ini sejalan dengan posisi yang sebelumnya disampaikan Anthropic dan OpenAI.

Sama dengan Zuckerberg, Huang juga menolak gagasan untuk memperlambat pengembangan AI serta kekhawatiran mengenai keselamatan teknologi tersebut. Dalam sebuah acara tahunan Salesforce, Dreamforce, Huang mengatakan anggapan bahwa perusahaan harus memilih antara keamanan dan kecepatan pengembangan AI merupakan pilihan keliru.

"Keduanya bisa dilakukan secara bersamaan," kata Huang.

Ia kemudian menegaskan bahwa industri AI tidak membutuhkan undang-undang maupun regulasi baru. Huang menunjuk kekuatan pasar sebagai salah satu mekanisme yang dapat mendorong perusahaan untuk mengatur laju pengembangan AI. Menurutnya, perusahaan dapat menentukan kecepatannya sendiri hingga yakin bahwa teknologi yang mereka rilis akan diterima oleh pasar.

Jensen Huang, CEO Nvidia. Foto: Anthony Wallace / AFP

Sehari sebelumnya, Huang juga menerima panggilan dari Trump ketika sedang tampil langsung di panggung All-In Summit. Dalam percakapan itu, Trump mengatakan pihak-pihak yang menentang pengembangan AI dan pembangunan pusat data justru "bermain di tangan" kelompok skeptis dan China.

Elon Musk Sempat Dukung Seruan Memperlambat AI

Sikap Musk terhadap keamanan AI memiliki perkembangan yang berbeda. Pekan lalu, Musk mempertanyakan sekaligus mengejek sejumlah unggahan viral di X yang dibuat Jacob Coxon, mantan peneliti Anthropic. Coxon meninggalkan perusahaan dan memperingatkan bahwa AI berpotensi menyebabkan kepunahan manusia dalam satu dekade mendatang.

Musk menyebut rangkaian unggahan itu tampak seperti sebuah "setup". Ia juga mengatakan unggahan itu bisa menjadi pemicu setelah adanya "persiapan" untuk sebuah operasi psikologis atau psy op terhadap AI.

Namun, ketika CEO Anthropic Dario Amodei memperingatkan mengenai risiko keamanan AI dan menyerukan agar pengembangan model AI terdepan dilakukan dengan kecepatan yang lebih terukur serta disertai koordinasi keamanan yang lebih baik, Musk justru menyatakan persetujuannya.

"Dario benar," tulis Musk.

Meski demikian, terdapat perbedaan antara posisi Musk dengan Anthropic dan OpenAI. Hingga kini, SpaceX AI milik Musk belum memaparkan rencana untuk melakukan koordinasi dengan perusahaan lain atau mengatur laju pengembangan model AI terdepan.

Perdebatan tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pemimpin industri teknologi AS mengenai cara mengelola perkembangan AI. Sebagian mendorong koordinasi dan pengawasan eksternal, sementara sebagian lainnya menilai perusahaan dapat mengandalkan tanggung jawab internal dan mekanisme pasar untuk mengelola risiko teknologi tersebut.