Produsen Memori Micron Cetak Rekor Omset Gegara AI, Pesanan Makin Tak Ketampung

Demam kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membawa raksasa pembuat cip memori asal Amerika Serikat, Micron Technology, mencetak kinerja keuangan tertinggi sepanjang sejarah pada tahun fiskal 2026.
Di tengah serapan pusat data (data center) yang terus meningkat, nilai pesanan tertunda (backlog) Micron kini membengkak hingga 150 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.694,89 triliun), sementara kondisi pasokan memori global diprediksi bakal semakin ketat pada 2027 dan 2028 dibanding tahun ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pendapatan Melonjak Empat Kali Lipat
Berdasarkan laporan keuangan resmi perusahaan yang diumumkan Rabu (30/9), Micron menutup kuartal keempat (Q4) tahun fiskal 2026 dengan pendapatan sebesar 54,23 miliar dolar AS (sekitar Rp 974,29 triliun), melonjak empat kali lipat dari 11,32 miliar dolar AS (Rp 203,37 triliun) pada periode yang sama tahun lalu.
Secara keseluruhan untuk tahun fiskal 2026, Micron mengantongi total pendapatan 133,19 miliar dolar AS (Rp 2.392,88 triliun), naik drastis dari 37,38 miliar dolar AS (Rp 671,56 triliun) pada tahun fiskal 2025.
“Micron mencatatkan hasil fiskal 2026 yang memecahkan rekor, dan kami mengharapkan hasil fiskal 2027 yang bahkan lebih kuat,” kata Sanjay Mehrotra, CEO Micron Technology.
Untuk kuartal pertama (Q1) tahun fiskal 2027, Micron memproyeksikan pendapatan berada di kisaran 61,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.104,90 triliun (±Rp 26,94 triliun), melampaui ekspektasi pasar yang berada di angka 57,02 miliar dolar AS (Rp 1.024,41 triliun).
Pesanan Tak Ketampung, Memori Jadi "Bottleneck" AI
Chief Financial Officer (CFO) Micron, Mark Murphy, sebagaimana dilansir Reuters, mengungkapkan bahwa remaining performance obligations—indikator utama pendapatan dari kontrak pesanan masa depan yang mengikat namun barangnya belum dikirim—naik signifikan menjadi 150 miliar dolar AS (Rp 2.694,89 triliun), dari sebelumnya sekitar 100 miliar dolar AS (Rp 1.796,59 triliun) pada kuartal lalu.
Selain itu, komitmen dana dari pelanggan di bawah perjanjian pasokan jangka panjang juga meningkat menjadi 32 miliar dolar AS (Rp574,91 triliun), naik dari 22 miliar dolar AS (Rp395,25 triliun) pada Juni 2026.
CEO Micron, Sanjay Mehrotra, mengonfirmasi bahwa hampir seluruh alokasi produksi High-Bandwidth Memory (HBM) untuk tahun fiskal 2027 telah habis dipesan (sold out).
Presiden dan Chief Operating Officer (COO) Micron, Manish Bhatia, menekankan bahwa memori kini menjadi faktor pembatas dalam pengembangan AI.
"Memori jelas menjadi kendala utama dalam AI, dibandingkan area lain seperti pemrosesan logika maupun daya listrik untuk pusat data. Pusat data kini telah resmi menjadi pasar terbesar bagi memori dan penyimpanan," jelas Bhatia dikutip dari Reuters.
Pasokan Ketat Hingga 2028, Bagaimana Nasib RAM Consumer?
Akibat kapasitas produksi yang difokuskan untuk memenuhi kebutuhan server AI yang masif—terutama dari raksasa teknologi seperti Amazon dan Alphabet yang diproyeksikan menghabiskan 730 miliar dolar AS (Rp13.115,15 triliun) untuk infrastruktur AI tahun ini—Micron memberi sinyal bahwa pasar memori global akan menghadapi tekanan pasokan.
Sanjay Mehrotra memperkirakan kondisi penawaran dan permintaan (supply and demand) memori akan jauh lebih ketat pada tahun fiskal 2027 dan 2028.
Meski Micron telah meningkatkan rencana investasi di AS menjadi lebih dari 250 miliar dolar AS (Rp4.491,49 triliun) hingga 2035, hasil cetakan wafer pertama dari pabrik baru diperkirakan baru keluar pada pertengahan 2027. Menurut Bhatia, butuh beberapa kuartal tambahan agar pabrik tersebut dapat berdampak signifikan pada pasokan pasar.
Mikron memang dilaporkan tengah meningkatkan kapasitas di seluruh pabriknya di dunia, termasuk membangun pabrik baru di Jepang dan Amerika.
Di sisi lain, divisi Mobile and Client Micron (yang mencakup memori untuk perangkat konsumer dan PC) masih tetap produktif. Divisi ini membukukan pendapatan solid sebesar 13,11 miliar dolar AS (Rp235,53 triliun) pada Q4 2026.
Pada Desember 2025, Micron memutuskan untuk hengkang dari bisnis memori konsumer meninggalkan brand RAM Crucial. Saat itu, alasan Micron meninggalkan Crucial adalah karena ingin fokus untuk meningkatkan suplai ke konsumen strategis dari data center AI.
Kini di tengah jayanya memegong rekor pendapatan, Micron pun terus mengejar keuntungan dari AI boom ini.
“AI sedang berkembang menjadi Super Intelligence (SI), dan memori meningkatkan kecerdasan ini dan daya saing platform pelanggan kami. Kami meningkatkan investasi kami dalam teknologi, produk, dan manufaktur untuk membantu mendorong SI bersama pelanggan kami, dan Perjanjian Pelanggan Strategis kami memberikan kepercayaan tambahan pada ketahanan kinerja keuangan Micron," kata Sanjay sebagaimana dikutip dari rilis pers Micron.
