Samsung Raih Laba Q3 2026 Rp 1.400 Triliun Berkat AI, Jadi Rekor Baru

Samsung Electronics memproyeksikan laba operasional kuartal III 2026 menembus 100 triliun won untuk pertama kalinya, Kamis (8/10). Samsung memperkirakan laba periode Juli hingga September melonjak hampir sembilan kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, didorong tingginya permintaan chip kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mendongkrak penjualan semikonduktor memori.
Salah satu produsen chip memori terbesar di dunia itu mengestimasi laba operasional sebesar 107,4 triliun won atau Rp 1.400 triliun. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan estimasi LSEG SmartEstimate sebesar 106,1 triliun won.
Proyeksi tersebut menjadi kuartal keempat berturut-turut bagi Samsung yang mencatat rekor laba operasional. Kondisi ini menunjukkan semakin dalamnya kelangkaan chip memori secara global, ketika investasi infrastruktur AI tumbuh lebih cepat dibandingkan pasokan. Kondisi tersebut juga turut mendorong harga chip meningkat tajam.
Samsung dan Micron memperkirakan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan akan bertahan hingga 2028. Namun, persaingan dari China dan potensi perlambatan belanja AI menjadi risiko terhadap prospek laba perusahaan dalam jangka panjang.
Meski kembali mengumumkan proyeksi laba rekor, saham Samsung bergerak relatif datar. Saham perusahaan turun 0,2 persen pada perdagangan awal, sementara indeks acuan KOSPI melemah 0,5 persen.
Harga saham Samsung juga merosot lebih dari 25 persen dari rekor tertingginya yang dicapai pada Juni 2026. Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran mengenai keberlanjutan ledakan permintaan AI.
Para analis juga baru-baru ini memangkas proyeksi mereka akibat penguatan tajam mata uang Korea Selatan. Kondisi ini mengurangi nilai penjualan Samsung dalam denominasi dolar AS ketika dikonversikan ke mata uang lokal.
“Fokus pasar telah bergeser pada apakah pertumbuhan laba yang tajam yang dimulai setahun lalu akan berkelanjutan,” kata analis pasar Kim Seok-hwan dari Mirae Asset Securities sebagaimana dikutip Reuters.
Analis memperkirakan laba Samsung pada kuartal IV akan tumbuh 8,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan kenaikan laba kuartal III sebesar 20 persen secara kuartalan, seiring pertumbuhan harga chip yang mulai melambat.
Perusahaan riset pasar TrendForce memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional akan naik 10-15 persen pada kuartal IV dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan itu jauh lebih lambat dibandingkan lonjakan sekitar 60 persen pada kuartal II.
Perlambatan harga memori menjadi perhatian investor setelah reli yang berlangsung lebih dari setahun mendorong margin laba Samsung, SK Hynix, dan Micron ke level tertinggi sepanjang masa.
Samsung memperkirakan pendapatan kuartal III akan naik 127 persen menjadi 195 triliun won dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan akan merilis hasil keuangan secara lebih terperinci, termasuk rincian pendapatan berdasarkan divisi bisnis, pada 29 Oktober 2026.
Chip memori diperkirakan menjadi penyumbang terbesar terhadap peningkatan laba Samsung.Harga chip melonjak akibat ketatnya pasokan DRAM dan NAND konvensional, ditambah meningkatnya permintaan terhadap high-bandwidth memory (HBM). Komponen tersebut penting untuk memproses data dalam jumlah besar yang digunakan dalam aplikasi AI.
Douglas Kim dari Douglas Research Advisory memperkirakan pengiriman HBM Samsung berdasarkan jumlah bit meningkat hampir 50 persen secara kuartalan pada kuartal III. Samsung juga disebut berupaya mempersempit kesenjangan dengan SK Hynix di pasar HBM.
