Scarlett Johansson Takut dengan AI: Dorong Regulasi AI

Aktris Hollywood Scarlett Johansson secara terbuka mendesak otoritas global segera mengesahkan regulasi hukum yang mengikat untuk mengatur perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Johansson menyuarakan kekhawatirannya tersebut saat menghadiri penayangan perdana dunia film animasi sci-fi Ray Gunn di ajang BFI London Film Festival, London, Inggris.
Bintang kenamaan ini menilai lompatan teknologi kecerdasan buatan kini melaju terlalu pesat tanpa pagar pembatas hukum yang memadai bagi publik maupun pekerja kreatif.
"Teknologi ini berkembang jauh lebih cepat dan lebih besar dari yang bisa kita bayangkan. Saya akan merasa lebih tenang jika ada aturan dan regulasi resmi yang berlaku, tetapi kenyataannya sekarang belum ada, dan situasi itu menakutkan bagi saya," tegas Scarlett Johansson kepada AFP, Sabtu (10/10).
Sikap vokal Johansson ini secara tajam memperlihatkan polarisasi arah kebijakan teknologi dunia, khususnya jika dibandingkan dengan pendekatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memilih jalan minim regulasi ketat pemerintah.
Kontras sikap Trump dan refleksi peran di film 'Ray Gunn'
Desakan Scarlett Johansson bertolak belakang dengan langkah administrasi Presiden AS Donald Trump. Trump belum lama mengumpulkan para bos raksasa teknologi, mulai dari Sundar Pichai (Google), Mark Zuckerberg (Meta), Jensen Huang (Nvidia), hingga Elon Musk (xAI), jamuan makan siang di Gedung Putih untuk menyepakati standar baru bernama White House Accord on Super Intelligence.
Alih-alih memberlakukan undang-undang pembatasan yang mengikat dari negara, Trump condong menolak regulasi birokratis yang kaku demi menjaga dominasi inovasi AS. Pemerintahan Trump lebih mengedepankan kepatuhan sukarela melalui empat lapis audit dan kontrol internal perusahaan teknologi, sembari mendukung penuh ekspansi masif fasilitas pusat data (data center).
"Ini hampir seperti sebuah konstitusi, dalam satu sisi. Dan orang-orang terhebat di dunia menandatanganinya, dan saya menandatanganinya sebagai presiden. Ini benar-benar sebuah bentuk perlindungan," ujar Trump kepada wartawan, mengutip Reuters.
Kekhawatiran Johansson terhadap laju teknologi liar juga beresonansi kuat dengan karya terbarunya, Ray Gunn, garapan sutradara pemenang Oscar, Brad Bird. Dalam film animasi berlatar kota retro-futuristik Metropia tersebut, Johansson memegang peran penting sebagai pengisi suara karakter Venus Nova, seorang diva musik pop global legendaris. Cerita menempatkan Venus Nova di pusaran intrik ketika dirinya terseret skandal tuduhan pembunuhan berprofil tinggi, yang kemudian diselidiki oleh detektif swasta manusia terakhir, Raymond Gunn (disuarakan oleh Sam Rockwell).
Sutradara Brad Bird turut menggarisbawahi kegelisahan Johansson di karpet merah London. Menurut Bird, pemanfaatan AI seharusnya hanya berfungsi sebagai alat bantu kreator, bukan instrumen pengganti manusia dalam berkarya. Alarm bahaya perkembangan AI tanpa rem ini pun diamini di panggung internasional.
Di Indonesia, Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia, Meutya Hafid, sebelumnya mengingatkan bahwa pengembangan AI global saat ini sudah terlampau "bablas".
Meutya menegaskan pentingnya penerapan prinsip safety by design sejak tahap awal perancangan agar kemajuan teknologi tidak membahayakan ekosistem manusia di masa depan.
"Jadi yang ada bukan perlambatan, tapi yang sekarang itu bablas, tanpa safety by design yang cukup," kata Meutya di Kantor Komdigi, Rabu (7/10).
Adapun sebelum Scarlett Johansson, aktor Hollywood yang populer berperan sebagai Spiderman Andrew Garfield, juga menyuarakan kekhawatiran serupa mengenai AI. Secara spesifik, ia menyerukan dirinya tak lagi menggunakan ChatGPT, terutama usai dirinya berperan sebagai Sam Altman, CEO dari OpenAI yang melahirkan ChatGPT.
"Saya agak takut... Saya merasa sedikit tidak percaya dengan teknologi tersebut. Rasanya seperti orang-orang yang mendorong kita untuk menggunakan teknologi ini tidak benar-benar tahu kapasitas (AI) itu sendiri. Bagi saya pribadi, itu terasa sedikit tidak bertanggung jawab," kata Garfield, mengutip Variety.
