XLSmart Hadirkan Bye Bye Box di ITB, Bisa Tukar HP Bekas Jadi Kuota

XLSmart menghadirkan Bye Bye Box di Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendorong masyarakat mengelola sampah elektronik. Bye Bye Box adalah e-Waste reverse vending machine pertama di Indonesia yang memungkinkan masyarakat membuang sampah elektronik, seperti HP bekas misalnya, dan menukarnya dengan kuota internet bagi pelanggan XLSmart.
Pengguna XL, Axis, dan Smartfren berkesempatan memperoleh bonus kuota utama berdasarkan berat e-waste yang dikumpulkan melalui Bye Bye Box, yaitu 500 MB untuk e-waste di bawah 1 kg, 1 GB untuk 1–2 kg, dan 1,5 GB untuk di atas 2 kg, dengan masa berlaku satu hari.
Program Sustainability Bye Bye Box Campus Roadshow resmi diluncurkan di Aula Timur Kampus ITB, Senin (14/9). ITB menjadi kampus pertama yang menjadi lokasi roadshow Bye Bye Box.
Direktur & Chief Regulatory Officer XLSmart, Merza Fachys, mengatakan program tersebut menjadi langkah awal untuk memberikan solusi terhadap persoalan sampah elektronik yang selama ini banyak berakhir tersimpan di rumah maupun perkantoran.
Menurutnya, perkembangan industri telekomunikasi turut mendorong tingginya jumlah perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan. Salah satunya akibat kebiasaan masyarakat mengganti telepon seluler dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun.
"Orang Indonesia rata-rata ganti handphone dua tahun sampai tiga tahun. Berbahagialah industri handphone. Tapi kemudian kita berpikir, mantannya ini mau dikemanakan?" kata Merza saat memberikan sambutan.
Ia menilai persoalan sampah elektronik tidak hanya berasal dari telepon seluler. Berbagai perangkat pendukung seperti charger, kabel, headset, hingga peralatan elektronik rumah tangga juga berpotensi menjadi limbah ketika sudah tidak digunakan.
Merza mengatakan barang elektronik bekas tidak seharusnya dibuang sembarangan karena masih memiliki material yang bernilai. Karena itu, masyarakat perlu diberikan akses yang mudah untuk menyalurkan perangkat elektronik yang sudah tidak terpakai.
"Di dalam handphone walaupun rusak, itu masih banyak bahan berharga yang masih bisa dimanfaatkan. Inilah yang kita lihat bahwa kita ingin sekali berpikir bagaimana memanfaatkan para mantan tadi. Jadi mantan ini masih valuable, jangan dibuang," ujarnya.
Melalui Bye Bye Box, masyarakat dapat menyerahkan berbagai perangkat elektronik bekas untuk kemudian diproses lebih lanjut. Program tersebut melibatkan sejumlah pihak, termasuk civitas akademika ITB, untuk melihat potensi pemanfaatan kembali material maupun perangkat yang dikumpulkan.
Merza menjelaskan, perangkat yang dikumpulkan nantinya dapat dipilah untuk menentukan apakah masih bisa diperbaiki atau diperbarui melalui proses refurbish. Sementara perangkat yang sudah tidak dapat digunakan dapat didaur ulang untuk mengambil material berharga di dalamnya.
"Di dalamnya ada emas, ada platinum, ada banyak lainnya. Hal-hal yang ternyata value-nya masih sangat berharga, tapi tidak bisa kalau masih dalam bentuk asli," katanya.
Selain mendorong daur ulang, program tersebut juga diharapkan dapat menciptakan nilai dan fungsi baru dari perangkat elektronik bekas sehingga tidak langsung berakhir sebagai sampah.
"Program ini akan membuat new value dan new life daripada para mantan. Jadi mantan itu masih berharga, jangan dibuang-buang," ucap Merza.
Ia mengatakan Bye Bye Box yang berada di ITB akan tersedia selama 14 hari dalam rangka roadshow. XLSmart juga memberikan reward bagi masyarakat yang berpartisipasi, salah satunya berupa kuota internet.
Merza berharap program tersebut tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat diperluas ke berbagai wilayah di Kota Bandung. Ke depan, Bye Bye Box ditargetkan hadir di lebih banyak titik aktivitas masyarakat.
"Hari ini mungkin kita baru punya satu mesin dan sedang dua mesin, namun kita harapkan dengan kolaborasi yang makin banyak, kita akan tempatkan BuyBackBox di seluruh sudut kota Bandung," katanya.
Ia menegaskan, pengelolaan sampah elektronik merupakan bagian dari upaya menciptakan pola hidup yang lebih ramah lingkungan. Menurutnya, langkah tersebut dapat dimulai dari hal sederhana dan dilakukan oleh masyarakat dari lingkungan terdekat.
"Sustainability ini tidak selalu harus dari sesuatu yang besar. Mari kita mulai dari sesuatu yang kecil, tapi kita mulai dari diri kita sendiri dan mulai sekarang," ujar Merza.
Program Bye Bye Box diharapkan menjadi titik awal kolaborasi antara industri telekomunikasi, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem pengelolaan sampah elektronik yang lebih berkelanjutan.
Reporter: Abisatya Ramdhani
