kumparan
20 November 2019 9:23

4 Jurus Jitu ala Dokter Terawan untuk Kembangkan Wisata Kesehatan

Wisata Kebugaran dan Jamu di Hotel Indonesia Kempinski
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio. Foto: Selfy Momongan/kumparan
Wisata Kesehatan kini menjadi salah satu fokus yang akan digarap secara kolaboratif oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
ADVERTISEMENT
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, mengatakan wisata kesehatan ini nantinya akan dikemas dengan baik agar bisa menyasar wisatawan premium. Meski demikian, ada banyak tantangan untuk mengembangkan wisata kesehatan.
Untuk itu, Terawan telah menyiapkan beragam jurus jitu demi mewujudkan Indonesia sebagai destinasi wisata kesehatan yang mumpuni. Setidaknya ada empat hal yang menjadi sorotan utama bagi dokter Terawan.
Wisata Kebugaran dan Jamu di Hotel Indonesia Kempinski
Peluncurkan pengembangan Wisata Kebugaran dan Jamu di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (19/11). Foto: Selfy Momongan/kumparan
“Pertama, meningkatkan jumlah wisman yang berwisata kesehatan ke Indonesia. Ini kita harus membuat inovasi, supaya mereka ke Indonesia buat berobat dan mempercayakan keadaan kesehatannya,” ujar Terawan, di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Selasa (19/11).
Inovasi yang dimaksud Terawan, yaitu menghadirkan metode-metode kebugaran yang tak dimiliki negara lain. Kalaupun sudah ada, Indonesia harus berani menyajikan metode serta pelayanan yang lebih unggul.
ADVERTISEMENT
Tantangan kedua, yaitu pemerintah akan mencegah wisatawan domestik untuk berwisata kesehatan ke negara lain. Seperti diketahui, banyak orang Indonesia pergi ke Penang atau Singapura untuk berobat.
Ilustrasi Jamu tradisional
Ilustrasi jamu tradisional. Foto: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra
Menurut Terawan, hal ini bisa diatasi jika Indonesia mampu memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan meningkatkan rasa percaya masyarakat.
“Makanya kita harus meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik, bisa bersaing dan lebih diterima masyarakat Indonesia. Kalau tidak, ya, pasti mereka tetap melakukan perjalanan wisata kesehatan ke mancanegara. Kita harus punya kemampuan agar wisatawan domestik enggak berobat ke negara lain,” ujarnya.
Ketiga, yaitu lama tinggal wisatawan. Meski demikian, Terawan menegaskan dalam hal ini wisatawan harus berada dalam kondisi sehat. Sebab, lama tinggal di rumah sakit tak boleh panjang.
ADVERTISEMENT
“Ini berarti kunjungan yang sehat. Kalau untuk wisata, length of stay-nya harus panjang. Karena kalau ke rumah sakit, lama tinggal harus pendek,” ujarnya.
Terakhir, Terawan berharap wisatawan bisa mengalokasikan pengeluaran yang lebih besar saat melakukan wisata kesehatan. Untuk itu, layanan pembayaran dalam wisata kesehatan juga harus dipermudah. Misalnya dengan mengoptimalkan pembayaran digital dan mulai meninggalkan sistem bayar tunai.
Spending-nya lebih banyak berarti dipermudah sistem pembayarannya. Mau pakai EDC, tap, atau by insurance, pokoknya harus dipermudah. Kalau tidak dipermudah, tidak bisa kita membuat pengeluaran wisatawan akan banyak. Yang ada banyak ngomelnya, bayar pakai ini susah, pakai teknologi ini enggak bisa, pakai CC, transfer enggak bisa, maunya cash, ya repot,” tutupnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan