Kumparan Logo

Apakah Gunung Ungaran tak Ramah untuk Balita? Ini Penjelasannya

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan Gunung Ungaran dari Desa Promasan. Foto: Muhammad Naufal/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan Gunung Ungaran dari Desa Promasan. Foto: Muhammad Naufal/kumparan

Gunung Ungaran di Kota Semarang, Jawa Tengah, viral di media sosial setelah insiden seorang bayi atau balita yang mengalami hipotermia ketika mendaki gunung tersebut. Dalam video yang beredar, seorang balita berusia 1,5 tahun menangis kedinginan diduga mengalami hipotermia.

Syukurnya, balita tersebut berhasil diselamatkan lewat respons cepat Tim SAR Semarang. Kepala BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan membenarkan peristiwa tersebut. Balita berusia 1,5 tahun itu naik Gunung Ungaran pada Sabtu (11/4) bersama kedua orang tuanya hingga tiba di Puncak Bondolan pada siang hari.

"Peristiwa ini terjadi ketika satu keluarga ayah, ibu, dan anak melakukan pendakian dan tiba di puncak sekitar pukul 14.00 WIB," ujar Bergas kepada wartawan, Senin (13/4).

Namun, saat sampai di puncak, cuaca memburuk disertai hujan. Bayi itu terus menangis dan menunjukkan tanda-tanda hipotermia atau kedinginan ekstrem.

"Suhu tubuh balita tersebut menurun drastis hingga mengalami gejala hipotermia," jelas dia.

Karakteristik Gunung Ungaran

Gunung Ungaran di Semarang, Jawa Tengah. Foto: W2kid/Shutterstock

Gunung Ungaran adalah salah satu gunung berapi stratovolcano yang memiliki ketinggian 2.050 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Nama Ungaran diduga berasal dari kata "Wungaran" yang dalam bahasa Jawa berarti "pucuk" atau "ujung".

Hal ini merujuk pada posisi gunung yang menjulang tinggi di antara daerah sekitarnya.

Ada juga yang menyebut bahwa nama gunung ini berasal dari kata "Ngungar" yang berarti terangkat, sesuai dengan karakteristik gunungnya yang tampak terangkat di atas dataran sekitarnya.

Gunung Ungaran memiliki empat jalur pendakian, yaitu Basecamp Mawar, Candi Gedong Songo, Promasan, dan Perantunan. Jalur Basecamp Mawar menjadi yang paling populer karena aksesnya cukup mudah dari kawasan Umbul Sidomukti, Bandungan.

Gunung Ungaran Foto: Muhammad Abdurrasyid/kumparan

Gunung Ungaran memiliki tiga puncak utama, yaitu Gendol, Botak, dan Ungaran sebagai puncak tertingginya. Dari sini, kamu bisa melihat panorama Kota Semarang, Laut Jawa, hingga deretan gunung lain, seperti Merbabu, Merapi, Telomoyo, hingga Sindoro dan Sumbing.

Dikutip dari laman Perhutani, dari titik awal pendakian di Dusun Perantunan, pendaki akan disambut dengan hamparan perkebunan teh yang hijau dan udara segar khas pegunungan.

Perjalanan kemudian berlanjut ke dalam hutan tropis yang rimbun, menghadirkan suasana tenang jauh dari kebisingan kota. Jalur dapat dikatakan cukup menantang karena memiliki beberapa tanjakan curam dan trek yang masih alami, tetapi keindahan yang ditawarkan sepadan dengan usaha yang dikeluarkan.

Jalur Perantunan memiliki salah satu daya tarik tersendiri, yaitu adanya beberapa air terjun kecil yang menyegarkan. Air terjun ini sering menjadi tempat peristirahatan bagi para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalur, suara kicauan burung dan gemercik air menambah kesan alami yang jarang ditemukan di jalur pendakian lain yang lebih ramai.

Ketika hampir mencapai puncak, pendaki akan disuguhi pemandangan spektakuler dari ketinggian. Jika keberuntungan berpihak kepada pendaki, matahari terbit dapat terlihat dengan latar belakang Gunung Sumbing, Sindoro, dan Merbabu yang berdiri gagah di kejauhan.

Puncak Gunung Ungaran sendiri menawarkan panorama 360 derajat yang memukau, termasuk lanskap Kabupaten Semarang dan Rawa Pening yang terlihat dari puncak.

Gunung Ungaran di Semarang, Jawa Tengah. Foto: Muhammad Qodri Azizi/Shutterstock

Meskipun jalur Perantunan menawarkan keindahan yang luar biasa, pendaki perlu mempersiapkan diri dengan baik.

Menurut pendaki sekaligus anggota Yayasan Gunung Parama Indonesia, Harley B. Sastha, secara vegetasi, karakter hutannya disebut tidak terlalu lebat, terutama di beberapa jalur utama. Namun masih terdapat area hutan tropis, kebun, dan jalur alami.

"Kalau buat pemula mungkin ya, kalau misalnya baru awal sih misalnya. Ya cocok sih lah ya, misalnya medannya-lah ya. Hutan tropisnya memang nggak terlalu lebat, cuma masih ada lah," ujar Harley saat dihubungi kumparan pada Senin (13/4).

Harley mengatakan, bahwa waktu pendakian menuju puncak Gunung Ungaran juga terbilang relatif singkat. Karena bisa digapai kurang dari satu hari. Bahkan jalur pendakian Promasan, sekitar 3-4 jam.

Perjalanan Harley B Sastha saat mendaki gunung di Indonesia. Foto: Dok. Harley B Sastha

Meski cocok untuk pemula, Harley menegaskan pendaki bukan berarti bisa mendaki gunung ini tanpa persiapan.

"Jadi secara umum menurut saya, karakter jalur pendakian bervariasi landai dan tanjakan. Walaupun cocok untuk pemula, tapi bisa lumayan bikin ngos-ngosan," ujar Harley.

Medan Gunung Ungaran terdiri dari jalur tanah, tanjakan sedang, area batuan menjelang puncak, serta beberapa jalur lebih panjang dan menantang. Menjelang puncak, medan cenderung berbatu karena Ungaran merupakan bekas gunung api.

"Oh ya mendaki ungaran banyak melewati batuan juga ya menuju puncak dan terbuka dan padang sabana atau rumput. Jadi, kalau anginnya besar lumayan dingin, siangnya panas banget," ungkapnya.

Gunung Ungaran merupakan gunung favorit di Jawa Tengah dengan akses mudah, jalur variatif, dan cocok untuk pendaki pemula. Namun pendakian tetap membutuhkan perlengkapan standar, kesiapan fisik, serta kewaspadaan terhadap cuaca dingin dan perubahan kondisi alam.

Penjelasan Dokter soal Balita Naik Gunung

Ilustrasi bayi kedinginan. Foto: Shutter Stock

dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, SpB menegaskan balita sangat rentan mengalami hipotermia saat berada di kawasan pegunungan, terutama pada lokasi dengan suhu dingin, lembap, dan berada di ketinggian tertentu.

Ia menyoroti kasus balita yang mengalami hipotermia saat pendakian di Gunung Ungaran. Menurutnya, risiko hipotermia pada balita jauh lebih tinggi dibanding orang dewasa.

“Naik gunung saja sudah punya potensi hipotermia. Apalagi balita dibawa ke tempat tinggi dan lembap, tentu risikonya bisa dua kali lipat,” ujarnya saat dihubungi kumparan pada Senin (13/4).

Iqbal menjelaskan, balita dan bayi memiliki daya tahan tubuh yang belum sempurna sehingga lebih mudah terserang gangguan kesehatan. Selain suhu dingin, kondisi pegunungan juga berisiko memicu infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), alergi akibat serbuk tumbuhan, serta dehidrasi.

“Kulit bayi lebih tipis dibanding orang dewasa, sehingga udara dingin lebih mudah masuk ke tubuh. Kebutuhan cairan mereka juga lebih tinggi,” lanjutnya.

Ia menilai balita usia 1,5 tahun belum ideal diajak mendaki gunung, terlebih ke kawasan dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut.

“Belum saatnya dia naik gunung seperti itu. Risiko hipotermianya bisa tiga sampai empat kali lebih besar,” jelasnya.