Bantah Bali Overcapacity, Kemenpar Ungkap Tantangan Tarik Turis Australia
·waktu baca 3 menit

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengungkap sejumlah tantangan utama Indonesia dalam menarik turis Australia di tengah persaingan destinasi regional yang semakin ketat. Meski demikian, pemerintah menegaskan Bali masih menjadi destinasi favorit dan siap menjaga daya saing melalui peningkatan kualitas pariwisata.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan saat ini terdapat tiga tantangan utama yang sedang dibenahi pemerintah.
“Tantangan pertama adalah keterbatasan konektivitas udara dan harga tiket internasional yang masih tinggi. Kedua, persepsi terhadap kualitas dan kebersihan di sebagian destinasi. Ketiga, inkonsistensi standar layanan antar destinasi,” ujar Ayu Marthini kepada kumparan.
Pemerintah saat ini tengah menangani persoalan tersebut melalui kolaborasi lintas sektor bersama maskapai, pemerintah daerah, hingga pelaku industri pariwisata. Fokusnya bukan hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi meningkatkan kualitas wisata.
Menanggapi isu kemacetan, sampah, keamanan, hingga overcapacity di Bali, Ayu Marthini menilai narasi tersebut perlu diluruskan.
“Bali bukan overcapacity, yang terjadi adalah over-concentration. Turis terlalu terkonsentrasi di kawasan selatan, sementara Bali Utara, Timur, dan Barat masih sangat longgar dan siap menyerap lebih banyak kunjungan,” katanya.
Karena itu, Kemenpar menjalankan program 3B, yakni Bali Utara, Bali Barat, dan Banyuwangi, untuk mendorong distribusi turis, agar lebih merata, sekaligus menjaga kualitas pengalaman berlibur.
Ia juga mengajak turis Australia menjelajahi sisi lain Bali yang dinilai masih tenang, autentik, dan belum banyak tersentuh wisata massal.
“Bali yang sesungguhnya masih ada. Kami mengundang turis untuk menjelajahinya dengan tetap menghormati adat istiadat dan menjaga lingkungan,” kata Ayu Marthini.
Selain itu, program Bali and Beyond juga terus didorong, agar turis asing, termasuk dari Australia, mau melanjutkan perjalanan ke destinasi lain, seperti Danau Toba, Belitung, Borobudur, Bromo, Lombok, Labuan Bajo, Wakatobi, Morotai, Likupang, Raja Ampat, hingga destinasi regeneratif, seperti Jakarta dan Kepulauan Riau.
Fokus pada Wisatawan Berkualitas
Ayu Marthini mengakui pasar Australia merupakan salah satu kontributor utama bagi sektor pariwisata Bali. Namun, pemerintah kini mengarahkan strategi baru yang menitikberatkan pada kualitas kunjungan, bukan sekadar volume turis.
“Kami ingin turis Australia tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, serta menghargai budaya dan lingkungan Indonesia. Spending per kunjungan yang tinggi, jauh lebih berkelanjutan dibanding angka kunjungan besar semata,” jelasnya.
Jika terjadi pergeseran pasar Australia, dampaknya tentu bisa dirasakan hotel, maskapai, hingga pelaku usaha wisata di Bali. Oleh karena itu, diversifikasi pasar dan peningkatan kualitas turis menjadi langkah penting.
Sementara itu, terkait perubahan preferensi turis Australia yang mulai melirik destinasi lain seperti Jepang, Ayu Marthini menilai fenomena ini merupakan kombinasi tren musiman dan perubahan jangka panjang.
“Dalam jangka pendek ini musiman. Tapi dalam jangka panjang, ini pengingat bahwa preferensi turis makin kompleks dan berbasis pengalaman unik,” tuturnya.
Hal inilah yang membuat strategi pemasaran Indonesia kini diarahkan ke konsep experience-based tourism dan high-value tourism.
“Target kami bukan turis yang datang karena murah, tetapi yang datang karena Indonesia menawarkan koneksi autentik dengan budaya lokal, pengalaman alam yang tak tertandingi, dan perjalanan yang bermakna,” ujar Ayu Marthini.
Destinasi Prioritas untuk Pasar Australia
Selain Bali, Kemenpar saat ini memprioritaskan promosi empat destinasi unggulan ke pasar Australia, yakni Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Mandalika di Lombok, Yogyakarta, dan Danau Toba.
Labuan Bajo diposisikan sebagai destinasi nature tourism dan premium experience melalui wisata Taman Nasional Komodo, serta sailing trip. Mandalika ditawarkan sebagai alternatif Bali dengan konsep serenity dan sport tourism.
Sementara Yogyakarta menonjolkan pengalaman budaya mendalam, serta Danau Toba yang menawarkan geopark dan heritage tourism dengan panorama alam.
Tak hanya itu, pemerintah juga saat ini mendorong produk wisata minat khusus, seperti marine tourism, wellness tourism, gastro tourism, seni budaya, hingga MICE (meeting, incentive, conference, and events).
“Diversifikasi ini penting untuk memberi turis Australia lebih banyak pilihan, sekaligus mengurangi tekanan konsentrasi wisatawan di Bali secara berkelanjutan,” pungkas Ayu Marthini.
