Kumparan Logo

Begini Rasanya Makan "Bakmi" di Atas Perahu di Floating Market Thailand

kumparanTRAVELverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Damnoen Saduak Floating Market di Samut Songkhram, Thailand. Foto: DN. Mustika Sari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Damnoen Saduak Floating Market di Samut Songkhram, Thailand. Foto: DN. Mustika Sari/kumparan

Makan bakmi di restoran mungkin sudah biasa. Tapi coba, deh, rasain sensasi makan bakmi di atas perahu yang ada di Damnoen Saduak Floating Market, Thailand.

Damnoen Saduak Floating Market ini terletak di Provinsi Samut Songkhram, yang jaraknya sekitar 1,5 jam dari Bangkok. Kamu bisa menyewa mobil dari Bangkok, atau naik BTS dan meneruskannya dengan naik bus atau taksi.

Floating Market ini menjadi salah satu atraksi yang menarik di Samut Songkhram. Kamu bisa merasakan sensasi berbelanja dari pedagang yang berkeliling mendayung perahunya sendiri.

Damnoen Saduak Floating Market di Samut Songkhram, Thailand. Foto: DN. Mustika Sari/kumparan

Pasar terapung ini buka setiap hari kecuali Senin, mulai pukul 07.00 hingga 12.00 waktu setempat. Ada baiknya kamu datang ke sini di pagi hari, agar tak terlalu panas.

Saat hujan turun, floating market ini tidak buka. Sebab, tak banyak perahu yang memiliki kanopi di atasnya, sehingga kamu bisa kehujanan.

Damnoen Saduak Floating Market di Samut Songkhram, Thailand. Foto: DN. Mustika Sari/kumparan

Jika tertarik untuk datang ke sini, kamu bisa menyiapkan uang sekitar 800 - 1000 bath (Rp 360 ribu - Rp 450 ribu). Ini adalah biaya sewa satu perahu, yang di dalamnya bisa diisi empat hingga lima orang. Durasi berkeliling naik perahu kurang lebih satu jam.

Akan tetapi, beberapa turis asing juga ada yang ditawari harga 1500 - 2000 bath (Rp 675 ribu - Rp 900 ribu). Jika dipatok harga yang terlampau mahal, kamu bisa melakukan tawar-menawar dengan pemilik perahu hingga mendapatkan harga yang diinginkan.

Pengalaman Makan Bakmi Thailand di Damnoen Saduak Floating Market

Kumparan berkesempatan mengunjungi Damnoen Saduak Floating Market beberapa waktu lalu. Kami mendapatkan harga 800 bath untuk menyewa satu perahu saat itu.

Tak lama setelah perahu berlayar, kami melewati area China Town. Penjualnya rata-rata warga keturunan China-Thailand.

Ada sebuah kios kecil di pinggir danau, yang penjualnya sepasang suami istri berusia lanjut. Mereka menjual Thai Boat noodle.

Damnoen Saduak Floating Market di Samut Songkhram, Thailand. Foto: DN. Mustika Sari/kumparan

Sang istri menyiapkan mi untuk pelanggan, di atas kapal yang terdapat di depan kiosnya. Sementara suaminya, mengantarkan pesanan ke pelanggannya.

Dulu, sang istri juga mendayung sendiri perahunya berkeliling floating market. Namun, karena usianya tak lagi muda, ia memutuskan untuk berjualan di darat.

Kami memesan "bakmi" varian seafood. Di dalamnya, terdapat mi bihun kenyal, tauge, bakso ikan, daging ayam cincang, setengah potong telur rebus, potongan tahu goreng, dan udang. Di atasnya, terdapat topping daun bawang dan kacang yang ditumbuk kasar.

Thai Boat Noodle di Damnoen Saduak Floating Market di Samut Songkhram, Thailand. Foto: DN. Mustika Sari/kumparan

Rasanya lumayan unik. Ada sensasi pedas--meskipun tak ada sambal di sana--kemudian terdapat hint rasa asam khas Thailand setelah beberapa kali mengunyahnya.

Harganya juga terbilang cukup murah. Kamu hanya perlu merogoh kocek 60 bath (Rp 27 ribu) untuk semangkuk Thai Boat noodle yang lezat.

Perahu tetap berjalan di saat kami menyantap hidangan Thai Boat noodle. Terasa agak ngeri, memang. Sebab, banyak sopir perahu lain yang tak berhati-hati saat berbelok, sehingga seringkali bertabrakan dengan perahu kami.

Setelah selesai menyantap Thai Boat noodle, kami menemukan penjual Mango Sticky Rice yang sedang berkeliling. Mata kami langsung tertarik melihat ketan warna-warni yang ada di atas perahu penjual Mango Sticky Rice itu.

Mango Sticky Rice di Damnoen Saduak Floating Market di Samut Songkhram, Thailand. Foto: DN. Mustika Sari/kumparan

Mango Sticky Rice sendiri merupakan dessert khas Thailand, yang berisi ketan dengan taburan kacang, potongan mangga, dan diberi kuah santan. Biasanya, ketan yang ada di Mango Sticky Rice berwarna putih. Namun, yang ada di floating market ini cukup berbeda.

Ketannya memiliki empat warna; putih, merah, biru, dan hijau. Penjualnya menggunakan pewarna alami untuk ketan tersebut. Ia memakai buah bit untuk pewarna merah, pandan untuk pewarna hijau, dan bunga telang untuk pewarna biru.

Rasanya enggak perlu diragukan lagi. Lezat banget! Berbeda dari yang dijual di Indonesia, rata-rata mangga yang dipakai untuk Mango Sticky Rice di Thailand sangatlah manis.

Damnoen Saduak Floating Market di Samut Songkhram, Thailand. Foto: DN. Mustika Sari/kumparan

Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan. Ada banyak pedagang di kanan-kiri floating market. Mereka menjual berbagai macam kebutuhan, mulai dari baju, suvenir, pajangan, teh, hingga bumbu dapur dan rempah-rempah.

Namun biasanya, jika kamu berbelanja sambil berkeliling dengan perahu, para penjual akan mematok harga yang lebih tinggi dibandingkan jika berbelanja dengan berjalan kaki di sepanjang pasar. Meski begitu, kamu tetap bisa menawarnya.

Damnoen Saduak Floating Market di Samut Songkhram, Thailand. Foto: DN. Mustika Sari/kumparan

Dikutip dari laman resmi Tourism Thailand, Klong Damnoen Saduak merupakan kanal terlurus dan terpanjang di Thailand.

Kanal ini dibangun atas prakarsa kerajaan, karena Raja Rama IV Thailand ingin menghubungkan Sungai Mae Klong dengan jalur sungai China untuk mendukung transportasi dan perdagangan.

Damnoen Saduak Floating Market di Samut Songkhram, Thailand. Foto: DN. Mustika Sari/kumparan

Dibutuhkan lebih dari dua tahun untuk menggali, dan akhirnya selesai di bawah pemerintahan penggantinya Raja Rama V. Kanal ini memiliki panjang 32 kilometer dan memiliki lebih dari 200 cabang.

Gimana? Tertarik untuk belanja di Damnoen Saduak Floating Market?