kumparan
search-gray
Food & Travel11 Juni 2019 20:57

Begini Tanggapan Kami Rita Sherpa Tentang Maut di Puncak Everest

Konten Redaksi kumparan
Begini Tanggapan Kami Rita Sherpa Tentang Maut di Puncak Everest (991593)
Ilustrasi pendaki Gunung Everest. Foto: AFP
Antrean pendaki yang mengular menuju puncak Everest beberapa waktu lalu kembali menelan korban jiwa. Setidaknya dua pendaki meninggal dalam kejadian tersebut.
ADVERTISEMENT
Dua pendaki yang bernama Donald Lynn Cash, 55, asal Amerika Serikat dan Anjali Kulkarni, 55, dari India meninggal di tengah antrean yang terjadi di salah satu dari tujuh puncak gunung tertinggi di dunia itu.
Kejadian meninggalnya kedua pendaki tersebut menambah panjang daftar korban tewas di Everest. Setidaknya, total ada 11 orang yang tewas pada musim pendakian 2019.
Begini Tanggapan Kami Rita Sherpa Tentang Maut di Puncak Everest (991594)
Kami Rita Pendaki Everest 24 kali Foto: AP Photo/Niranjan Shrestha
Para pendaki yang tewas disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah karena mereka harus antre berjam-jam untuk mencapai puncak Everest. Padahal, daerah ini dikenal sebagai zona kematian, karena hanya mengandung sepertiga oksigen setiap hirupannya.
Terkait hal tersebut, Kami Rita Sherpa, pria yang telah mencetak rekor 24 kali mendaki Gunung Everest itu mengatakan, bahwa tewasnya para pendaki di Everest disebabkan oleh pemilihan ekspedisi pendakian yang murah.
Begini Tanggapan Kami Rita Sherpa Tentang Maut di Puncak Everest (991595)
Sherpa di Gunung Everest Foto: Shutter Stock
"Jika kamu membayar 20 ribu dolar Amerika Serikat hingga 30 ribu dolar Amerika untuk mendaki Everest, sedangkan biaya izin saja 11 ribu dolar Amerika, maka kamu harus membayar Sherpa, pemandu, dan untuk botol oksigen. Jadi kualitas seperti apa yang disediakan ekspedisi ini?," ungkap Kami Rita, seperti dilansir Kathmandu Post.
ADVERTISEMENT
Ia juga tidak habis pikir dengan para pendaki yang tidak mau mengeluarkan sedikit lebih banyak uang untuk memilih perusahaan-perusahaan ekspedisi yang berkualitas dengan pemandu yang berpengalaman. Padahal, hal tersebut adalah untuk memastikan para pendaki dapat kembali dengan selamat.
Menurutnya, kepadatan yang terjadi di Puncak Everest beberapa waktu lalu bukanlah hal yang baru. "Kepadatan di Everest telah terjadi selama 12 tahun terakhir. Ini bukanlah hal yang baru, itu normal," katanya.
Begini Tanggapan Kami Rita Sherpa Tentang Maut di Puncak Everest (991596)
Puncak tertinggi di dunia. Gunung Everest. Foto: Tim Chong/Reuters
Kami Rita pun menceritakan pengalamannya saat pertama kali memandu puluhan pendaki sekaligus di Everest. "Saya membawa 26 orang untuk pendakian pertama dan 13 orang untuk pendakian kedua. Dua kali pada minggu yang sama di bulan Mei. Kami tidak kehilangan siapa pun, ini bukan hanya karena saya, tetapi karena tim pemandu yang berpengalaman," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Ia pun menganalogikan perusahaan ekspedisi itu ibarat hotel mewah. Jika kamu salah memilih, justru keselamatanmu yang terancam.
"Kemacetan tidak membunuh orang, tetapi pemandu yang tidak berpengalaman dari perusahaan ekspedisi yang murah tidak dapat membantumu jika terjadi kesalahan," ujar Kami Rita.
Begini Tanggapan Kami Rita Sherpa Tentang Maut di Puncak Everest (991597)
Ilustrasi Para pendaki menaiki Gunung Everest Foto: Shutter Stock
Karena ada banyak hal bisa saja terjadi di Everest, terutama di atas ketinggian 8.000 mdpl atau yang disebut 'zona kematian'. Medan yang berbahaya, cuaca berubah-ubah, belum lagi penyakit ketinggian, kelelahan, dan bahkan psikosis bisa mengancam pendaki kapan saja.
Selain itu, sikap para pendaki yang keras kepala dan tidak kooperatif juga menjadi faktor penyebab utama. Menurut Kami Rita, pendaki yang bersikeras untuk mencapai puncak tanpa memperhatikan situasi sekitarnya, mereka cenderung tidak berhasil. Pada saat-saat seperti ini, pemandu Sherpa yang berpengalaman tentunya akan mengingatkan, memarahi, bahkan menamparnya sekalipun jika mereka keras kepala.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, menyusul 11 kematian di Everest --sembilan di Nepal dan dua di pihak China-- pemerintah setempat berencana untuk membatasi jumlah izin pendakian di Everest dan menaikkan biaya untuk pendaki. Bahkan beberapa minggu lalu, pemerintah juga berencana untuk mendirikan pemeriksaan kesehatan wajib di Base Camp yang ada di Everest, sebelum mengizinkan para pendaki untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Bagaimana menururutmu?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white