Binondo, Kawasan Pecinan Tertua di Dunia yang Dibangun Saat Dijajah Spanyol

Kampung Pecinan adalah wilayah yang banyak ditinggali oleh keturunan etnis Tionghoa. Bukan hanya di Indonesia, kawasan tersebut juga banyak tersebar di berbagai belahan dunia.
Kawasan yang dikenal sebagai Chinatown ini selalu menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Sebab, kawasan ini banyak menghadirkan pusat perdagangan yang berisi beragam kuliner hingga pernak-pernik khas Tionghoa.
Namun, ternyata kawasan hunian etnis Tionghoa ini pertama kali berdiri bukanlah di China, melainkan di Filipina. Kampung pecinan ini terletak di Distrik Binondo, Manila. Binondo juga dinobatkan sebagai kawasan pecinan tertua di dunia.
Distrik Binondo ini sebenarnya sudah ada sejak abad ke-1 Masehi. Kala itu, orang-orang Tionghoa sudah aktif berdagang ke wilayah Asia Tenggara.
Namun, pada abad ke-16 mereka terpaksa menetap bersama-sama dalam satu wilayah di Manila. Hal itu terjadi setelah kolonial Spanyol menguasai Filipina, khususnya Binondo.
Pada 1584, berdasarkan arahan Gubernur Luis Perez Dasmarinas, kolonial Spanyol membangun pemukiman untuk orang-orang Tionghoa agar mudah diawasi. Para pedagang China yang merantau di Manila dikumpulkan di satu kawasan, yaitu Binondo, pusat perdagangan di Filipina.
Spanyol memberikan tanah hibah kepada sekelompok pedagang dan pengrajin Tionghoa yang bebas pajak dan dengan hak istimewa yang terbatas untuk mengatur diri sendiri. Dilansir Esquiremag, bahkan sebelum dikuasai Spanyol, kawasan ini sudah dihuni oleh para pedagang China.
Selama masa kekuasaan Spanyol, Dasmarinas membangun sebuah katedral besar di kawasan tersebut, dengan tujuan, memboyong warga Tionghoa untuk berganti agama menjadi Katolik. Selain itu, Binondo memiliki sisi sejarah yang kelam terkait kehidupan etnis Tionghoa di Filipina.
Saat Spanyol menjajah Filipina, penduduk etnis Tionghoa yang tinggal di Binondo dipaksa pindah agama, jika tidak, mereka akan mendapat hukuman mati. Bahkan, para kolonial juga mengusir dan membunuh imigran asal China yang menolak pindah agama.
Bukan hanya itu, mereka juga dipaksa menerapkan budaya kolonial dan menghilangkan identitas aslinya sebagai etnis Tionghoa. Selama dikepung Spanyol, banyak para pedagang China yang menikah dengan masyarakat asli Filipina yang disebut mestizo atau ras campuran China-Filipina.
Meski begitu, bangunan, makanan, dan budaya China tetap tampak jelas di Binondo. Hingga saat ini, setelah berabad-abad Binondo masih mempertahankan peninggalan leluhur mereka.
Seperti kawasan pecinan pada umumnya, Binondo menyuguhkan nuansa pemukiman etnis Konghucu di setiap sisinya. Yang cukup dikenal adalah Jalan Carvajal yang disebut juga Umbrella Alley (gang payung).
Untuk mengulas kilas balik sejarah panjang warga asli Binondo memperebutkan identitas keberagamaannya, kamu bisa mengunjungi gereja Binondo. Gereja ini dibangun saat Binondo masih dalam kekuasaan kolonial, yakni 1596.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).
