Bukan Garuda, Ini Maskapai Penerbangan Pertama yang Beroperasi di Indonesia

3 November 2022 7:02
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi maskapai Indonesia Airways. Foto: Cahyadi HP/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi maskapai Indonesia Airways. Foto: Cahyadi HP/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Sebagai sebuah maskapai nasional, selama ini traveler mungkin beranggapan bahwa Garuda Indonesia adalah maskapai pertama yang beroperasi di Indonesia. Jika iya, anggapanmu ternyata salah, karena sebelum Garuda mengudara, ada satu maskapai milik Indonesia yang pernah melangit lebih dahulu.
ADVERTISEMENT
Bukan Garuda Indonesia, Indonesian Airways menjadi maskapai komersil pertama yang ada di Indonesia. Walau demikian, uniknya, Indonesian Airways justru tidak banyak beroperasi di Indonesia, melainkan berpusat di Burma (atau yang sekarang dikenal dengan Myanmar).
Ilustrasi maskapai Indonesian Airways. Foto: Cahyadi HP/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi maskapai Indonesian Airways. Foto: Cahyadi HP/Shutterstock
Indonesian Airways juga diyakini sebagai maskapai yang pertama kali mengoperasikan penerbangan sipil.
"Penerbangan sipil Indonesia tercipta pertama kali atas inisiatif Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dengan menyewakan pesawat yang dinamai “Indonesian Airways” kepada pemerintah Burma pada 26 Januari 1949," tulis laman resmi Garuda Indonesia.
Sementara itu, dilansir laman resmi TNI Angkatan Udara, keberadaan Indonesian Airways tak lepas dari pembelian pesawat Dakota RI-001 Seulawah. Pembelian pesawat tersebut diprakarsai atas gagasan KSAU Komodor Udara, S Suryadarma atas tindak lanjut dari pidato Presiden pertama RI, Soekarno.
Pesawat Dakota RI-001 Seulawah. Foto: TNI AU
zoom-in-whitePerbesar
Pesawat Dakota RI-001 Seulawah. Foto: TNI AU
Dalam pidato pertamanya, Presiden Soekarno menyampaikan pentingnya pertahanan udara bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Pidato yang dilakukan pada 16 Juni 1948 tersebut pun akhirnya berhasil menggugah hati rakyat Sumatera, khususnya Aceh.
ADVERTISEMENT
Dari situlah, pesawat RI-001 Seulawah akhirnya dibeli lewat pengumpulan dana yang dinamai dengan dana Dakota.
Disebutkan bahwa saat itu dana yang terkumpul mencapai 130 ribu straits-dollar hanya dalam dua hari. Itu masih ditambah dengan lima kilogram emas.
Untuk pelaksanaan pembelian pesawat terbang, AURI akhirnya menugaskan Opsir Muda Udara II Wiweko Supono, sebagai ketua misi pembelian yang dibantu oleh Opsir Muda Udara III Nurtanio Pringgodisuryo.
Singkatnya, pesawat Dakota RI-001 tiba di Indonesia pada Oktober 1948. Sebulan setelah kedatangannya, pesawat ini telah mengantarkan Wakil Presiden melakukan kunjungan ke Sumatera, melalui rute Maguwo-Jambi-Payakumbuh-Kutarajasa Pergi Pulang (PP).
Kemudian, penerbangan berikutnya adalah penerbangan dari Maguwo pada 1 Desember 1948, menuju Piobang (Payakumbuh) dwngan membawa beberapa personel untuk memperkuat militer di Sumatera.
ADVERTISEMENT
Tiga hari di Payakumbuh, pada 4 Desember pesawat bertolak ke Kutaraja untuk mengangkut kadet ALRI, dari Payakumbuh ke Kutaraja yang dipimpin oleh Kasal Laksamana Laut Subijakto.
Dalam rangka perawatan mesin berkala dan pemasangan tangki jarak jauh, pada 6 Desember 1948 pesawat diterbangkan menuju Calcuta, India.
Pesawat diawaki oleh Kapten Pilot J. Maupin, Kopilot Opsir Udara III Sutardjo Sigit, juru radio Opsir Muda Udara III Adi Sumarmo, serta seorang juru mesin Caesselbery. RI-001 membawa empat penumpang, saudagar Aceh yang akan merintis hubungan dagang dengan luar negeri.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Namun sayang, Seulawah tidak bisa pulang ke Indonesia, karena Belanda melancarkan Agresi Militer ke-2 dengan membombardir Bandara Maguwo dan berhasil menduduki Jogja.
Berhubung berkecamuknya perang menghadapi Agresi Belanda II dan tidak memungkinkannya kembali ke Tanah Air, mereka bersepakat untuk mengoperasikan pesawat di luar negeri melalui penerbangan komersial.
ADVERTISEMENT
Awalnya penerbangan komersial ini direncanakan di India, namun karena sudah ada perusahaan penerbangan India Nation Airline (INA) yang melayani penerbangan dalam negerinya, sehingga perhatian dialihkan ke Burma.

Lahirnya Maskapai Penerbangan Indonesia Airways

Ilustrasi maskapai Indonesia Airways. Foto: vectorman92/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi maskapai Indonesia Airways. Foto: vectorman92/Shutterstock
Untuk bisa beroperasi di Burma, RI-001 harus dalam bentuk perusahaan penerbangan atau airlines. Maka atas prakarsa Opsir Udara II Wiweko Supeno, dan bantuan Bapak Marjuni (perwakilan RI di Birma) 26 Januari 1949 didirikanlah sebuah perusahaan penerbangan niaga (airlines) dengan nama “Indonesian Airways” yang berpangkalan di Ranggon (Burma).
Indonesian Airways berdiri lewat modal utama satu pesawat RI-001 Seulawah, dengan personel antara lain J.H. Maupin (pilot), Alan Ladmore, dan Caesselbery (juru mesin) dibantu oleh tenaga Indonesia, Opsir Udara III Wiweko Supomo, Opsir Udara II Sutardjo Sigit, dan Opsir Udara Sudarjono.
ADVERTISEMENT
Tanggal 26 Januari 1949, Indonesian Airways sudah berada di Bandara Mingladon, Burma, berjajar di antara perusahaan penerbangan lainnya. Pada hari itu juga RI-001 melaksanakan penerbangan pertamanya sebagai pesawat komersial.

Sepak Terjang Indonesian Airlines

Hampir semua wilayah Burma telah dijelajahi dan didarati oleh pesawat RI-001 Seulawah. Sejak dari ujung utara sampai ke selatan, dan dari barat ke timur, baik untuk keperluan niaga maupun untuk keperluan pemerintah dan militer.
"Meskipun beroperasi di Burma, pesawat RI-001 dua kali menerobos blokade udara yang dilakukan oleh Belanda dari Ranggon ke Aceh dengan membawa bantuan persenjataan dan amunisi guna melanjutkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan," tulis TNI AU.
Pesawat RI-001 menjadi pelopor penerbangan sipil nasional, karena dengan pesawat inilah Indonesia Airways beroperasi di Burma.
ADVERTISEMENT
Dana yang diperoleh oleh operasi penerbangan di Burma ini digunakan untuk membiayai kadet-kadet udara yang belajar di India dan Filipina. Selain membiayai para kadet yang menjalani pendidikan, operasi RI-001 dapat membeli beberapa pesawat Dakota lainnya yang diberi nomor registrasi RI-007 dan mencharter pesawat RI-009.
Hanya saja sepak terjang Indonesia Airways harus berakhir setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda.
Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda dan pemulihan kekuasaan Pemerintah RI, perubahan organisasi dan personel di lingkungan AURI pun dilakukan.
Perubahan itu juga menyangkut keberadaan Indonesian Airways di Ranggon (Burma), maka Indonesian Airways dilikuidasi dan semua kegiatan di wilayah Burma dihentikan.
Setelah tidak beroperasi sebagai pesawat komersial Indonesia Airways, pesawat RI-001 Seulawah ditaruh di Pangkalan Udara (PU) Andir Bandung.
ADVERTISEMENT
Di Andir, pesawat tersebut digunakan untuk “joy flight”. Setelah tidak digunakan lagi pada awal tahun 1950, pesawat RI-001 diserahkan ke bagian teknik dan diparkir di ujung landasan sebelah barat PU Andir.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020