Kumparan Logo

Cerita dari Tempat Terdingin Non-Kutub di Dunia, Gletser Siachen

kumparanTRAVELverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemandangan di Gletser Siachen Foto: Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Pemandangan di Gletser Siachen Foto: Wikimedia Commons

Berada di ketinggian 5.753 mdpl, Gletser Siachen disebut-sebut sebagai tempat di luar kutub terdingin di dunia. Wilayah dengan panjang 76 km ini juga merangkap sebagai gletser terpanjang di Karakoram --pegununan yang membentang di Pakistan, India, dan China-- serta kedua terpanjang di area non-kutub dunia.

Ya, suhu di Gletser Siachen bisa mencapai -50 derajat Celcius. Kala musim panas saja suhunya sekitar -10 derajat Celsius. Bisa dibayangkan betapa dinginnya, kan?

Tumpukan Salju di Gletser Siachen Foto: Wikimedia Commons

Selama ini, letak Gletser Siachen masih diperebutkan oleh India dan Pakistan. Selama beberapa dekade, kedua negara tersebut menempatkan ribuan tentara di wilayah es ini demi memperebutkannya.

Gletser Siachen juga menjadi wilayah yang termiliterisasi, karena lebih dari 1.000 tentara India dan Pakistan kehilangan nyawa. Lebih banyak yang gugur akibat cuaca buruk, ketimbang karena pertempuran. Secara tak langsung Gletser Siachen menjadi salah satu daerah paling tidak ramah di dunia, serta medan tempur tertinggi di dunia.

Salju di Gletser Siachen Foto: Wikimedia Commons

Tentara yang bertugas di 'kutub ketiga' pun ‘diharuskan’ menguasai keahlian mendaki gunung, ketimbang menembak.

"Satu hal yang kita semua anggap remeh adalah bernafas, dan itu sering kali menjadi hal yang paling sulit untuk dilakukan di sini," kata seorang mayor jenderal, seperti dikutip dari BBC.

Selain bernafas, untuk rutinitas seperti mencukur, pergi ke kamar mandi, hingga menyikat gigi juga menjadi kegiatan 'berbahaya'. Sementara untuk memasak nasi, para tentara butuh waktu tiga hingga empat jam, sedangkan untuk membuka telur rebus mereka harus menggunakan kapak.

facebook embed

Dalam wawancara dengan BBC, Wakil Komandan Brigade 323 Sianchen, Kolonel Aamer Islam dari tentara Pakistan, mengatakan sebelum pasukannya bertugas, mereka harus menjalani pelatihan yang keras dan diajari cara menyesuaikan diri, memberi pertolongan pertama, memanjat, hingga berpindah dari satu pos ke pos lain.

"Tujuan utama pelatihan ini adalah untuk memastikan bahwa para prajurit dapat melakukan tugas sehari-hari mereka sambil bertahan hidup dengan oksigen yang hampir tidak mencukupi," ujar Islam.

Gletser Siachen Foto: Wikimedia Commons

Setelah siap, tentara akan menuju pos sambil membawa ransel berisi barang penting, seperti sleeping bag, tabung oksigen, minyak tanah, kapak, tali khusus, sarung tangan, dan kaus kaki. Sambil memikul tas dengan besar dengan berat mencapai 25 hingga 30 kg, mereka berjalan mengenakan sepatu khusus berbobot hampir 10 kg.

Tak hanya itu, ketika sampai di 'tempat kerjanya', mereka hidup tanpa listrik dan gas. Prajurit harus bergantung pada minyak tanah atau K2 yang menjadi energi satu-satunya untuk mengisi baterai ponsel, melelehkan es, hingga memasak air.

Pemandangan di Gletser Siachen Foto: Wikimedia Commons

The Culture Trip melaporkan bahwa di tahun 2008 lalu, sebagian wilayah Gletser Siachen dibuka untuk warga sipil. Namun, jumlahnya sangat dibatasi dan warga negara India perlu Inner Line Permit dan surat khusus untuk mengunjunginya.

Bagaimana menurutmu?