Cerita Pawang Buaya di Bekasi: Ikuti Jejak Orang Tua hingga Pernah Digigit
·waktu baca 3 menit

Di balik deretan kolam berisi ratusan reptil ganas di Taman Buaya Indonesia Jaya, ada sosok Nurdin atau yang akrab disapa Pak Udin. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pengurus, sekaligus pawang buaya di tempat wisata yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu itu.
Baginya, hidup bersama buaya bukan hal baru. Sejak kecil, ia sudah mengikuti jejak orang tuanya yang lebih dulu menjadi pawang. Dari sanalah keberanian menghadapi reptil predator itu tumbuh.
“Dari kecil saya ikut orang tua. Setelah orang tua pensiun baru saya terjun langsung ngurus buaya,” kata Nurdin.
Di taman buaya seluas kurang lebih dua hektare itu, ada sekitar 500 ekor buaya dari tiga jenis utama, yakni buaya Sumatera, Kalimantan, dan Irian. Selain itu, ada pula buaya putih albino yang menjadi daya tarik pengunjung.
Nurdin hafal karakter tiap jenis buaya. Menurutnya, buaya Irian paling sulit ditangani karena agresif. Sementara buaya Kalimantan lebih sensitif terhadap panas dan lebih suka berendam.
“Kalau Irian itu agresif. Kalau Kalimantan kurang suka kena panas,” ujarnya.
Meski kini terlihat terbiasa masuk kandang dan berinteraksi dekat dengan buaya saat atraksi, Nurdin mengaku awalnya sempat takut. Namun, rasa takut itu perlahan hilang, karena terbiasa dan selalu berhati-hati.
“Awalnya takut, tapi kalau sudah terbiasa kita hati-hati aja,” kata Nurdin.
Atraksi buaya biasanya digelar seminggu sekali, terutama saat musim liburan, seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Dalam pertunjukan itu, para pawang memperagakan aksi ekstrem, mulai dari memasukkan kepala ke dekat mulut buaya, hingga tidur di atas tubuh reptil tersebut.
Namun, pekerjaan itu bukan tanpa risiko. Nurdin pernah menjadi korban gigitan buaya saat sedang membersihkan kolam.
“Pernah digigit, sampai bolong kaki,” ujarnya.
Peristiwa itu terjadi ketika para pawang menguras kolam. Salah satu buaya ternyata belum naik ke daratan dan tanpa sengaja terinjak hingga refleks menggigit.
Beruntung, ia sudah dibekali pengetahuan dari orang tuanya tentang cara menghadapi serangan buaya.
“Kalau digigit jangan dipukul. Saya colok matanya, akhirnya kebuka mulutnya,” tutur Nurdin.
Selain merawat dan memberi makan buaya, Nurdin juga bertugas mendampingi pengunjung berkeliling area taman. Ia mengingatkan pengunjung untuk tidak melempar benda ke kolam, atau memasukkan tangan ke area kandang demi keselamatan bersama.
Sementara itu, setiap minggu ratusan kilogram pakan harus disiapkan. Buaya-buaya di sana rutin makan tiga kali seminggu, dengan total pakan mencapai satu mobil losbak ayam dalam sekali makan.
Kekhawatiran Terbesar Pawang Buaya
Meski begitu, kondisi tempat wisata yang kadang sepi pengunjung membuatnya khawatir. Menurutnya, biaya perawatan buaya tetap besar meski pemasukan menurun.
“Kalau sepi bos nombok juga, tapi buaya tetap harus makan,” ungkap Nurdin.
Kekhawatiran terbesar Nurdin kini bukanlah digigit buaya lagi, melainkan kemungkinan tempat yang sudah menjadi bagian hidupnya itu harus tutup, karena minim pengunjung.
“Saya dari kecil senang buaya. Yang saya khawatirkan kalau tempat ini sepi terus, lama-lama tutup,” katanya.
Belakangan, nama taman buaya ini kembali ramai setelah menjadi lokasi syuting film Crocodile Tears. Selama sekitar satu bulan, Nurdin dan para pengelola ikut menjaga area syuting hingga larut malam demi kelancaran produksi film tersebut.
Kini, pengelola berencana menambah fasilitas baru, termasuk kolam renang dan area wisata tambahan, agar pengunjung kembali ramai datang melihat kehidupan ratusan buaya yang telah dirawat turun-temurun di tempat itu.
