Cerita Pria Keliling Dunia Tanpa Naik Pesawat, Berhasil Kunjungi 50 Negara
·waktu baca 4 menit

Keliling dunia naik pesawat mungkin jadi hal yang umum atau biasa. Namun, lain cerita dengan apa yang dilakukan pria satu ini. Ia justru berhasil keliling dunia, tanpa naik pesawat dengan menempuh perjalanan ratusan ribu kilometer (km). Wow!
Dilansir Mirror, ialah Eric Guiliani, pria asal Florida, Amerika Serikat (AS), ini punya cara yang berbeda untuk mewujudkan mimpinya keliling dunia. Jika kebanyakan orang keliling dunia naik pesawat, Guiliani justru keliling dunia dengan menempuh jalur darat hingga 70.000 mil alias 112.654 km jauhnya.
Selama 3 tahun di jalanan, Guiliani telah melintasi tujuh benua hingga 50 negara. Menariknya, perjalanan keliling dunianya itu pun dilakukan dengan menggunakan transportasi umum, mulai dari bus, kereta api, hingga kapal laut.
Guiliani mengatakan, bahwa ia hanya menggunakan pesawat saat pergi pada titik awal perjalanannya, yaitu di Kota Cape Town, Afrika Selatan. Namun, setelah sampai di sana, ia menempuh perjalanan melalui jalur darat atau laut.
"Saya mulai (perjalanan) di Afrika dan naik bus dari Cape Town ke Kairo (Mesir), kemudian melakukan perjalanan melalui Timur Tengah, Yordania dan Israel, dan menaiki kapal kargo pertama saya dari Israel ke Yunani," kata Guiliani.
"Saya kemudian melakukan perjalanan berkeliling Eropa ke London," lanjutnya.
Keluar dari Pekerjaan demi Traveling Keliling Dunia
Menariknya lagi, Guiliani mengaku ia keluar dari pekerjaan yang digelutinya demi bisa traveling keliling dunia.
"Saya tidak menyukai pekerjaan saya yang monoton dan rutinitas yang itu-itu saja," tutur Guiliani.
"Saya menyukai traveling karena itu adalah sesuatu yang unik. SAya ingin melihat banyak negara, seperti melihat atau melintasi langsung Gurun Sahara, bukan hanya terbang di atasnya" tambahnya.
Selain itu, dalam perjalanannya tersebut, Guiliani mengatakan bahwa ia ingin mengurangi jejak karbon seminimal mungkin dengan menempuh jalur darat.
Suka Duka Keliling Dunia Lewat Jalur Darat
Meski demikian, perjalanannya itu bukanlah tanpa hambatan. Ia pun mengatakan bahwa negara-negara di Afrika, apalagi ada beberapa daerah yang menurutnya rawan konflik. Bahkan, saat berada di Kenya, ia mengaku sempat ingin membatalkan aturannya untuk tidak naik pesawat.
"Saya ada di sana selama serangan Universitas Garissa, ketika 148 orang terbunuh," kata Guiliani.
"Keesokan harinya saya harus naik bus selama 20 jam melalui wilayah di mana teroris Al-Shabaab masih berkeliaran. Saya ingin naik pesawat untuk keluar dari sana akan tetapi akhirnya saya tidak melakukannya (naik pesawat)," lanjutnya.
Tak sampai di situ, karena perjalanannya yang terbilang panjang dan melelahkan, ia sempat mengalami dehidrasi dan tidak enak badan dalam perjalanannya tersebut.
“Beberapa rute perjalanan bus di Afrika menelan waktu 15 atau 20 jam . Saya mengalami dehidrasi parah dan sempat jatuh sakit,” ungkap Guiliani.
Dari Afrika, Guiliani kemudian melanjutkan perjalanannya ke Asia. Perjalaannya di Asia ia mulai dari Kota Beijing kemudian lanjut ke China hingga akhirnya ke Asia Tenggara.
Guiliani mengaku bahkan sempat naik kapal dari Bali menuju Australia, hingga kemudian ia menaiki kapal kargo yang lebih besar di Sydney dan melanjutkan perjalanan melintasi Samudera Pasifik untuk menuju Amerika Serikat.
"Ini adalah perjalanan sebulan di laut-menyenangkan untuk dua hari pertama tetapi hal itu segera hilang," tuturnya.
Karena menaiki kapal kargo, Guiliani mengatakan bahwa ia berlayar tanpa bergelimang fasilitas. Ia pun hanya disuguhkan dengan pemandangan lautan yang menghampar luas.
Meski demikian, Guiliani mengaku sangat senang, karena ia sudah menyelesaikan hampir setengah perjalanannya itu.
Dari Amerika Serikat, Guiliani kemudian melintasi jalur darat menuju Amerika Utara dan Kanada dengan menaiki mobil atau bus. Serta melanjutkan perjalanan dengan menaiki kapal kargo menuju Antartika.
Dari banyak benua dan negara yang dilewatinya, Guiliani mengaku jatuh cinta dengan keindahan Antartika. Menurutnya keindahan Benua Abu-Abu tersebut tak ada duanya.
"Antartika adalah tempat paling mengejutkan yang saya kunjungi-keindahan alam yang begitu murni tidak terduga," katanya.
"Kapal saya berlayar ke teluk-teluk kecil yang indah ini, dikelilingi oleh puncak gunung dan pantai berbentuk bulan sabit. Kami melihat penguin, anjing laut, dan paus," lanjut Guiliani.
Kemudian setelah Antartika, benua Amerika Selatan menjadi benua terakhir yang ia datangi. Di akhir perjalannya itu, Guiliani mengatakan ada banyak hal yang didapatkannya saat keliling dunia melalui jalur darat.
“Sangat menyenangkan bertemu orang-orang dan melihat keragaman saat Anda melakukan perjalanan dari satu negara ke negara lain. Tapi satu hal yang saya perhatikan adalah betapa miripnya kita semua," pungkas Guiliani.
Perjalananya itu pun juga dituangkan Guiliani dalam sebuah buku yang berjudul "Sky’s The Limit-One Man’s 70,000-Mile Journey Around The World".
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
