Kumparan Logo

Daftar Kota yang Terancam Overtourism Pada 2030, Jakarta Salah Satunya

kumparanTRAVELverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah wisatawan berlibur di Pantai Ancol, Jakarta, Jumat (7/6). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah wisatawan berlibur di Pantai Ancol, Jakarta, Jumat (7/6). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Datangnya turis baik untuk pelesiran atau keperluan bisnis memang menguntungkan bagi negara yang dikunjunginya. Setiap uang yang mereka keluarkan akan berimbas pada pertambahan devisa dan akhirnya uang tersebut bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan dan keperluan negara.

Di sisi lain, masuknya turis juga bisa menjadi bencana, apalagi jika jumlahnya tak terbendung alias overtourism. Masalah overtourism bukanlah hal yang baru, beberapa tahun terakhir beberapa wilayah di suatu negara tengah berjuang untuk terlepas dari belenggunya, sebut saja; Australia, Venesia, Jepang hingga Belanda.

Dilansir dari The Points Guy, World Tourism and Travel Council (WTTC) dan Jones Lang LaSalle (JLL) melakukan sebuah studi terkait potensi ancaman overtourism yang dapat menimpa beberapa wilayah di suatu negara pada 2030 mendatang. Studi WTTC muncul setelah adanya laporan Responsible Travel yang menemukan 98 destinasi di 63 negara sedang berjuang melawan overtourism.

Ilustrasi Turis Asal China Foto: Shutter Stock

Untuk mendapatkan jawaban, WTTC menganalisis 50 kota di seluruh dunia untuk menelusuri daerah mana saja yang tak siap kedatangan wisatawan dalam jumlah besar. Studi ini membagi kota menjadi beberapa kategori berdasarkan kesiapan kota tersebut dengan pesatnya pertumbuhan pariwisata.

Kemudian kota-kota tersebut diukur berdasarkan berbagai faktor seperti; tenaga kerja, infrastruktur, stabilitas, lingkungan, pertumbuhan pariwisata berkelanjutan, manajemen pariwisata dan sebagainya. Selanjutnya, studi ini membandingkan faktor-faktor tersebut dengan pertumbuhan wisatawan sejak 2017 hingga 2027.

Hasilnya menunjukkan, ada 15 kota yang berpotensi mengalami overtourism karena kondisi pariwisata di wilayah tersebut sedang berkembang namun tidak diiringi dengan sumber daya yang sepadan. Adapun kota-kota tersebut adalah:

Kuala Lumpur, Malaysia

Istanbul, Turki

Manila, Filipina

Jakarta, Indonesia

Kairo, Mesir

Delhi, India

Bangkok, Thailand

Bogota Kolombia

Mumbai, India

Moskow, Rusia

Kota Ho Chi Minh, Vietnam

New Delhi, India

Auckland, Selandia Baru

Seoul, Korea Selatan

Sydney, Australia

Sementara ada Berlin, Dublin, Madrid, London, Miami dan New York City (dan sebagian besar ibu kota Eropa Barat), menjadi ‘pemain dewasa’. Maksudnya, mereka sudah siap untuk kedatangan kunjungan wisatawan dalam jumlah besar, dan menurut WTTC kota-kota ini juga berada dalam posisi menguntungkan.

Sedangkan untuk kota-kota pusat keuangan seperti; Beijing, Chicago, Hong Kong dan Tokyo, tak banyak menerima kunjungan wisatawan sehingga pertumbuhan pariwisata di kota-kota tersebut tidak mengalami ketegangan.

Ilustrasi turis asal China Foto: Shutter Stock

Meskipun overtourism terus menjadi masalah, sektor pariwisata begitu penting bagi ekonomi internasional. WTTC melaporkan industri perjalanan mampu berkontribusi sebesar 10,4 persen dari PDB global. Namun yang menjadi masalah bukan pada pariwisatanya melainkan kesiapan suatu wilayah atau negara untuk mengelola industri tersebut dengan bijaksana dan berkelanjutan.

Sebuah destinasi wisata juga harus kreatif untuk mengelola sektor pariwisatanya yang terus meningkat. Seperti Amsterdam yang mencopot tulisan ikonik ‘ I amsterdam’ pada bulan Desember lalu. Kemudian ada Venesia dan Roma yang menerapkan peraturan dan hukum ketat untuk mengendalikan wisatawan.