Dampak Mati Listrik Massal, Layanan Perhotelan Sempat Tersendat

Mati listrik massal terjadi di Jabodetabek, Banten, dan berapa wilayah di Jawa Barat hingga Jawa Tengah pada Minggu (4/8). Beberapa daerah bahkan dikabarkan tidak teraliri listrik hingga 12 jam. Pemadaman ini terjadi karena sistem jaringan listrik 500 kV yang melewati jalur selatan dan utara tak bertegangan.
"Ada gangguan sistem 500 kV yang enggak bertegangan di jalur selatan dan utara. Jadi, supply listriknya ke arah DKI Jakarta, Banten, serta Jawa bagian barat terputus," kata Amir Rosidin, Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), saat dihubungi kumparan, Minggu (4/8).
Akibat mati listrik massal ini, sejumlah fasilitas umum mengalami gangguan. Sinyal provider telekomunikasi dan layanan perbankan juga sempat tersendat. Tak terkecuali juga layanan perhotelan di area Jawa Barat.
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani, mengatakan pemadaman listrik massal tersebut juga berimbas pada layanan perhotelan.
"Intinya yang bermasalah di hotel adalah saat tamu check out, karena sistem komunikasi dan internet ikut padam, sehingga melumpuhkan sistem pembayaran. Sedangkan, pada saat itu, kebanyakan tamu tidak membawa uang tunai yang cukup," ungkap Hariyadi kepada kumparan, Senin (5/8)
Menurut Hariyadi, kondisi tersebut terjadi merata di semua daerah yang terdampak pemadaman. Bahkan kendala pembayaran juga dirasakan perhotelan yang ada di Bandung, Jawa Barat.
"(Gangguan pembayaran) merata. Sampai Bandung," ujarnya.
Namun, Hariyadi menegaskan kejadian listrik padam tersebut tidak berdampak pada layanan utama perhotelan. Sistem penerangan, ketersediaan air, dan fasilitas perhotelan lainnya tetap berjalan normal. Sebab, menurut Hariyadi setiap hotel rata-rata sudah memiliki fasilitas genset, sehingga kejadian luar biasa kemarin bisa teratasi dengan baik.
Berkat layanan hotel yang tetap normal saat gangguan listrik ternyata justru menyisakan cerita unik. Masyarakat yang mulai kewalahan hidup tanpa listrik seharian kemarin akhirnya memutuskan untuk ‘mengungsi’ ke hotel. Hariyadi pun mengklaim beberapa hotel justru mengalami peningkatan occupancy.
"Iya, beberapa hotel yang dekat dengan perumahan mengalami kenaikan occupancy," tuturnya.
Meski demikian, Hariyadi tetap berharap kejadian mati listrik massal tersebut tidak terulang kembali. Apalagi padamnya listrik berlangsung hingga berjam-jam. Hal ini tentunya sangat merugikan konsumen, termasuk sektor perhotelan.
"Pemerintah dan PLN harus menyiapkan back up system yang tangguh dan berlapis untuk mengantisipasi kondisi seperti bencana alam (gempa, banjir) dan perang, serta serangan teroris," tandas Hariyadi.

