Kumparan Logo

Demi Bisa Terbang, Penumpang Pesawat Palsukan Hasil Tes Corona dengan Photoshop

kumparanTRAVELverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi penumpang pesawat bikin macet antrean di counter check in bandara Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penumpang pesawat bikin macet antrean di counter check in bandara Foto: Shutter Stock

Pandemi virus corona membuat sejumlah aturan tambahan untuk penumpang pesawat yang hendak melakukan penerbangan. Salah satunya dengan menyerahkan bukti negatif COVID-19 melalui hasil pemeriksaan rapid test atau PCR test.

Hal ini dilakukan untuk memastikan penumpang yang masuk ke dalam pesawat bebas COVID-19. Dengan adanya aturan yang ketat ini, banyak warga Inggris yang memalsukan laporan uji COVID-19 agar mereka bisa ikut penerbangan.

Dilansir Simpel Flying, calon penumpang yang hendak melakukan penerbangan dilaporkan membayar antara 65 hingga 195 dolar Amerika Serikat atau setara Rp 950 ribu hingga Rp 2,8 juta untuk test COVID-19 palsu. Dengan harga tersebut, sebagian orang diketahui memalsukannya dengan menggunakan photoshop untuk mendapat surat bebas COVID-19.

ilustrasi penumpang pesawat Foto: shutterstock

Menurut The Sun, beberapa penumpang telah mencari cara untuk terbang tanpa perlu menjalani tes wajib pra-penerbangan yang diwajibkan oleh pemerintah setempat. Beberapa negara telah menambahkan kriteria ini karena tingkat infeksi yang tinggi di beberapa negara, termasuk Inggris.

Namun, dengan keterampilan photoshop, mereka mudah mengubah nama pada hasil tes orang lain dan menggantinya atas nama mereka. Laporan The Sun juga menyebut, harga untuk membuat surat palsu itu berkisar antara Rp 950 ribu hingga Rp 2,8 juta tergantung pada urgensinya.

Perlu dicatat bahwa harga ini hanya berdasarkan pada akun perorangan, karena jelas ilegal untuk hasil tes dari dokter. Lantas, mengapa orang terpaksa memalsukan tes mereka?

Ilustrasi Rapid Test Corona Foto: Indra Fauzi/kumparan

Kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka melewatkan tes karena kurangnya fasilitas tes publik yang tersedia. Mereka mengungkapkan bahwa pengujian NHS hanya berlaku untuk petugas garis terdepan dan pasien yang sakit, itu berarti sebagian besar harus pergi ke lab swasta untuk menjalani tes.

Selain itu, mahalnya biaya tes di lab swasta, yakni sekitar Rp 2,8 juta atau lebih membuat calon penumpang banyak yang tidak mau membayar. Alasan lainnya menyebut bahwa kondisi mendesak yang tidak memungkinkan melakukan tes COVID-19.

Sedangkan, test COVID-19 yang akurat dapat memakan waktu beberapa hari untuk diproses yang berarti penumpang mungkin tidak memiliki banyak waktu. Hal itulah yang membuat beberapa penumpang di Inggris memutuskan untuk memalsukan hasil dengan membayar dalam jumlah besar atau melalui beberapa keterampilan photoshop agar lebih cepat.

embed from external kumparan

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).