Kumparan Logo

Desa Kemiren Banyuwangi Masuk Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia UN Tourism

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penari dalam gelaran acara Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Adat Kemiren, Kec. Glagah, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (12/10/2019). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Penari dalam gelaran acara Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Adat Kemiren, Kec. Glagah, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (12/10/2019). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Desa Wisata Adat Osing Kemiren di Kabupaten Banyuwangi resmi ditetapkan sebagai bagian dari Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia (The Best Tourism Villages Upgrade Programme 2025) yang digagas oleh United Nations Tourism, badan pariwisata di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Penghargaan prestisius ini diumumkan pada ajang Best Tourism Villages by UN Tourism 2025 Ceremony & Third Annual Network Meeting yang digelar di Huzhou, China, Jumat (17/10). Tahun ini, program tersebut diikuti lebih dari 270 desa wisata dari 65 negara anggota, dan hanya 72 desa dari berbagai belahan dunia yang berhasil terpilih.

Kunjungan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani ke kumparan, Jakarta, Rabu (7/5/2025). Foto: Syawal Febrian Darisman/kumparan

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian global ini, yang dianggap sebagai hasil nyata kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan pelaku pariwisata lokal.

“Prestasi ini adalah buah dari semangat gotong royong dan komitmen kuat masyarakat Banyuwangi, khususnya warga Kemiren, dalam melestarikan budaya serta mengembangkan pariwisata berkelanjutan,” ujar Ipuk seperti dikutip dari Antara.

Menurutnya, keberhasilan Desa Kemiren membuktikan bahwa desa dengan akar budaya yang kuat bisa maju dan mendunia tanpa kehilangan jati diri. Desa ini dikenal sebagai pusat kebudayaan suku Osing, suku asli Banyuwangi yang masih menjaga tradisi, bahasa, hingga ritual leluhur.

Daya Tarik Utama Desa Kemiren

Makanan khas Banyuwangi bernama 'Jangan Banci' yang berasal dari Desa Kemiren, kampung adat masyarakat Suku Using. Foto: kumparan

Daya tarik utama Desa Kemiren terletak pada keaslian kehidupan warganya. Mulai dari rumah-rumah adat khas Osing yang berderet di sepanjang jalan, sajian kuliner tradisional seperti sego tempong dan kopi jaran goyang, hingga pertunjukan budaya Barong Osing yang digelar rutin bagi wisatawan.

Lebih dari sekadar tempat wisata, Kemiren adalah desa hidup yang berfungsi sebagai penjaga warisan budaya. Setiap sudutnya menjadi ruang belajar tentang harmoni manusia, alam, dan tradisi.

“Desa Kemiren menunjukkan bahwa budaya bukan penghambat kemajuan, tapi kekuatan untuk melangkah ke tingkat global,” kata Ipuk.

Dalam proses seleksi, dewan ahli independen UN Tourism menilai setiap desa berdasarkan berbagai kriteria, termasuk pelestarian sumber daya alam dan budaya, keberlanjutan ekonomi, sosial, serta lingkungan. Aspek lain yang diperhitungkan adalah pengembangan pariwisata, integrasi rantai nilai lokal, tata kelola, hingga keamanan wisatawan.

Masyarakat Osing di Kemiren, Banyuwangi Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan

Desa Kemiren unggul dalam konsistensinya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan pelestarian. Program seperti homestay berbasis warga, festival adat tahunan, serta pendampingan UMKM lokal menjadi contoh konkret pengelolaan desa wisata berkelanjutan yang diakui dunia.

Dengan bergabungnya Desa Kemiren ke dalam jaringan global ini, Indonesia kembali memperkuat posisinya di kancah pariwisata dunia. Sebelumnya, sejumlah desa wisata seperti Penglipuran (Bali) dan Wae Rebo (NTT) juga pernah mendapat pengakuan dari UN Tourism.