Di Bawah Atap Raja Prailiu: Mama Renol Menenun Waktu, Menjaga Roh Leluhur Sumba
3 Desember 2025 18:09 WIB
·
waktu baca 4 menit
Di Bawah Atap Raja Prailiu: Mama Renol Menenun Waktu, Menjaga Roh Leluhur Sumba
Di Bawah Atap Raja Prailiu, Mama Renol Menenun Waktu, Menjaga Roh Leluhur Sumba kumparanTRAVEL

ADVERTISEMENT
Di jantung Sumba Timur, NTT, waktu seperti lambat berjalan. Kamis (27/11), matahari Waingapu sedang terik memeluk bumi, dan langkah kaki saya terhenti di sebuah gerbang pemisah dunia modern dengan masa lalu bernama Kampung Raja Prailiu.
ADVERTISEMENT
Desa adat ini berdiri dalam bisu. Atap-atap rumah adat (uma mbatangu) menjulang tinggi, menatap langit biru. Pemandangan di halaman rumah mereka menyajikan bebatuan megalitikum dan nisan-nisan besar yang tertanam kokoh, berdampingan dengan kehidupan sehari-hari warga.
Di sini, kematian adalah babak baru yang dirayakan dengan hormat. Ada kisah pengorbanan, keberanian, dan cinta yang diwariskan turun-temurun pada batu-batu dingin itu.
Secara geografis, Prailiu memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan kampung adat lain yang ada di pelosok bukit, Prailiu terletak di Kecamatan Kambera, hanya berjarak sekitar 15 menit dari pusat Kota Waingapu. Kemudahan akses ini membuat pariwisata di Prailiu tumbuh subur, gerbang utama wisatawan untuk memahami kosmologi Orang Sumba.
Menyusuri Prailiu bukan sekadar berwisata. kumparan menyaksikan langsung denyut nadi perekonomian Prailiu melalui lembaran benang yang dipintal oleh tangan-tangan terampil para mama di sana.
ADVERTISEMENT
Filosofi di Sehelai Kain 90 Tahun
Di kolong salah satu rumah panggung, saya bertemu Mama Renol. Ia perajin tenun sekaligus penjaga memori. Di tangannya, sehelai kain tenun bukan sekadar penutup tubuh, melainkan buku kehidupan.
Dengan mata berbinar, Mama Renol memperlihatkan harta karun keluarganya. Ada sehelai kain tenun dengan motif adat berwarna paduan merah, cokelat, dan kuning. Usianya 90 tahun dan warnanya masih terlihat tajam, tak lekang dimakan zaman.
"Warnanya tetap, karena ini asli dari warna alam. Ada di tempat khusus, tidak dipajang sembarangan," ujar Mama Renol sambil mengelus kain itu.
Kain purba itu bermotif Hinggi Wangga Kuli dan Petola Ratu.
"Wangga Kuli ini pohon kehidupan. Simbolnya berkesinambungan," jelas Mama Renol.
ADVERTISEMENT
Bagi masyarakat Sumba, setiap motif di kain tenun adalah narasi tentang hubungan segitiga yang sakral, yaitu antara manusia, alam (hewan dan tumbuhan), dan Sang Pencipta.
Warna Biru pada Kain Tenun dan Pantangan Laki-laki
Obrolan kami mengalir ke arah proses pembuatan, yang ternyata menyimpan sisi magis yang ketat. Di Prailiu, penciptaan warna biru di kain tenun adalah wilayah kekuasaan perempuan. Mama Renol menuturkan bahwa ada pantangan keras bagi laki-laki untuk terlibat dalam pewarnaan biru.
"Kalau mereka (laki-laki) terjun dalam proses itu, warna tidak akan keluar. Dia akan putih, pucat," ungkap Mama Renol.
Proses pembuatan wadah pewarnaan biru bahkan memerlukan ritual khusus yang disebut Huta Watak. Ritual ini melibatkan penyembelihan ayam untuk melihat ususnya sebagai pertanda, hingga ritual mencopot emas dan mengorek sedikit bagiannya untuk dimasukkan ke dalam wadah pewarna.
"Jika warnanya tidak jadi biru, berarti ada yang 'kurang ajar' sama tempat itu," tegas Mama Renol.
ADVERTISEMENT
Lokasi pembuatan pun dirahasiakan, jauh dari lalu lalang orang, apalagi dari laki-laki yang buang air kecil sembarangan atau wanita yang sedang haid.
Kesakralan ini dijaga demi sebuah warna biru pekat yang sempurna, resep rahasia yang dimiliki masing-masing keluarga.
Kekayaan Budaya di Atas Materi
Tradisi menenun di Kampung Raja Prailiu telah ditanamkan sejak dini. Anak-anak perempuan usia 5-7 tahun di Prailiu sudah akrab dengan benang.
"Dulu saya belajar dari motif pelepah pisang. Bentuknya lurus dan sejajar, mudah saja," tutur Mama Renol.
Mulanya mereka belajar dari motif sederhana, menenun kain lurus kecil demi uang jajan atau pulsa. Namun, tanpa sadar, jari kecil mereka merajut kelangsungan identitas suku.
Di Sumba Timur, kain adalah mata uang sosial. Dalam pesta adat, pernikahan, hingga kematian, kain menjadi alat tukar yang mengikat persaudaraan.
ADVERTISEMENT
"Kalau ada keluarga meninggal, kami bawa sarung (tenun), itu dicatat. Nanti ketika saya berduka, mereka akan datang membalas hal yang sama," cerita Mama Renol.
Sore itu, di Prailiu, di tengah bayang-bayang batu megalitikum, Mama Renol menutup perbincangan kami dengan pesan yang merangkum filosofi masyarakat Sumba.
"Kami mungkin tidak kaya dengan uang. Kami kaya dengan budaya. Harta yang kami punya hanya sementara, tapi kalau berbuat baik lewat adat, itu kekal," ujar Mama Renol.
Saya membeli dua helai kain yang ditenun oleh dua cucunya. Ada satu gelang bonus yang diberikan Mama Renol, "sebagai kenang-kenangan pernah ke sini," katanya.
Meninggalkan Prailiu, rasanya saya tidak hanya membawa pulang cerita, tetapi pelajaran berharga bahwa di tengah modernitas dan digitalisasi, masih ada orang-orang yang memilih setia menjaga waktu, merawat warisan leluhur dalam hening dan hormat.
ADVERTISEMENT
Reporter: Vincentius Mario
